Kualitas tumbuh kembang remaja

thumbnail
Tumbuh Kembang Remaja – Masa remaja adalah masa yang menegangkan sekaligus menyenangkan, masa yang juga menjadi pondasi untuk kesuksesan individu dalam hidupnya. Masa-masa tersebut adalah masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa.

Masa ini umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Mereka bertumbuh dan berkembang untuk mencapai kematangan dalam rentang hidupnya.

Tumbuh Kembang Remaja dan pengaruhnya

Masa remaja seringkali dikaitkan dengan stereotip mengenai perubahan perilaku yang tidak wajar yang mengarah pada tindakan menyimpang dari norma yang berlaku dalam tatanan kehidupan.

Stereotip tersebut semakin menguat karena banyak penyimpangan yang dimulai dari masa remaja, seperti perilaku agresif yang berimbas dari kenakalan remaja, dan pada titik ekstrim adalah penyalahgunaan obat terlarang atau seks bebas.

Munculnya kejadian tersebut karena ketidakberhasilan remaja dalam mengenali diri dan potensinya.

Perubahan peranan dan tugas perkembangan dari anak-anak menjadi remaja bisa jadi membuat remaja mengalami gejolak apabila lingkungan tidak merespon dengan tepat.

Gejolak ini apabila terus-menerus dialami, tentu akan mempengaruhi kondisi psikologis mereka. Tidak hanya pada masa remajanya tapi berimbas pada masa dewasa, seperti perilaku manja yang berlebihan, kurang bisa mengambil keputusan, tidak berani bertindak, atau komunikasi tidak lancar.

Menjadi remaja yang berkualitas

Untuk mengurangi perilaku yang kurang produktif tersebut, maka dibutuhkan kesadaran bersama pentingnya mengenali diri, baik dari remaja itu sendiri maupun dari lingkungan.

Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menjadi remaja yang berkualitas diantaranya,

1. Berpikir positif

Berpikir positif akan membantu remaja untuk selalu optimis dalam memandang hidupnya. Keoptimisan tersebut yang akan membantu remaja untuk bergerak dan berkarya dalam kualitas yang optimal sebagai remaja yang mandiri.

2. Menjalin komunikasi yang baik dengan orangtua

Peranan orangtua tidak mungkin diabaikan dalam tumbuh kembang remaja. Pola komunikasi yang sehat dengan orangtua, akan membantu remaja untuk terbuka sehingga ketika mengalami gejolak muda, para remaja tidak canggung untuk bertanya dan berdiskusi dengan orangtua. Hal tersebut akan membantu remaja untuk tetap berada jalam jalur perkembangan yang positif.

3. Mengenali potensi diri dengan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang positif

Gairah muda yang dimiliki remaja mendorongnya untuk mencoba banyak hal. Aktif dalam kegiatan yang positif, seperti olahraga, seni, atau lingkungan hidup akan membantunya menyalurkan kelebihan energi kearah positif. Kegiatan tersebut akan bertambah manfaatnya apabila dapat ditekuni menjadi hobi, kegiatan yang dilakukan dengan penuh harap.

4. Memperbanyak wawasan dengan membaca buku, browsing internet dengan tetap terbuka untuk dibahas bersama dengan orang-orang terdekat

Remaja yang berkualitas adalah remaja yang punya wawasan luas, tidak sekadar memikirkan diri pribadinya, tetapi mereka mengetahui perkembangan jaman melalui ilmu-ilmu yang dipelajari dan dibacanya.

Membaca banyak ilmu akan meningkatkan kepercayaan diri dalam berkomunikasi. Mereka menjadi remaja yang punya isi sehingga mereka bisa tampil sebagai remaja yang memiliki nilai tambah karena kepekaannya terhadap lingkungan.

Sumber : jagaddhita.org

10 pilar keluarga sakinah

thumbnail
Dunia ini bisa menjadi surga sebelum surga sebenarnya, jika kita mampu mendudukkan posisi yang tepat dalam menjalani proses hidup. Terutama dalam bingkai rumah tangga yang sedang kita jalani.

