Teman yang Baik Menurut Rasulullah

thumbnail
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup seorang diri. Dengan bersosialisasi, pemikiran seseorang dapat lebih terbuka dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya.

Meskipun manfaat bersosialisasi amat penting, seseorang juga perlu selektif dalam bergaul. Rasulullah SAW selalu berpesan agar dapat memilih pergaulan yang baik dan dapat membawa pada kebaikan.

"Teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi, engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalau pun tidak, engkau tetap dapat mendapatkan bau harum darinya. Adapun pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap." (HR. Bukhari-Muslim).

Dari sabdanya, Rasulullah menyarankan umat Muslim pintar memilih teman, karena mereka dapat memiliki pengaruh besar dalam pembentukan pemikiran dan perasaan kita. Selain itu, Nabi juga berpesan bila seseorang ingin sukses maka bergaullah dengan orang yang berkualitas.

Jika dilihat, kebanyak orang-orang sukses akan lebih dekat atau nyaman bergaul dengan mereka yang memiliki kebiasaan positif dan memprioritaskan diri untuk meraih keberhasilan. Berbeda dengan mereka yang cenderung tidak memiliki semangat saing, akan lebih suka bergabung dengan orang yang belum jelas tujuan hidupnya.

Sumber : republika.co.id

Cara membangun hubungan dengan konseli

thumbnail
Membangun rapport atau hubungan dengan konseli merupakan salah satu keterampilan konseling yang paling penting, yang harus dimiliki konselor. Dalam laman masterincounseling.org, disebutkan bahwa sekitar 40% perubahan pada diri konseli disebabkan oleh kualitas hubungan konseling.

Hubungan intim yang terjadi antara konselor dengan konseli menjadi sangat penting untuk mendapatkan kepercayaan konseli. Jika tidak, konseli enggan berbagi informasi penting dengan konselor, tidak akan mempercayai apa yang disampaikan konselor, dan secara umum, konseli tidak akan berpartisipasi aktif dalam proses konseling, sesuai yang diharapkan dalam sesi konseling yang efektif.

Bagaimana cara membangun hubungan konseling ini ? beberikut beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1. Keterampilan mendengarkan aktif (active listening skills)

Sebelum konselor melakukan upaya intervensi, tunjukkan kepada konseli bahwa konselor memahami konseli, darimana mereka berasal, dan apa kisah yang mereka bawa saat sesi konseling.

Baca: Empat teknik mendengar aktif

2. Latar belakang konseli

Untuk membangun kepercayaan konseli, mungkin dibutuhkan waktu lebih lama, bergantung pada budaya, latar belakang, kepribadian konseli, dan lain-lain. Penting untuk menyadari sinyal-sinyal non-verbal, karena tidak semua konseli akan dengan jelas menyatakan ketidanyamanan mereka.

Baca: Urgensi konseling multikultural di sekolah

3. Atasi masalah kecil

Sebelum masuk pada masalah yang lebih besar, pribadi, dan sensitif. Ada baiknya mencoba intervensi pada masalah yang lebih kecil terlebih dahulu. Berikan informasi yang bermanfat, umpan balik positif atau dorongan. Kesuksesan konselor dalam intervasi awal ini akan membantu konseli membangun kepercayaan pada konselor.

4. Tunjukkan respect pada konseli

Berikan rasa hormat pada konseli sejak awal konseling, seperti, tepat waktu, berpakaian secara profesional, menyiapkan dokumen-dokumen yang terkait dengan konseli.

5. Gaya komunikasi

Perhatikan konseli, dan sadari gaya komunikasinya. Sesuakan ritme komunikasi dengan konseli, namun konselor harus tetap fokus dan tenang, karena seringkali konseli akan meniru gaya konselor.

6. Kompetensi

Sadari kompetensi yang konselor miliki, jika konselor tidak memiliki kompetensi dalam membantu konseli, sampaikan secara terbuka pada konseli. Biarkan konseli yang memutuskan, apakah konseli menginginkan bantuan konselor atau tidak ?, bukan konselor yang memutuskan.

