Optimisme dalam kesulitan

thumbnail
Walau sulit, tetap optimistis. Inilah salah satu teladan yang melekat pada diri Rasulullah. Nilai ini pula yang beliau tanamkan kepada para sahabat dan umatnya.

Sikap optimistis memang sangat dibutuhkan. Sebab, hidup di dunia hanya mengenal dua keadaan, yaitu susah dan senang. Keduanya silih berganti mengisi hari-hari kita dalam hidup ini. Dua keadaan ini akan menjadi batu ujian bagi setiap manusia. Lulus atau tidak, bergantung pada bagaimana menyikapinya.

Dalam kondisi senang, optimistis bukanlah sesuatu yang berat. Namun, dalam situasi sulit, terkadang tidak mudah menghadirkannya. Sebab, yang selalu terbayang adalah hal-hal yang buruk. Padahal, untuk bisa lulus dan bangkit dari keterpurukan, modalnya adalah optimistis.

Itulah sebabnya Rasulullah begitu gigih dalam menanamkan nilai yang satu ini. Dalam salah satu hadis, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, "Tidak ada perasaan buruk dan kesialan, dan yang lebih baik dari itu adalah rasa optimistis." Maka ditanyakanlah kepada beliau, "Apa yang dimaksud dengan rasa optimistis?" Beliau bersabda, "Yaitu kalimat baik yang sering didengar oleh salah seorang dari kalian." (HR Ahmad).

Beberapa peristiwa dalam sejarah menunjukkan sikap optimistis Rasulullah SAW yang tidak pernah redup. Kala berdakwah di Makkah, penolakan dan ancaman adalah menu yang selalu beliau cicipi setiap hari. Namun, beliau tetap melangkah. Hingga akhirnya beliau memilih untuk pergi ke Thaif dan menyebarkan dakwah Islam di sana.

Namun, apa yang terjadi? Penolakan penduduk Kota Thaif tak jauh berbeda dengan warga Makkah. Di situlah tampak jelas betapa tinggi optimisme beliau. Saat dua malaikat menawarkan menimpakan dua gunung besar kepada penduduk Thaif, kalimat indah meluncur dari lisan beliau, "Jangan, semoga lahir dari keturunan mereka yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya." (HR Bukhari).

Sikap optimistis adalah warisan berharga para nabi. Hampir setiap nabi pernah berhadapan dengan situasi yang sangat sulit. Namun, tak seorang pun di antara mereka yang menunjukkan sikap pesimistis, apalagi sampai meninggalkan tugas yang mereka emban. Mereka tetap melangkah dengan penuh keyakinan Allah akan membantu.

Kisah Nabi Musa salah satu contohnya. Saat berada dalam kejaran Firaun, setelah berlari cukup jauh, ia dan umatnya harus berhadapan dengan lautan yang luas. Rasa cemas menggelayuti umatnya. Bahkan, ada yang mengatakan, "Sungguh Firaun pasti akan mendapati kita." (QS as-Syu'ara: 61). Namun, dengan penuh optimisme, "Musa mengatakan, sekali-kali tidak, sesungguhnya Tuhanku bersamaku yang akan memberikan petunjuk kepadaku." (QS as-Syu'ara: 62).

Optimistis adalah ajaran ilahi. Sumber dan asal usulnya adalah berbaik sangka kepada Allah, kepada takdir dan ketentuan-Nya. Ibnu Hajar al-Asqolani berkata, "Sesungguhnya Rasulullah menyukai optimisme karena pesimisme adalah buruk sangka kepada Allah dan optimisme adalah berbaik sangka kepada-Nya." (Fathul Bari).

Tumbuhnya sikap optimistis berkaitan erat dengan keimanan, terutama iman kepada takdir, yaitu mengimani bahwa setiap ketetapan Allah selalu mengandung hikmah dan kebaikan.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita sikap optimistis. Amin.