Namun, dunia ini bisa juga menjadi lubang neraka dari neraka yang sesungguhnya, jika kita tidak tepat dan cenderung salah menempatkan proses yang seharusnya.

Membangun rumah tangga harapannya selalu berpilar kepada sakinah; damai, tenang dan bahagia.

Berikut ini ada baiknya kita kenali lagi pilar keluarga sakinah.

Pertama, pagari benteng rumah tangga dengan sungguh-sungguh berpegang teguh pada Alquran dan sunnah.

Kedua, ingat bahwa tujuan utama hidup berumah tangga adalah meraih ridha Allah dan kebahagiaan di "kampung akhirat".

Ketiga, tumbuhkan saling cinta, semata karena Allah. Sehingga saat terlihat kekurangan dari pasangan kita, dipandangnya sebagai keistimewaannya. Bertambah usia pernikahan, bertambah rasa sayangnya, semakin manja dan mesra,

Keempat, bingkailah ide dan aktivitasnya sebagai ikhtiar untuk saling melayani, melindungi dan menyenangkan keluarga.

Kelima, sadari bahwa halal adalah pintu sakinah. Sehingga makan minumlah dari sesuatu dan proses yang halal.

Keenam, kekuatannya saling mendoakan di penghujung malam.

Ketujuh, minimal sepekan sekali "tarbiyyah ahliyah" pembinaan keluarga dengan duduk bersama mengaji dan mengkaji Alquran dan sunnah,

Kedelapan, segera minta maaf tatkala melakukan kesalahan.

Kesembilan, mensyukuri nikmat Allah dengan senang berbagi dan sedekah.

Kesepuluh, tawakkal yang penuh bahwa hanya Allah segala-galanya.


Penulis : Ustaz Muhammad Arifin Ilham (REPUBLIKA.CO.ID)

Teori A-B-C-D-E dalam konseling REBT

thumbnail
Bagian penting dari konseling REBT adalah teori kepribadian A-B-C. Teori ini mengacu pada tiga komponen pengalaman di mana seseorang dapat memastikan apakah sistem keyakinannya terdistorsi.

A - Activating event, adalah suatu peristiwa yang dialami seseorang.
B - Belief, keyakinan seseorang tentang kebenaran peristiwa tersebut.
C - Consequence, merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat dari keyakinan seseorang terhadap suatu peristiwa.

Pada konseling REBT, teori A-B-C dikembangkan lagi dengan penambahan D dan E.

D - Disputing, argumen terhadap keyakinan irasional
E - Effect, keadaan psikologis konseli setelah proses konseling

/A/ ACTIVATING EVENT

/A/ adalah peristiwa yang bersumber pada orang lain atau bersumber pada diri sendiri. Individu terkadang melakukan sangkaan terhadap suatu peristiwa dengan pikiran irasional (irrational belief/iB/), padahal bisa saja seseorang berfikir rasional (rational belief /rB/).

Pada konseling REBT, konselor mendorong konseli untuk berasumsi bahwa /iB/ adalah benar, meskipun kenyataannya dengan asumsi tersebut konseli menderita. Ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi penyebab konseli memiliki /iB/, kemudian mendorong konseli untuk merasa ada masalah dengan pikirannya /iB/ tersebut sehingga pemaknaan kembali terhadap / A/ dapat dilakukan.

/B/ BELIEF

/B/ merupakan keyakinan atau sistem kepercayaan, yakni komponen kognitif sebagai reaksi seseorang terhadap peristiwa. Keyakinan seseorang ini dapat berupa keyakinan yang rasional (rational belief /rB/) dan keyakinan yang tidak rasional (irrational belief /iB/), yang terbentuk secara alamiah berdasarkan evaluasi individu terhadap peristiwa.

/C/ CONSEQUENCE

/C/ adalah konsekuensi dari keyakinan irasional. Konsekuensi ini dapat meliputi aspek kognitif, perasaan, serta perilaku. Keyakinan irasional inilah yang menyebabkan hambatan-hambatan psikologis pada individu. Konsekuensi emosional ini bukan sebagai akibat langsung dari /A/, tetapi berasal dari keyakinan irasional individu terhadap peristiwa /A/ yang terus dipertahankan.