7. Mengungkapkan informasi diri konselor (Self disclosure)

Mengungkapkan informasi pribadi konselor dapat menjadi pembuka dalam membangun hubungan. Tapi hati-hati, terlalu banyak mengungkap informasi pribadi dan tidak tepat alasan dapat menjadi bumerang bagi konselor. Alih-alih mendapatkan kepercayaan, sebaliknya justru konseli akan menarik diri.

Baca : Keterampilan membuka diri dalam konseling

Ingat ! hubungan konseling benar-benar merupakan faktor paling penting dalam sesi konseling, melebihi teori maupun intervensi yang konselor gunakan.

9 Tips untuk Anak yang Gemar Gunakan Media Sosial

thumbnail
Sama seperti bagaimana Anda aktif di masyarakat online di platform media sosial seperti Snapchat, Instagram dan Facebook, hal itu jugalah yang dilakukan anak-anak Anda !

Meskipun anak Anda tidak berhadapan secara langsung saat bergaul di media sosial, ini tidak berarti mereka harus merasa aman untuk chatting secara terbuka.

Itulah sebabnya kejadian bullying di dunia cyber adalah satu masalah yang benar-benar terjadi. Dewan Literasi Media Singapura (The Media Literacy Council/MLC) menarik perhatian bahwa tiga dari 10 murid dan remaja pernah menjadi korban bullying di media online.

Justeru, mari kita periksa sembilan hal ini untuk bersama anak Anda ketika menggunakan media sosial;

1. Jangan Unggah Informasi Pribadi ke Publik

Informasi seperti lokasi mereka dan informasi pribadi tidak harus ditempatkan di internet kecuali mereka ingin menjadi korban kejahatan. Meskipun sekedar berbagi lokasi sebuah kafe di Instagram, akan lebih baik itu dilakukan setelah mereka meninggalkan kafe itu.

2. Jangan Sebarkan Informasi Palsu (Hoax)

Di bawah UU Telekomunikasi (ITE), Anda bisa didenda hingga pidana penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar karena menyebarkan informasi palsu. Menyebarkan informasi tentang ancaman bom di sekolah misalnya dapat membuat anak Anda dipenjara !

3. Bersikap Sopan Walau Berbeda Pendapat

Jika seorang pengguna lain menggunakan kata-kata vulgar, nasihatkan anak Anda untuk tidak beradu mulut. Mereka bisa saja melarang siapa saja untuk berinteraksi dengan mereka.

4. Jangan Mempermalukan Sahabat Sendiri

Ingatkan anak Anda untuk tidak mempermalukan rekan sendiri.

Mereka tidak memiliki kontrol penuh untuk memadamkan informasi pribadi di Internet. Meskipun mereka sudah menutup gambar atau video. Ingat ! Orang lain mungkin sudah menyimpan salinan gambar itu.

5. Bertanggungjawab

Apa yang dianggap satu hal yang lucu mungkin membawa efek mendalam pada masa depan. Lebih baik untuk anak Anda tidak menyuarakan pendapat mereka sendiri jika hal itu menjadi kondisi yang tidak dapat dikontrol.

6. Hormati Perbedaan Pendapat

Jangan menggunakan kata-kata kasar, meledek, menghina ras atau suku. Setiap kata-kata seperti itu lebih banyak memicu kekerasan atau kegelisahan, dan dapat mengantar penulisnya ke meja hukum.

7. Tunjukkan Rasa Ihsan

Ajar anak Anda kita tentang sifat belas kasih (ihsan) dan berbuat baik. Ini karena apa yang dikatakan mereka mungkin membawa maksud yang berbeda kepada orang lain dan dapat menggores hubungan mereka.

8. Tidak Perlu Bersalah ‘Memblock’ Akun Orang Lain

Tidak salah untuk mereka melarang atau ‘mem-block’ akun/pengguna lain meski membuat mereka merasa tidak senang. Ketika teman-teman mereka mengganggu mereka atau orang tidak dikenal menggunakan kalimat-kalimat berunsur seksual, kekerasan, ejekkan, tidak perlu bersalah, bahkan jika perlu di’block’ saja mereka.