Penulis : Ahmad Rifai - republika.co.id

7 Indikator Kebahagiaan Dunia

thumbnail
Siapa yang tidak ingin hidup bahagia? Bukan hanya sekadar bahagia di dunia, tapi yang lebih penting lagi adalah bahagia di akhirat. Itulah doa seorang Muslim, setiap selesai shalat, “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebahagiaan hidup di dunia, dan kebahagiaan hidup di akhirat, dan lindungilah kami dari azab api neraka.”

Terkait dengan hidup bahagia itu, Ibnu Abbas ra menjelaskan, ada tujuh indikator kebahagiaan di dunia.

Pertama, qolbun syakirun, hati yang selalu bersyukur. Artinya selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress. Inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur.

Kedua, al azwaju sholiha, pasangan hidup yang saleh/salehah. Pasangan hidup yang saleh/salehah akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sakinah, mawaddah warohmah (tenang, penuh cinta dan kasih sayang).

Ketiga, al aulaadul abror, anak yang saleh/salehah, Doa anak yang saleh/salehah untuk orang tuanya akan dikabulkan Allah SWT. Berbahagialah orang tua yang memiliki anak saleh/salehah.

Keempat, al biatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita. Rasulullah SAW menganjurkan untuk bergaul dengan orang-orang saleh/salehah yang selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan bila kita salah.

Kelima, al maalul halal, harta yang halal. Bukan banyaknya harta tapi halalnya harta yang dimiliki. Harta yang halal akan menjauhkan setan dari hati. Hati menjadi bersih, suci dan kokoh sehingga memberi ketenangan dalam hidup. Berbahagialah orang yang selalu menjaga kehalalan hartanya dengan teliti.

Keenam, tafaqquh fid dien, semangat untuk memahami agama. Dengan belajar ilmu agama, akan semakin cinta kepada agama dan semakin tinggi cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.

Ketujuh, umur yang berkah. Yakni, umur yang semakin tua semakin saleh. Setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Semakin tua semakin rindu untuk bertemu dengan Allah SWT Sang Maha Pencipta. Inilah semangat hidup orang-orang yang berkah umurnya. Berbahagialah orang-orang yang umurnya berkah.

Semoga Allah karuniakan kepada kita tujuh indikator kebahagiaan hidup di dunia, sehingga hidup kita bahagia, tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Aamiin.

Penulis : Ustaz Saefullah MA (republika.id)

Jiwa guru yang utuh sebagai pengajar

thumbnail
Setiap guru adalah manusia, tetapi tidak semua manusia memilih peran menjadi guru. Manusia memiliki fitrah dan kecenderungan untuk menjadi orang baik atau orang jahat. Baik atau jahatnya perilaku seorang guru sangat ditentukan oleh jiwa dan hatinya. Jiwa (an-nafs) adalah wujud atau dirinya, sedangkan hati (qalb) adalah sifat dari jiwa.

Ilmu menjadi guru bisa diwariskan dari para pengajar. Ilmu menjadi guru yang terampil mengajar bisa didapatkan di ruang-ruang perkuliahan, acara seminar, dan pelatihan guru. Namun, hanya ada satu cara agar guru memiliki jiwa yang utuh sebagai pengajar dan pendidik: bersihkan jiwanya dari sifat-sifat buruk.

Abu Sangkan dalam bukunya yang berjudul Berguru Kepada Allah (2008) menjelaskan makna an-nafs. An-nafs artinya 'diri'. Nafs ammarah bissu' (diri yang buruk), nafs lawwamah (diri yang menyesal), dan an-nafs muthmainnah (diri yang tenang). Semua sifat itu terdapat pada diri (an-nafs).

Diri yang labil dengan kecenderungan terhadap sifat-sifat itulah yang dinamakan qalb (diri) yang terombang-ambing, sedangkan Allah memanggil kepada diri yang tenang dan jernih (muthmainnah) dalam firman-Nya, "Wahai diri (jiwa/nafs) yang tenang, datanglah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai oleh-Nya." (QS al-Fajr: 27-28).