/D/ DISPUTING

/D/ merupakan konfrontasi secara langsung terhadap keyakinan irasional konseli. Konselor berusaha menarik perhatian irasional konseli dan mengkonfrontir secara kritis dengan nilai-nilai
dirinya yang paling dasar, kemudian mendorong konseli untuk mengubah pikiran irasional tersebut dengan berfikir secara rasional, dan melakukan penilaian yang lebih realistis dan adaptif dari situasi masalah yang dihadapinya.

/E/ EFFECT

/E/ adalah efek yang diharapkan terjadi setelah dilakukan intervensi oleh konselor melalui /D/. Jika pelaksanaan konseling REBT berjalan efektif, gejala-gejala kecemasan yang dialami konseli akan hilang. Konseli akan melihat situasi yang berbeda terhadap masalah yang dihadapinya. Konseli menjadi lebih realistis, berfikir rasional dan logis, fleksibel, toleran, dan mampu menerima, mengarahkan, dan menghargai dirinya sendiri.

Kondisi inilah yang akan mendorong konseli untuk memperbaiki diri dan merubah cara berfikir, persepsi, sikap, dan keyakinan konseli yang irasional dengan cara berfikir, persepsi, sikap, dan keyakinan yang rasional, sehingga konseli dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self-actualization secara optimal melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif.

Bagian 1. Teori Rational Emotive Behavior Therapy (REBT)
Bagian 2. Tujuan konseling dan peran konselor dalam REBT
Bagian 3. Teori A-B-C-D-E dalam konseling REBT

Tujuan konseling dan peran konselor dalam REBT

thumbnail
Konseling REBT bertujuan memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berfikir, keyakinan, dan pandangan-pandangan konseli yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis. Menghilangkan hambatan-hambatan psikologis yang merusak diri sendiri, seperti rasa takut, bersalah, berdosa, cemas, marah, atau khawatir. Sehingga konseli dapat mengembangkan diri dan mengaktualisasikan dirinya secara optimal melalui perilaku kognitif dan afektif yang positif dan konstruktif.

Oleh karena itu, dalam konseling dengan teknik REBT, konselor membantu konseli untuk mengenali insight yang menjadi penyebab perilaku irasionalnya. REBT membantu konseli mendapatkan tiga jenis insight.

Insight #1, konseli memahami bahwa perilaku disfungsionalnya terjadi tidak hanya karena penyebab di masa lalu, tetapi bahwa penyebab tersebut masih ada dalam pikiran konseli sampai saat ini.

Insight #2, konseli memahami bahwa apa yang menggangunya saat ini karena keyakinan irasional yang terus dipertahankannya.

Insight #3, konseli memahami bahwa tidak ada jalan lain untuk keluar dari hambatan psikologis yang dialaminya dengan cara mengamati, mendeteksi, dan melawan keyakinannya yang irasional dengan keyakinan yang rasional.

Setelah konseli mendapatkan tiga insight tersebut, kemudian konselor menunjukkan kepada konseli bahwa verbalisasi-verbalisasi diri konseli telah dan masih merupakan sumber utama dari gangguan-gangguan emosional yang dialaminya.

Konselor mendorong konseli untuk menguji secara kritis nilai-nilai dirinya yang paling dasar, sehingga memberikannya "intellectual insight", yaitu pengetahuan bahwa ia bertindak buruk dan keinginan untuk memperbaiki perilakunya. Apabila proses ini berhasil, konseli akan memperoleh "emotional insight", yaitu tekad untuk bekerja keras merubah atau reconditions terhadap perialakunya.

Dalam teknik REBT, Konselor tidak hanya membantu konseli mengatasi hambatan emosionalnya secara spesifik (yang disampaikan ke konselor), tetapi juga hambatan emosional secara umum. Proses konseling bertujuan untuk membebaskan pikiran-pikiran irasional konseli , karena pada dasarnya semua manusia adalah makhluk rasional, dan oleh karena sumber ketidakbahagiaan (gangguan emosional) adalah pikiran yang irasional, maka konseli dapat mencapai kebahagiaan dengan belajar berfikir rasional, sehingga proses konseling sebagian besar merupakan proses belajar-mengajar dan membutuhkan waktu yang panjang.