9. Sebarkan Hal Positif

Kata-kata ajak kebaikan, kata-kata positif, akan jauh lebih berarti daripada mengeluh tentang pekerjaan sekolah, perasaan galau, atau mengeluh segala urusan pribadi kita melalui medsos. Semakin banyak galau dan mengeluh, justru akan mengundang ‘penjahat cyber’ mendatangi anak kita!

Sumber: hidayatullah.com

Saling Menasihatilah

thumbnail
Manusia tempatnya salah, mudah lupa. Sifat iman naik-turun. Manusia tidak luput dari masalah, baik itu sebagai musibah ataupun ujian, dan lain-lainnya. Karenanya, kita membutuhkan nasihat-nasihat yang terus-menerus, baik kita sebagai manusia muda atau pun manusia dewasa. Hal itu sangat penting agar kita tidak merugi.

Sebagainana firman Allah SWT dalam Surat Al-‘Ashr: 2-3: “Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran, dan saling menasehati untuk kesabaran.

Sering sekali manusia melakukan kesalahan, baik karena tidak tahu ilmunya atau tahu ilmunya tapi terbujuk rayuan setan untuk berbuat salah. Dua kondisi tersebut membutuhkan nasehat. Jika kondisi tidak tahu ilmunya diberi tahu ilmunya sambil dinasehati. Jika tahu ilmunya diingatkan sambil dinasehati. Untuk tahu ilmunya, butuh tips dan trik tentunya. Yakinlah, jika berniat supaya manusia berbuat kebenaran, pasti ada jalannya.

Penasihat sendiri pun butuh nasihat. Sebab, walaupun tahu ilmunya, bisa juga melakukan kesalahan akibat terbujuk godaan setan. Untuk kondisi ini, berarti penasihat butuh juga penasihat. Mencari penasihat adalah suatu solusi untuk kondisi ini. Penasihat dari penasihat pun membutuhkan nasehat, dan seterusnya mengingat sifat setan yang bersumpah sampai hari kiamat akan menggoda manusia untuk berbuat salah atau berbuat tidak berbuat benar. Tidak ada yang manusia yang tidak butuh nasehat.

Sifat lupa adalah manusiawi atau kodrati. Kondisi ini pun membutuhkan nasihat. Begitu pula halnya dengan iman, yang sifatnya naik-turun, manusia membutuhkan nasehat atau untuk mengingatkan.Tidak kalah pentingnya, jika terkena masalah, baik itu sebagai musibah ataupun ujian, seseorang sangat membutuhkan nasihat.

Berjamaah adalah salah satu dari solusinya. Dalam berjamaah atau majelis ilmu biasanya disebar nasihat-nasihat. Dari kondisi ini tentunya banyak nasihat yang dapat dimanfaatkan dan disesuaikan dengan nasihat yang dibutuhkan. Saat ini, berjamaah dapat dilakukan dengan cara offline dan online.

Untuk lebih utama-nya berjamaah dilakukan secara offline, supaya juga ada unsur ukhuwah-nya atau sosialnya tumbuh. Jika tidak memungkinkan untuk berjamaah offline, karena alasan sibuk, paling tidak mengikuti berjamaah online. Sebab, yang menjadi penting di sini adalah berjamaahnya, agar kita mendapatkan nasihat yang kita perlukan.

Dinasehati bukan berarti manusia itu bodoh, melainkan karena sifat-sifat manusia tersebut sehingga manusia membutuhkan nasihat. Mari kita mencari komunitas jamaah dalam kebaikan. Mendekatlah dengan keluarga, carilah sahabat dan guru yang mengingatkan atau menasihati kebaikan, dan lain-lainnya sebagai sumber nasihat.

