Meraih Kebahagiaan

thumbnail
Menurut pepatah, jika mau menangkap kupu-kupu, jangan dikejar, sebab akan sulit untuk mendapatkannya. Semakin dikejar, akan semakin jauh terbang. Alih-alih dapat menangkapnya, yang terjadi malah kita akan kecapaian.

Supaya kupu-kupu mudah ditangkap, tanamlah pohon yang beragam. Jika pohon yang beragam itu sudah berbunga dengan beragam pula, kupu-kupu akan datang sendiri sehingga mudah ditangkap. Tidak hanya kupu-kupu yang akan datang ketika pohon berbunga, kumbang dan lebah bunga pun akan singgah.

Kebahagiaan (al-falah) ibarat kupu-kupu. Semakin dikejar, akan semakin menjauh. Oleh karena itu, untuk memperolehnya cukup dengan menanam kebajikan seperti menanam pohon yang beragam untuk menghadirkan kupu-kupu. Kebahagiaan akan hadir dan tumbuh pada kehidupan yang baik (hayaatan thayyibah).

Menurut Alquran, setidaknya ada dua kebajikan yang dapat mengundang kehidupan yang baik, yaitu iman dan amal saleh. Jika iman tertanam dalam hati dan amal saleh terimplementasi dalam kehidupan, dapat dipastikan ke bahagiaan akan hadir dalam kehidupan. Hal tersebut ditegaskan Allah SWT dalam Alquran surah al-Nahl [16]: 97.

Iman dapat membangun cara pandang seseorang terhadap dunia. Orang beriman akan senantiasa melihat kehidupan dari sisi positif. Apa pun yang menimpa dirinya dipahami sebagai sesuatu yang pasti mengandung kebaikan. Oleh karena itu, ia akan bersabar ketika mendapatkan kesulitan dan bersyukur ketika mendapatkan kelapangan.

Kedua sifat baik itu menjadi sumber kebahagiaan dan kebaikan lainnya sebagaimana sabda Nabi SAW, "Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur, karena pada kesenangan (syukur) mengandung kebaikan baginya. Jika mendapatkan kesusahan maka ia bersabar, karena pada kesulitan (sabar) ada kebaikan baginya." (HR Muslim).

Tidak hanya iman, amal saleh pun dapat menghadirkan kebahagiaan. Sebab, iman dan amal saleh memiliki hubungan yang erat. Iman yang kuat akan melahirkan amal saleh yang beragam. Ketika kita percaya bahwa semua yang ada pada kita adalah titipan dan milik Allah, tidak ada satu hal pun yang akan kita tahan ketika Dia menyuruh memberikannya. Artinya, iman kepada Allah akan melahirkan sifat dermawan. Sifat itu pada gilirannya akan membebaskan kita dari kekikiran. Terbebas dari sifat kikir merupakan salah satu sumber kebahagiaan sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Hasyr [59]: 9). Wallahu alam.


Oleh : Karman --- republika.co.id

Kapan Allah Menolong Kita ?

thumbnail
Tidak ada satu pun masalah yang terjadi kecuali atas izin Allah SWT. Semuanya ada dalam genggaman-Nya. Jika demikian, alangkah mudahnya bagi Allah untuk membuka jalan keluar bagi siapa pun yang sedang dirundung masalah.

Saat ini ada banyak persoalan yang mendera kita. Entah itu masalah pribadi, keluarga, pekerjaan, ataupun yang lebih luas dari itu. Dan, masalah terbesar adalah saat kita tidak mendapatkan pertolongan Allah. Seberat apa pun persoalannya akan menjadi ringan bila ditolong Allah. Meskipun persoalannya kecil, jika tidak mendapat pertolongan Allah maka akan terasa berat.

Lalu, kapan Allah menolong kita? Subhanallah, ternyata kuncinya adalah kapan saja kita menolong saudara kita. Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.'' (HR Muslim).

Sebesar perhatian kita kepada yang papa, yatim piatu, fakir miskin, mereka yang tertindas, dan sebagainya maka sebesar itu perhatian Allah kepada kita. Kurangnya perhatian kita kepada mereka maka Allah juga akan kurang perhatian kepada kita.