Bagian 1. Teori Rational Emotive Behavior Therapy (REBT)
Bagian 2. Tujuan konseling dan peran konselor dalam REBT
Bagian 3. Teori A-B-C-D-E dalam konseling REBT

Teori Rational Emotive Behavior Therapy (REBT)

thumbnail
Teori Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) pertama kali dikembangkan oleh Albert Ellis. Teori REBT merupakan kombinasi dari konsep humanistik, filsafat, dan terapi perilaku (behavior therapy). Pendekatan REBT merupakan salah satu pendekatan yang mengintegrasikan aspek behavioral, kognitif, serta afeksi, yang berorientasi pada membangun kognisi dan perilaku konseli yang menekankan pada berfikir, menilai, memutuskan, menganalisis, dan bertindak

Konsep dasar REBT adalah, bahwa seseorang berkontribusi terhadap munculnya problem psikologis, baik yang ditunjukkan dalam gejala-gejala yang spesifik hingga pada interpretasi terhadap suatu peristiwa atau situasi tertentu. Setiap manusia yang normal memiliki pikiran, perasaan dan perilaku yang ketiganya berlangsung secara simultan. Bahwa antara kognisi, emosi, dan perilaku memiliki hubungan yang signifikan dan bersifat resiprokal. Pola berpikir dan tindakan manusia sangat dipengaruhi oleh emosi, karena emosi merupakan hasil pemikiran manusia. Ketika manusia beremosi, mereka juga berpikir dan bertindak. Ketika mereka bertindak, mereka juga berpikir dan beremosi. Ketika mereka berpikir, mereka juga beremosi dan bertindak.

Menurut REBT, menyalahkan, baik diri sendiri maupun orang lain, merupakan inti dari hambatan-hambatan emosional yang dialami seseorang. Untuk menghilangkan hambatan-hambatan emosional tersebut seseorang harus menghentikan menyalahkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain, karena merupakan pikiran yang irasional. Sesungguhnya hambatan-hambatan emosional terjadi karena adanya pengulangan-pengulangan pikiran irasional dalam diri seseorang. Seseorang perlu belajar untuk menerima dirinya sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan ini merupakan pikiran rasional yang akan membuat seseorang menjadi efektif, produktif, dan konstruktif.

Teori A-B-C

Teori ABC merupakan bagian penting dari REBT, yang menjelaskan mengenai hubungan antara sebuah peristiwa, keyakinan terhadap peristiwa tersebut, dan konsekuensi yang timbul atas keyakinan tersebut.

/A/ – Activating event, adalah peristiwa yang dialami individu berupa fakta, peristiwa, atau sikap seseorang.

/B/ - Beliefs, adalah keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri seseorang terhadap suatu peristiwa. Keyakinan ini dapat berupa keyakinan yang rasional (rational belief /rB/) atau keyakinan yang tidak rasional (irrational belief /iB/). Keyakinan yang rasional merupakan cara berfikir yang masuk akal, tepat, dan bijaksana, sehingga menjadi produktif dan konstruktif. Sebaliknya, keyakinan irasional adalah cara berfikir yang salah, tidak logis, atau emosional, yang berakibat tidak produktif dan destruktif.

/C/ - Consequences, adalah konsekuensi emosional atau hambatan-hambatan emosional sebagai akibat dari keyakinan yang irasional. Dapat berupa kognitif, perasaan, serta perilaku.

Secara sederhana konsep teori ABC adalah, bahwa hambatan-hambatan emosional yang dialami seseorang (Consequences) bukan sebagai akibat langsung dari peristiwa yang dialaminya (Activating event), melainkan disebabkan oleh keyakinan-keyakinan terhadap peristiwa-peristiwa yang dialaminya tersebut (Beliefs).