Oleh : Rini Nuraini -- republika.co.id --

Anak-Anak Harus Dibuat Kasmaran Belajar di Sekolah

thumbnail
Dalam menghadapi tantangan ke depan sekolah dinilai harus segera melakukan perubahan dalam sistem pembelajarannya. Salah satunya adalah bagaimana membuat anak senang belajar di sekolah.

"Anak-anak harus dibuat kasmaran terhadap belajar. Sekolah harus membuat suasana seperti anak berada di rumah," ujar Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, saat berkunjung ke tiga sekolah model GSM di Tangerang Selatan, Rabu (2/5).

Salah satu ciri budaya belajar yang baik, kata Rizal, adalah ruang tata kelasnya tidak boleh konvensional atau kaku. Anak harus bisa belajar seperti saat di rumah dimana terkadang mereka bisa belajar sambil menonton televisi, sambil duduk di teras, sambil tidur-tiduran, dan sebagainya.

Rizal juga menekankan jangan ada lagi ada sekolah yang hanya menekankan pada pembelajaran kognitif hafalan semata. Hal itu menurutnya adalah sistem pembelajaran yang telah usang.

"Sistem pembelajaran yang harus diterapkan adalah bagaimana memanfaatkan informasi yang ada di internet. Jadi yang diajarkan adalah keterampilan berpikir, baik berpikir kreatif dan berpikir kritis," kata dosen Teknik Elektro UGM itu.

Apalagi talenta yang dimiliki anak-anak itu banyak dan berbeda-beda seperti melukis, olahraga, matematika, menari, bermain musik, dan lain sebagainya. Harapannya, dengan sistem pembelajaran demikian kemampuan kompetensi anak-anak akan semakin bertambah. "Kalau bisa sistem belajarnya harus membangun semua talenta tersebut," ujarnya.

Rizal memaparkan kompetisi yang harus diharapkan dimiliki anak di masa depan ada tiga, yakni yang pertama kemampuan literasi. "Literasi tidak hanya membaca buku 10-15 menit, namun mampu membaca bacaan panjang. Kemudian mampu merefleksikan isi bacaan tersebut serta menggunakan informasi yang diperoleh untuk menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat," kata Rizal.

Kedua adalah memiliki kemampuan daya kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif, dan daya saing. Ketiga adalah menciptakan gairah hidup (passion). "Sehingga fungsi guru bukan lagi sebagai sumber belajar, namun sebagai motivator dan fasilitator," ujar alumnus Monash University Australia itu.

Sumber : republika.co.id

Sekolah Harus Penuhi Kebutuhan 'Kids Zaman Now'

thumbnail
Sistem pendidikan sekolah dasar (SD) di Indonesia dinilai sudah tak sesuai dengan kondisi saat ini. Hal ini pun kemudian mendorong pendiri gerakan sekolah menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal untuk melakukan perubahan yang melibatkan kepala sekolah. Perubahan yang ia harapkan adalah perubahan yang membuat sekolah dapat memenuhi kebutuhan 'kids zaman now'.

Ia menilai, dalam era revolusi industri 4.0, kebutuhan dunia kerja telah melalui perubahan yang sangat cepat, namun sekolah tidak ada perubahan yang signifikan selama ratusan tahun. "Muridnya merupakan masyarakat abad 21, gurunya abad 20 dankelasnya masih menganut desain abad 19," ujar Rizal usai menjad pemateri dalam workshop bertema membangun pendidikan yang bernalar dan penguatan karakter melalui GSM yang digelar oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman pada Senin (23/4).

Menurutnya, agar dapat memenuhi kebutuhan kids jaman now, maka sekolah harus menerapkan sistem personalized learning. Artinya, guru harus memiliki pemahaman yang mendalam terkait karakter dan potensi dari masing-masing murid. Kemudian, guru dapat memberikan pendekatan yang berbeda bagi masing-masing murid sehingga informasi dapat tersampaikan sesuai dengan kapasitas murid.

"Setiap anak itu unik dan berbeda. Mereka memiliki gairah dan ketertarikan yang berbeda. Tetapi, sekolah selama ini justru menyeragamkan sehingga murid kehilangan gairah untuk belajar," kata dia dalam kegiatan yang diikuti oleh sekitar 40 kepala sekolah SD negeri di Sleman.