Tak ada seorang guru pun yang mampu membersihkan hatinya dari perbuatan dosa. Karena setan memiliki segala tipu muslihat untuk menjerumuskan guru agar berbuat keji dan mungkar. Firman Allah SWT, "Dia berkata (setan) karena Engkau telah menghukumku tersesat, sungguh akan kutahan untuk mereka (manusia) itu dari jalan-Mu yang lurus, kemudian akan kuserang mereka dari muka, belakang, kanan, dan kiri mereka ...." (QS al-A'raf: 16-17).

Meski demikian, setiap guru mesti menyadari bahwa dalam jiwa manusia terdapat fitrah dari Allah SWT untuk mengetahui hal baik dan buruk serta mampu membedakan benar dan salah. Ibnu Taimiyah menyebutnya sebagai fitrah yang diturunkan. Fitrah ini tak dapat muncul begitu saja. Setiap guru harus berjuang mengembangkan potensi fitrah itu dengan jalan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Jiwa adalah hal esensial bagi guru. Tanpa jiwa yang tulus dan suci, mustahil melahirkan visi hidup yang jelas tentang pilihan hidup menjadi guru. Tanpa jiwa yang menyesali perbuatan dosa, sulit bagi guru mengendalikan hawa nafsu. Tanpa jiwa yang tenang, susahnya menjadi guru yang konsisten melakukan perbuatan baik dan bermanfaat bagi orang lain.

Menjadi sosok guru dengan jiwa yang baik adalah bicara soal kemauan, bukan kemampuan. Siapa yang mau dan sungguh-sungguh untuk berpasrah diri dan menghambakan dirinya kepada Allah SWT, jadilah dia sosok guru yang berlimpah keteladanan. Bukan semata karena dirinya yang hebat, tetapi karena Allah ridha dan melindungi dirinya dari segala keburukan niat, kata, dan perbuatan diri (QS Shad: 82-83). Wallahu a'lam bishawab.

Penulis : Asep Sapaat - republika.co.id

Tahapan proses penelitian tindakan kelas

thumbnail
Tahap 1: Menyusun Rancangan Tindakan (Planning)

Pada tahapan ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan.

Penelitian tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan. Kerjasama ini disebut dengan penelitian kolaborasi.

Cara ini dikatakan ideal karena adanya upaya untuk mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan amatan yang dilakukan, karena pengamatan yang diarahkan pada diri sendiri biasanya kurang teliti karena adanya unsur subjektivitas yang berpengaruh, yaitu cenderung mengunggulkan dirinya. Apabila pengamatan dilakukan oleh orang lain, pengamatannya lebih cermat dan hasilnya akan lebih objektif.

Dalam tahap menyusun rancangan, peneliti menentukan titik atau fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk membantu peneliti merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung.

Apabila yang digunakan dalam penelitian ini bentuk terpisah, maka peneliti dan pelaksana harus melakukan kesepakatan antara keduanya. Pemilihan strategi layanan disesuaikan dengan selera dan kepentingan guru dan peneliti, agar pelaksanaan tindakan dapat terjadi secara wajar, realistis, dan dapat dikelola dengan mudah.

Tahap 2: Pelaksanaan Tindakan (Acting)

Tahap kedua dari penelitian tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan dikelas.

Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap kedua ini pelaksana peneliti/guru BK harus ingat dan berusaha mentaati apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak dibuat-buat.

Tahap 3: Pengamatan (Observing)

Tahap ketiga, yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Sebetulnya sedikit kurang tepat kalau pengamatan ini dipisahkan dengan pelaksanaan tindakan karena seharusnya pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan, karena keduanya berlangsung dalam waktu yang sama.

Sebutan tahap kedua diberikan untuk memberikan peluang kepada guru sebagai pelaksana penelitian yang juga berstatus sebagai pengamat. Ketika guru tersebut sedang melakukan tindakan, karena berkonsentrasi pada kegiatan yang dilakukan, tentu tidak sempat menganalisis peristiwa yang sedang terjadi.

Oleh karena itu, guru pelaksana yang berstatus sebagai pengamat agar melakukan “pengamatan balik” terhadap apa yang terjadi ketika tindakan berlangsung. Sambil melakukan pengamatan balik ini, guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus berikutnya.