Sebagai contoh, seseorang yang mengalami hambatan emosional karena kasus perceraian. Ia merasa perceraian itu terjadi akibat kesalahan-kesalahannya, sehingga ia merasa malu, menjadi orang yang tidak berharga dan patut menderita karena tidak mampu mempertahankan kehidupan rumahtangganya. Perasaan malu, tidak berharga, dan patut menderita (Concequences) bukan merupakan akibat langsung dari peristiwa perceraian (Activating event), tetapi sebagai akibat dari keyakinannya bahwa perceraian itu terjadi karena kesalahan-kesalahan yang dilakukannya, sehingga ia menyalahkan dirinya sendiri (Beliefs).

Hakekat manusia dan perilaku individu bermasalah

Menurut padangan teori REBT, bahwa manusia sejak lahir memiliki potensi untuk berfikir rasional dan irasional. Manusia mempunyai potensi untuk mengembangkan diri, berbahagia, berfikir dan berpendapat, bekerja sama dengan orang lain. Namun pada sisi lain, manusia juga memiliki potensi untuk menghancurkan atau merusak diri sendiri, mengingkari pikiran-pikirannya, intoleran (tidak toleran), menolak realitas. Dan, manusia pun mermiliki kecenderungan untuk terpaku pada pola-pola tingkah laku lama yang disfungsional dan mencari berbagai cara untuk terlibat dalam sabotase diri.

Ketika seseorang berfikir dan berperilaku rasional, maka ia akan hidup efektif dan bahagia. Sebaliknya, jika seseorang berfikir dan berperilaku irasional, maka ia akan menjadi tidak efektif dan tidak bahagia. Hambatan psikologis terjadi sebagai akibat dari cara berfikir yang irasional dan tidak logis. Jadi, perilaku bermasalah adalah perilaku yang didasarkan pada cara berfikir yang irasional, yang tidak dapat dibuktikan. Perilaku irasional ini akan berakibat pada munculnya kecemasan, kekhawatiran, dan prasangka, sehingga akan menghalangi individu untuk berkembang secara efektif dalam kehidupan sehari-hari.

Seseorang tidak mampu berfikir secara rasional dikarenakan ia tidak berfikir jelas tentang keadaan saat ini dan yang akan datang, antara realitas dan imajinasi. Tidak mandiri selalu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain. Berfikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari pengalamannya dalam keluarga, orang tua, dan budaya tempat individu dibesarkan. Berfikir irasional akan tercermin dari verbalisasi yang dipergunakan. Verbalisasi yang tidak logis mencerminkan cara berfikir yang salah, sebaliknya, verbalisasi yang tepat mencerminkan cara berfikir yang tepat.

Bagian 1. Teori Rational Emotive Behavior Therapy (REBT)
Bagian 2. Tujuan konseling dan peran konselor dalam REBT
Bagian 3. Teori A-B-C-D-E dalam konseling REBT

Bullying di sekolah, pencegahan dan penanggulangannya

thumbnail
Bullying merupakan suatu kejadian yang seringkali tidak terhindarkan terutama di sekolah. Bullying adalah penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok, suatu perilaku mengancam, menindas dan membuat perasaan orang lain tidak nyaman. Seseorang yang bisa dikatakan menjadi korban apabila dia diperlakukan negatif (secara sengaja membuat luka atau ketidak nyamanan melalui kontak fisik, melalui perkataan atau dengan cara lain) dengan jangka waktu sekali atau berkali-kali bahkan sering atau menjadi sebuah pola oleh seseorang atau lebih.

Bullying seringkali terlihat sebagai bentuk-bentuk perilaku berupa pemaksaan atau usaha menyakiti secara fisik maupun psikologis terhadap seseorang atau kelompok yang lebih ‘lemah’ oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempersepsikan dirinya lebih ‘kuat’. Perbuatan pemaksaan atau menyakiti ini terjadi di dalam sebuah kelompok misalnya kelompok siswa satu sekolah.