Ia pun menekankan, murid yang sedikit lebih lambat dalam mengejar ketertinggalan dalam akademis jangan lagi dianggap sebagai anak yang gagal. Sebenarnya, murid tersebut hanya membutuhkan waktu, motivasi, inspirasi . Jangan-jangan, lanjutnya, dengan pendekatan yang lebih personal itu, justru murid tersebutlah yang dapat lebih melesat kreativitas dan prestasinya.

Terkait hal ini, ia mengumpamakan seperti saat seorang anak sedang bermain game dalam gawai, yang pada umumnya setiap game memiliki level yang berbeda-beda. Level yang mampu dicapai oleh masing-masing anak dalam bermain game pun berbeda-beda, begitupun dalam dunia pendidikan.

Selain itu, ia juga menilai layout kelas atau susunan tempat duduk murid juga merupakan hal yang sangat signifikan dalam mendukung proses pembelajaran yang optimal. Menurutnya, susunan yang paling sesuai adalah posisi tempat duduk melingkar satu lapis, bukan lay out konvensional dengan urutan dari depan ke belakang dan menghadap ke papan tulis atau guru.

"Revolusi tata ruang kelas itu akan berpengaruh terhadap kesetaraan akses murid terhadap sumber pembelajaran. Susunan melingkar itu membuat seluruh anak memiliki akses yang sama. Sedangkan susunan konvensional membuat anak yang duduk di belakang memperoleh keterbatasan akses," ucapnya.

Menurut dia, berdasar pengematannya, lay out kelas adalah salah satu titik awal dari perubahan dalam pembelajaran di sekolah. Namun, ia mengaku,hingga saat ini, yang menerapkan kelas melingkar masih sangat minim.

Terkait kegiatan workshop ini, Kepla Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman, Dwi Warni Yuliastuti berharap, kegiatan ini dapat memberi dampak positif bagi peningkatan kompetensi kepala sekolah dan peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Sleman. "Selain itu, semoga kegiatan ini dapat meningkatkan kinerja sekolah, meningkatkan motivasi prestasi kepala sekolah dan memotivasi kepala sekolah untuk terus menjadi pembelajar," kata Dwi.

Sumber : republika.co.id

Meraih Kebahagiaan

thumbnail
Menurut pepatah, jika mau menangkap kupu-kupu, jangan dikejar, sebab akan sulit untuk mendapatkannya. Semakin dikejar, akan semakin jauh terbang. Alih-alih dapat menangkapnya, yang terjadi malah kita akan kecapaian.

Supaya kupu-kupu mudah ditangkap, tanamlah pohon yang beragam. Jika pohon yang beragam itu sudah berbunga dengan beragam pula, kupu-kupu akan datang sendiri sehingga mudah ditangkap. Tidak hanya kupu-kupu yang akan datang ketika pohon berbunga, kumbang dan lebah bunga pun akan singgah.

Kebahagiaan (al-falah) ibarat kupu-kupu. Semakin dikejar, akan semakin menjauh. Oleh karena itu, untuk memperolehnya cukup dengan menanam kebajikan seperti menanam pohon yang beragam untuk menghadirkan kupu-kupu. Kebahagiaan akan hadir dan tumbuh pada kehidupan yang baik (hayaatan thayyibah).

Menurut Alquran, setidaknya ada dua kebajikan yang dapat mengundang kehidupan yang baik, yaitu iman dan amal saleh. Jika iman tertanam dalam hati dan amal saleh terimplementasi dalam kehidupan, dapat dipastikan ke bahagiaan akan hadir dalam kehidupan. Hal tersebut ditegaskan Allah SWT dalam Alquran surah al-Nahl [16]: 97.

Iman dapat membangun cara pandang seseorang terhadap dunia. Orang beriman akan senantiasa melihat kehidupan dari sisi positif. Apa pun yang menimpa dirinya dipahami sebagai sesuatu yang pasti mengandung kebaikan. Oleh karena itu, ia akan bersabar ketika mendapatkan kesulitan dan bersyukur ketika mendapatkan kelapangan.