Tahap 4: Refleksi (Reflecting)

Tahap keempat merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Istilah refleksi berasal dari kata bahasa Inggris reflection, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pemantulan.

Kegiatan refleksi ini sangat tepat dilakukan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan.

Dalam hal ini, guru pelaksana tindakan (peneliti) sedang memantulkan pengalamannya pada guru lain yang baru mengamati kegiatannya dalam tindakan. Inilah inti dari penelitian tindakan, yaitu ketika guru pelaksana tindakan siap mengatakan kepada pengamat tentang hal-hal yang dirasakan, kegiatan yang sudah berjalan baik dan bagian mana yang belum.

Apabila guru pelaksana tindakan juga berstatus sebagai pengamat, yaitu mengamati apa yang dilakukan, maka refleksi dilakukan terhadap diri sendiri. Dengan kata lain, guru tersebut melihat dirinya kembali, melakukan “dialog” untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan memuaskan karena sudah sesuai dengan rancangan dan hal-hal yang masih perlu diperbaiki.

Berikut diagram tahapan proses penelitian tindakan

Tahapan proses penelitian tindakan kelas

Sumber : Modul Guru Pembelajar Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2016

Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

thumbnail
Penelitian tindakan dapat didefinisikan tindakan sebagai suatu bentuk penelitian refleksi diri yang dilakukan oleh guru dalam situasi sosial untuk meningkatkan praktik pendidikan dan praktik sosial, serta pemahaman terhadap praktik-praktik pendidikan dan situasi tempat praktik-praktik tersebut.

Penelitian tindakan merupakan penerapan penemuan fakta pada pemecahan masalah dalam situasi sosial dengan pandangan untuk meningkatkan kualitas tindakan yang dilakukan, melibatkan kolaborasi dan kerjasama para peneliti dan juga praktisi.

Penelitian tindakan dilakukan dengan mengumpulkan data secara sistematik tentang praktik keseharian dan menganalisisnya untuk dapat membuat keputusan-keputusan tentang praktik yang seharusnya dilakukan di masa mendatang.

Penelitian tindakan berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan profesi dengan mempelajari situasi nyata sekolah dengan suatu tinjauan untuk meningkatkan kualitas tindakan dan hasil nyata yang diperoleh.

Ini berarti bahwa, penelitian tindakan dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas praktik dalam berbagai situasi kehidupan nyata, misalnya situasi pelatihan, pembimbingan, konsultasi, pengajaran, pengembangan kurikulum, pengambilan keputusan, dan praktik manajemen kelas, yang sangat sarat dengan nilai-nilai yang dipegang oleh pengelola sekolah.

Untuk mencapai tujuan ini, penelitian sekaligus melibatkan semua pihak yang berkepentingan dari proses permulaan sampai selesai kegiatan penelitian.

Penelitian tindakan dapat dilakukan oleh kepala sekolah, guru mata pelajaran, atau guru bimbingan dan konseling di sekolah itu sendiri, karena dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di sekolah dan/atau di kelas, dengan tujuan untuk meningkatkan praktik tertentu dalam situasi kerja tertentu.

Terdapat dua komponen unik dari penelitian tindakan, yakni hubungan antara peneliti dan hasil penelitian tindakan, dapat dikatakan bahwa; (a) hasil penelitian tindakan dimanfaatkan sendiri oleh penelitinya, dan tentu saja oleh orang lain yang menginginkannya, dan (b) penelitian yang dilakukan terjadi di dalam situasi nyata yang pemecahan masalahnya segera diperlukan, dan hasil-hasilnya langsung diterapkan atau dipraktikkan dalam situasi terkait.

Selain itu, tampak pula bahwa dalam penelitian tindakan peneliti melakukan pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan. Peneliti tindakan melakukan semuanya sendiri bahkan didukung dengan kolaborasi dengan peneliti lainnya. Oleh karena itu, untuk menjamin agar penelitian tindakan berlangsung sesuai dengan fungsinya, kegiatan ini dilaksanakan sesuai dengan asas-asas yang sesuai.