Contoh perilaku bullying

Kontak fisik langsung (meminta dengan paksa apa yang bukan miliknya, memukul, menampar, mendorong, menggigit, menarik rambut, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain, pelecehan seksual).

Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip).

Perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya diertai oleh bullying fisik atau verbal).

Perilaku non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).

Bullying tidak selalu berlangsung dengan cara berhadapan muka tapi dapat juga berlangsung di belakang teman. Pada siswa, mereka menikmati saat memanggil temannya dengan sebutan yang jelek, meminta uang atau makanan dengan paksa atau menakut-nakuti siswa yang lebih muda usianya. Sementara siswi melakukan tindakan memisahkan rekannya dari kelompok serta tindakan lainnya yang bertujuan menyisihkan individu lainnya dari grup, dan peristiwanya, sangat mungkin terjadi berulang.

Pelaku bullying mulai dari; teman, kakak kelas, adik kelas, guru, hingga preman yang ada di sekitar sekolah. Lokasi kejadiannya, mulai dari; ruang kelas, toilet, kantin, halaman, pintu gerbang, bahkan di luar pagar sekolah.

Dampak perilaku bullying

Tidak semua korban akan menjadi pendukung bullying, namun yang paling memprihatinkan adalah korban-korban yang kesulitan untuk keluar dari lingkaran kekerasan ini. Mereka merasa tertekan dan trauma sehingga mempersepsikan dirinya selalu sebagai pihak yang lemah, yang tidak berdaya, padahal mereka juga asset bangsa yang pasti memiliki kelebihan-kelebihan lain.

Bagaimana anak bisa belajar kalau dia dalam keadaan tertekan? Bagaimana bisa berhasil kalau ada yang mengancam dan memukulnya setiap hari? Sehingga amat wajar jika dikatakan bahwa bullying sangat mengganggu proses belajar mengajar.

Bullying ternyata tidak hanya memberi dampak negatif pada korban, melainkan juga pada para pelaku. Bullying, dari berbagai penelitian, ternyata berhubungan dengan meningkatnya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai akademik, dan tindakan bunuh diri. Bullying juga menurunkan skor tes kecerdasan dan kemampuan analisis para siswa. Para pelaku bullying berpotensi tumbuh sebagai pelaku kriminal, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak melakukan bullying.

Bagi si korban biasanya akan merasakan banyak emosi negatif (marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam) namun tidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga.

Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial juga muncul pada para korban. Mereka ingin pindah ke sekolah lain atau keluar dari sekolah itu, dan kalaupun mereka masih berada di sekolah itu, mereka biasanya terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah.Yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban bullying, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri,

Pencegahan dan penanggulangan perilaku bullying

Semua orang bisa menjadi korban atau malah menjadi pelaku bullying. Diperlukan Kebijakan menyeluruh yang melibatkan seluruh komponen sekolah mulai dari guru, siswa, kepala sekolah sampai orang tua murid, yang tujuannya adalah untuk dapat menyadarkan seluruh komponen sekolah tadi tentang bahaya terselubung dari perilaku bullying ini.

Kebijakan tersebut dapat berupa program anti bullying di sekolah antara lain dengan cara menggiatkan pengawasan, pemahaman konsekuensi serta komunikasi yang bisa dilakukan efektif antara lain dengan Kampaye Stop Bullying di Lingkungan sekolah dengan sepanduk, slogan, stiker dan workshop bertemakan stop bulying. Kesemuanya ini dilakukan dengan tujuan paling tidak dapat meminimalisir atau bahkan meniadakan sama sekali perilaku bullying di sekolah.

Diharapkan dengan adanya kebijakan itu sekolah bukan lagi tempat yang menakutkan dan membuat trauma tapi justru menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi siswa, merangsang keinginan untuk belajar, bersosialisasi dan mengembangkan semua potensi siswa baik akademik, sosial ataupun emosinal. Sekolah dapat menjadi tempat yang paling aman bagi anak serta guru untuk belajar dan mengajar serta serta menjadikan anak didik yang mandiri, berilmu, berprestasi dan berakhlak mulia. Bukan malah sebaliknya mencetak siswa-siswa yang siap pakai menjadi tukang jagal dan preman.