Kedua sifat baik itu menjadi sumber kebahagiaan dan kebaikan lainnya sebagaimana sabda Nabi SAW, "Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur, karena pada kesenangan (syukur) mengandung kebaikan baginya. Jika mendapatkan kesusahan maka ia bersabar, karena pada kesulitan (sabar) ada kebaikan baginya." (HR Muslim).

Tidak hanya iman, amal saleh pun dapat menghadirkan kebahagiaan. Sebab, iman dan amal saleh memiliki hubungan yang erat. Iman yang kuat akan melahirkan amal saleh yang beragam. Ketika kita percaya bahwa semua yang ada pada kita adalah titipan dan milik Allah, tidak ada satu hal pun yang akan kita tahan ketika Dia menyuruh memberikannya. Artinya, iman kepada Allah akan melahirkan sifat dermawan. Sifat itu pada gilirannya akan membebaskan kita dari kekikiran. Terbebas dari sifat kikir merupakan salah satu sumber kebahagiaan sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Hasyr [59]: 9). Wallahu alam.


Oleh : Karman --- republika.co.id

Kapan Allah Menolong Kita ?

thumbnail
Tidak ada satu pun masalah yang terjadi kecuali atas izin Allah SWT. Semuanya ada dalam genggaman-Nya. Jika demikian, alangkah mudahnya bagi Allah untuk membuka jalan keluar bagi siapa pun yang sedang dirundung masalah.

Saat ini ada banyak persoalan yang mendera kita. Entah itu masalah pribadi, keluarga, pekerjaan, ataupun yang lebih luas dari itu. Dan, masalah terbesar adalah saat kita tidak mendapatkan pertolongan Allah. Seberat apa pun persoalannya akan menjadi ringan bila ditolong Allah. Meskipun persoalannya kecil, jika tidak mendapat pertolongan Allah maka akan terasa berat.

Lalu, kapan Allah menolong kita? Subhanallah, ternyata kuncinya adalah kapan saja kita menolong saudara kita. Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.'' (HR Muslim).

Sebesar perhatian kita kepada yang papa, yatim piatu, fakir miskin, mereka yang tertindas, dan sebagainya maka sebesar itu perhatian Allah kepada kita. Kurangnya perhatian kita kepada mereka maka Allah juga akan kurang perhatian kepada kita.

Al-Iman al-ihtimam, iman itu adalah perhatian. Iman itu adalah kepedulian. Tidak perhatian dan tidak punya kepedulian maka akan kurang bahkan tidak sempurna iman kita. Nabi SAW bersabda, ''Barang siapa tidak ikut peduli dan tidak perhatian terhadap urusan orang Islam maka bukan termasuk golonganku.'' (HR Bukhari Muslim).

Dalam sabda lainnya dikatakan, ''Kasihi dan sayangi mereka yang ada di bumi, niscaya para penghuni langit akan turut mengasihi dan menyayangi kalian.'' (HR Bukhari).

Di samping menumbuhkan semangat tolong-menolong kepada sesama, kita juga harus dapat mempraktikkan tuntunan Allah yang termaktub dalam surat Ath-Thalaaq [65]: 2-3, ''Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah yang menyampaikan urusan (yang dikehendaki)-Nya...''

Ayat tersebut mengajarkan bahwa semakin kita bertakwa, semakin terbuka lebar pintu-pintu pertolongan Allah. Sebaliknya, semakin kita ingkar, semakin tertutup rapat pintu-pintu pertolongan-Nya. Ibnu Atha'ilah as-Sakandary menegaskan, "Jangan menuntut Allah karena terlambatnya permintaan yang telah engkau panjatkan kepada-Nya. Namun, hendaknya engkau koreksi dirimu, tuntut dirimu agar tidak terlambat melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap Tuhanmu."

Penulis : Muhammad Arifin Ilham --- republika.co.id