Terdapat enam asas yang mengarahkan pelaksanaan penelitian tindakan, yaitu: (1) kritik reflektif; (2) kritik dialektis; (3) sumber daya kolaboratif; (4) resiko; (5) struktur majemuk; dan (6) teori, praktik, dan transformasi.

Banyak ahli yang mengemukakan model penelitian tindakan dengan bagan yang berbeda, namun secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilaksanakan, yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi.

Adapun model dan penjelasan dari masing-masing tahapan adalah sebagai berikut :

Alur Penelitian Tindakan

Penelitian tindakan dilakukan melalui beberapa siklus, yaitu satu putaran kegiatan sistematis, yang kembali ke langkah semula. Satu siklus adalah dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan refleksi, yang tidak lain adalah evaluasi.

Jangka waktu untuk satu siklus tergantung dari materi yang diberikan dengan cara tertentu. Apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan hambatan dari tindakan yang dilaksanakan dalam satu siklus, guru pelaksana tindakan (bersama pengamat) menentukan rancangan untuk siklus kedua. Begitu seterusnya sampai medapatkan hasil yang diharapkan.

Tidak ada batasan untuk berapa jumlah pertemuan dalam satu sikus, atau berapa siklus yang dibutuhkan dalam penelitian tindakan. Hal ini tergantung pada cakupan materi dan hasil yang diharapkan. Hal penting yang harus mendapatkan perhatian bagi peneliti penilaian adalah, perencanaan siklus lanjutan harus didasarkan hasil refleksi siklus sebelumnya.

Sumber : Modul Guru Pembelajar Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2016

Tips memilih sekolah berasrama (boarding school)

thumbnail
Sekolah berasrama atau boarding school menawarkan lingkungan belajar 24 jam untuk siswa. Ini memberi anak kesempatan fokus belajar dan melakukan hal-hal baru lebih dari apa yang mereka bayangkan. Pilihan sekolah berasrama yang tepat bertujuan memastikan anak Anda mendapat pengalaman terbaik dan program pendidikan sesuai kebutuhan. Berikut tujuh pertimbangan ketika Anda memilih sekolah berasrama untuk anak, dilansir dari Womanitely, Jumat (20/10).

1. Ukuran asrama

Apakah Anda ingin asrama besar atau kecil? Apapun pilihan yang diambil, ada kelebihan menyertainya. Misalnya, asrama besar menawarkan kesempatan anak Anda bertemu lebih banyak orang, sementara asrama kecil membuat guru bisa lebih memperhatikan kebutuhan setiap siswa. Pertimbangkan tujuan Anda saat membuat pilihan berkenaan dengan ukuran asrama.

2. Asrama campur atau terpisah

Di negara-negara maju orang tua mungkin lebih memilih asrama campur di mana anak laki-laki dan perempuan belajar satu sama lain. Namun, di masyarakat seperti Indonesia, mayoritas orang tua akan memilih asrama terpisah antara laki-laki dan perempuan. Pilihan itu bergantung pada tujuan Anda.

3. Asrama pesantren

Beberapa sekolah menekankan pendidikan agama berkonsep pesantren di asrama. Di sini anak menerima pendidikan agama yang lebih untuk membentuk karakter mereka. Anda juga mungkin ingin memeriksa apakah ajaran agama di sekolahnya sesuai dengan keyakinan Anda atau tidak.

4. Minat khusus

Anak Anda mungkin ahli di bidang olah raga atau seni tertentu. Beberapa sekolah menyediakan asrama berdasarkan minat dan kemampuan khusus si anak. Ini membantu mereka mengembangkan potensi diri. Selain itu, asrama yang disusun berdasarkan minat menawarkan anak kesempatan berinteraksi dengan teman-teman sehobi.

5. Kebutuhan khusus

Anak Anda mungkin anak berkebutuhan khusus. Tentu saja Anda memilih asrama dan sekolah dengan kurikulum dan fasilitas berbeda sesuai kemampuan buah hati. Sekolah dengan kurikulum khusus membantu anak-anak berkebutuhan khusus tetap bisa menjalankan kehidupan normal dan menyadari potensi mereka meski cacat secara fisik atau mental.