Sumber : www.indonesiaindonesia.com

Faktor penyebab anak merokok dan pencegahannya

thumbnail
Psikolog dari Universitas Pancasila Aully Grashinta mengatakan setidaknya ada empat faktor yang bikin anak merokok atau jadi perokok.

Pertama, orangtua

Anak yang orangtuanya merokok, kata Aully, akan lebih mudah belajar merokok ketimbang anak yang orangtuanya bukan perokok.

“Pada dasarnya, manusia belajar dari lingkungan, anak-anak melakukan modelling,” kata Aully di Jakarta, seperti dikutip Antara hari ini.

Kedua, orang merokok di lingkungan

Sama seperti faktor pertama, orang-orang yang merokok di lingkungan si anak akan menjadi contoh sehingga anak akan mencoba merokok dan akhirnya menjadi perokok.

Ketiga, tekanan teman atau pergaulan

Anak-anak, kata Aully, akan semakin mudah terpengaruh untuk merokok bila bergaul dengan anak-anak perokok dan menganggap merokok itu keren.

Keempat, iklan rokok

Meskipun iklan rokok di media massa tidak menampilkan bentuk dan aktivitas merokok, yang dimunculkan dalam iklan adalah hal-hal yang dianggap keren oleh anak. “Anak-anak jelas akan terpengaruh dan terdorong untuk merokok,” tuturnya.

Anak-anak yang melihat iklan, yang menampilkan citra positif dan dianggap keren oleh anak-anak, akan terpengaruh kemudian menginginkan barang yang diiklankan. "Orang dewasa mungkin akan berpikir dan menimbang-nimbang manfaat suatu barang yang diiklankan. Hal berbeda terjadi pada anak-anak," katanya.

Lalu, apa tips bagi orangtua supaya anak tak tumbuh menjadi perokok? Aully menyarankan orangtua harus menciptakan lingkungan yang bebas rokok.

Sumber : CNN Indonesia Student

Tips mencegah anak menjadi korban cyberbullying

thumbnail
Bullying tak hanya terjadi secara fisik atau muka ketemu muka. Tak jarang bullying terjadi melalui dunia maya, atau kerap disebut cyberbullying.

Bullying semacam ini bisa terjadi lewat jaringan pesan instan, video game online, atau media sosial. Lantaran kerap kali tak terdeteksi langsung, ada yang bilang cyberbullying ini lebih berbahaya.

Studi mendapati 1 dari 3 anak di Amerika Serikat mengaku telah menjadi korban cyberbullying. Di Indonesia, penelitian dari UNICEF dan Kementerian Komunikasi dan Informasi mendapati 1 dari 8 pengguna internet menjadi korban cyberbullying.

Bentuk cyberbullying ini macam-macam. Ada yang berupa pesan singkat yang menghina perasaan orang lain, atau penyebaran isu yang tak benar mengenai korban di internet.

Efeknya berbahaya. Ketika sampai stres atau depresi, ada anak yang memilih bunuh diri karenanya.

Sebetulnya ada langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan orangtua dan anak-anak agar terhindar dari cyberbullying, yaitu:
  • Orangtua secara teratur atau sering, berdiskusilah dengan anak mengenai keamanan internet.
  • Orangtua bikin aturan mendasar penggunaan internet, situs mana yang boleh dan tak boleh digunakan.
  • Anak harus segera memberitahu orang dewasa yang mereka percayai begitu menerima bullying.
  • Kalau anak menjadi korban, tak usah merespons atau membalas pelaku. Simpan bukti-bukti yang ada dan laporkan.
  • Gunakan password yang sangat kuat untuk melindungi akun-akunmu di dunia maya. Macam akun media sosial, blog, dan sebagainya.
  • Jangan bagikan informasi pribadi yang sangat mendetail ke situs tak jelas.
  • Hati-hatilah mengklik link tak jelas, yang kemungkinan bermaksud untuk mencuri data pribadimu.

Sumber : CNN Indonesia Student