6. Asrama militer

Ada juga asrama yang menerapkan prinsip-prinsip militer dalam kesehariannya. Ini biasanya untuk sekolah militer atau calon taruna. Tujuannya menanaman nilai disiplin, kerja tim, dan terstruktur. Jika menurut Anda anak Anda bisa lebih baik di lingkungan pendidikan yang terstruktur seperti sekolah militer ini, maka ini menjadi pilihan terbaik.

7. Ajukan pertanyaan pada diri sendiri

Sebelum Anda membuat keputusan akhir, tanyakan pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan berikut. Apa sekolah tersebut sudah diakreditasi oleh instansi pemerintah atau lembaga berwenang? Apa akomodasi yang ditawarkan di asrama, misalnya kamar pribadi atau sekamar bersama beberapa anak? Jika anak sakit, bagaimana perawatannya? Apa saja fasilitas rekreatif yang tersedia di asrama? Apakah ada kegiatan luar sekolah yang ditawarkan asrama? Jika ya, apa saja aktivitasnya?

Dengan pertimbangan ini, Anda mungkin lebih mudah memilih asrama dan sekolah yang sesuai kebutuhan anak. Tak pelu ragu mengunjungi beberapa sekolah sebelum mengambil keputusan, sebab ini untuk masa depan anak. Setiap orang tua hanya menginginkan yang terbaik untuk anaknya.

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID

Komunikasi keluarga penting bagi korban bullying

thumbnail
Beberapa korban perundungan atau bullying dinilai cenderung pendiam dan enggan bersosialisasi di lingkungan sekitar. Bahkan tak jarang mereka ini ketika di rumah pun tidak terbuka dengan orang tuanya.

Praktisi Psikologi Islam M Soleh menjelaskan, jika seorang anak menjadi pendiam di rumah maupun di lingkungan sekitar, ini akan menjadi tekanan tersendiri bagi anak. Apalagi jika ia menjadi korban perundungan di lingkungan tempat ia melakukan aktivitas sehari-hari.

"Kalau tidak ada yang bisa diajak interaksi, anak jadi tidak ada yang bisa bantu. Sementara, orang tua seharusnya menjadi tempat mengadu satu-satunya, jika anak tidak bisa beradaptasi memiliki teman," kata dia saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (26/7) sore.

Menurutnya jika anak sampai menjadi pendiam juga dalam keluarga, pasti ada kesalahan dalam komunikasi keluarga anak. Anak harus dibuat nyaman dulu dengan orang tua, baru anak mau cerita.

"Karena terkadang, maaf ya, orang tua juga sibuk sendiri. Padahal harusnya anak itu curhat apapun pada orang tua mereka dan membantu berikan solusi. Anak saya juga dulu pernah dipukulin kakak kelasnya, tapi langsung saya datangi kepala sekolah, intinya langsung saya tindak lanjuti. Dan langsung berhenti bully itu," ujar dia.

Perundungan, menurutnya, sudah terjadi sejak zaman dulu hingga sekarang. Salah satu yang baru baru saja menjadi sorotan adalah kasus perundungan di Universitas Gunadarma. Soleh menilai para pelaku perundungan itu belum mendapat nilai-nilai hidup yang benar dan lurus. Bagi para pelaku, orang akan suka dengan mereka, ketika mereka bisa hebat mengganggu orang lain, dan ditertawakan oleh orang banyak.

Sementara untuk kasus bullying lain yang diketahui dilakukan sejumlah siswa-siswi SMPN di Jakarta menurutnya bisa disebabkan banyak faktor. Apalagi yang mengawali perundungan adalah perempuan. "Saya lihat, mungkin mereka meniru apa yang ada di depan dia. Mungkin orang tuanya suka melakukan kekerasan. Atau mereka nonton atau bermain game," papar Soleh.

Untuk anak-anak SMP ini, dikatakan Soleh mungkin saja mereka berpikir dengan mereka bisa mem-bully orang mereka langsung mendapat sanjungan. Di sinilah pentingnya peran orang tua, perlu ajarkan anak-anak karena itu tanggung jawab orang tua.

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID

Kualitas tumbuh kembang remaja

thumbnail
Tumbuh Kembang Remaja – Masa remaja adalah masa yang menegangkan sekaligus menyenangkan, masa yang juga menjadi pondasi untuk kesuksesan individu dalam hidupnya. Masa-masa tersebut adalah masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa.

Masa ini umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Mereka bertumbuh dan berkembang untuk mencapai kematangan dalam rentang hidupnya.

Tumbuh Kembang Remaja dan pengaruhnya

Masa remaja seringkali dikaitkan dengan stereotip mengenai perubahan perilaku yang tidak wajar yang mengarah pada tindakan menyimpang dari norma yang berlaku dalam tatanan kehidupan.

Stereotip tersebut semakin menguat karena banyak penyimpangan yang dimulai dari masa remaja, seperti perilaku agresif yang berimbas dari kenakalan remaja, dan pada titik ekstrim adalah penyalahgunaan obat terlarang atau seks bebas.

Munculnya kejadian tersebut karena ketidakberhasilan remaja dalam mengenali diri dan potensinya.

Perubahan peranan dan tugas perkembangan dari anak-anak menjadi remaja bisa jadi membuat remaja mengalami gejolak apabila lingkungan tidak merespon dengan tepat.

Gejolak ini apabila terus-menerus dialami, tentu akan mempengaruhi kondisi psikologis mereka. Tidak hanya pada masa remajanya tapi berimbas pada masa dewasa, seperti perilaku manja yang berlebihan, kurang bisa mengambil keputusan, tidak berani bertindak, atau komunikasi tidak lancar.

Menjadi remaja yang berkualitas

Untuk mengurangi perilaku yang kurang produktif tersebut, maka dibutuhkan kesadaran bersama pentingnya mengenali diri, baik dari remaja itu sendiri maupun dari lingkungan.

Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menjadi remaja yang berkualitas diantaranya,

1. Berpikir positif

Berpikir positif akan membantu remaja untuk selalu optimis dalam memandang hidupnya. Keoptimisan tersebut yang akan membantu remaja untuk bergerak dan berkarya dalam kualitas yang optimal sebagai remaja yang mandiri.

2. Menjalin komunikasi yang baik dengan orangtua

Peranan orangtua tidak mungkin diabaikan dalam tumbuh kembang remaja. Pola komunikasi yang sehat dengan orangtua, akan membantu remaja untuk terbuka sehingga ketika mengalami gejolak muda, para remaja tidak canggung untuk bertanya dan berdiskusi dengan orangtua. Hal tersebut akan membantu remaja untuk tetap berada jalam jalur perkembangan yang positif.

3. Mengenali potensi diri dengan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang positif

Gairah muda yang dimiliki remaja mendorongnya untuk mencoba banyak hal. Aktif dalam kegiatan yang positif, seperti olahraga, seni, atau lingkungan hidup akan membantunya menyalurkan kelebihan energi kearah positif. Kegiatan tersebut akan bertambah manfaatnya apabila dapat ditekuni menjadi hobi, kegiatan yang dilakukan dengan penuh harap.

4. Memperbanyak wawasan dengan membaca buku, browsing internet dengan tetap terbuka untuk dibahas bersama dengan orang-orang terdekat

Remaja yang berkualitas adalah remaja yang punya wawasan luas, tidak sekadar memikirkan diri pribadinya, tetapi mereka mengetahui perkembangan jaman melalui ilmu-ilmu yang dipelajari dan dibacanya.

Membaca banyak ilmu akan meningkatkan kepercayaan diri dalam berkomunikasi. Mereka menjadi remaja yang punya isi sehingga mereka bisa tampil sebagai remaja yang memiliki nilai tambah karena kepekaannya terhadap lingkungan.

Sumber : jagaddhita.org