Al-Iman al-ihtimam, iman itu adalah perhatian. Iman itu adalah kepedulian. Tidak perhatian dan tidak punya kepedulian maka akan kurang bahkan tidak sempurna iman kita. Nabi SAW bersabda, ''Barang siapa tidak ikut peduli dan tidak perhatian terhadap urusan orang Islam maka bukan termasuk golonganku.'' (HR Bukhari Muslim).

Dalam sabda lainnya dikatakan, ''Kasihi dan sayangi mereka yang ada di bumi, niscaya para penghuni langit akan turut mengasihi dan menyayangi kalian.'' (HR Bukhari).

Di samping menumbuhkan semangat tolong-menolong kepada sesama, kita juga harus dapat mempraktikkan tuntunan Allah yang termaktub dalam surat Ath-Thalaaq [65]: 2-3, ''Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah yang menyampaikan urusan (yang dikehendaki)-Nya...''

Ayat tersebut mengajarkan bahwa semakin kita bertakwa, semakin terbuka lebar pintu-pintu pertolongan Allah. Sebaliknya, semakin kita ingkar, semakin tertutup rapat pintu-pintu pertolongan-Nya. Ibnu Atha'ilah as-Sakandary menegaskan, "Jangan menuntut Allah karena terlambatnya permintaan yang telah engkau panjatkan kepada-Nya. Namun, hendaknya engkau koreksi dirimu, tuntut dirimu agar tidak terlambat melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap Tuhanmu."

Penulis : Muhammad Arifin Ilham --- republika.co.id

Peringatan Rasulullah untuk Kaum Ibu

thumbnail
Mengurus anak menjadi tantangan tersendiri bagi kaum ibu, terlebih saat anak sedang menginjak masa dimana rasa ingin tahunya meningkat. Tak aneh, keaktifan serta rasa penasaran anak yang tinggi ini membuahkan keresahan ibu.

Namun masih banyak ibu yang tak mampu membendung keresahannya. Mereka meluapkannya dengan cara yang salah, seperti membentak, berkata kasar, bahkan memaki anak. Perkataan inilah yang harus dihindari. Allah selalu mendengar apa pun yang diucapkan seorang ibu, apakah perkataan baik atau buruk.

Rasulullah bersabda, "Janganlah kamu mendoakan kejelekan atas dirimu dan anak-anakmu serta untuk hartamu. Dan juga jangan sampai doa yang kamu panjatkan bertepatan pada waktu yang mustajab" (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga sangat melarang kaum ibu mendoakan keburukan bagi anak-anaknya. Doa ibu adalah salah satu doa yang paling mustajab.

"Janganlah sekali-kali kamu mendoakan kejelekan atas anak-anakmu, (yang dikhawatirkan) doa tersebut benar-benar terjadi dan menimpa mereka" (HR. Muslim).

Sudah sepatutnya seorang ibu menjadi tauladan bagi anak-anaknya, selain dengan memberikan contoh dengan perbuatan, ibu juga perlu membimbing anak dengan perkataan yang halus dan menenangkan. Dengan begitu, anak dapat tumbuh dengan pribadi yang lembut.

Sumber : republika.co.id

Mendidik anak

thumbnail
Kita kaget dan merasa prihatin dengan pemberitaan dalam media massa beberapa hari terakhir ini tentang meninggalnya seorang guru karena dianiaya seorang siswa. Ini menunjukkan perilaku dan etika yang tidak baik dari seorang siswa terhadap guru sebagai pendidik yang seharusnya dipatuhi dan dihormati.

Peristiwa ini harus menjadi renungan dan bahan introspeksi para orang tua. Apakah amanah dalam mendidik anak atau disebut dengan tarbiyatul aula telah dilakukan dengan sebaik-baiknya? Nilai-nilai keagamaan dan akhlakul karimah harus ditanamkan sejak usia dini dengan memberikan keteladanan dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Allah berfirman, ''Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.'' (QS at-Tahrim [66]: 6).

Tidak bisa disangkal bahwa lingkungan pergaulan bisa mempengaruhi perilaku seorang anak. Jika pendidikan yang sangat mendasar oleh orang tua, yaitu nilai-nilai keagamaan, karakter, dan akhlak sudah melekat dengan baik dan terjaga terus, insya Allah, seorang anak tidak akan terjerumus pada hal-hal yang negatif.

Komunikasi yang intensif antara orang tua dan anak harus terjalin dengan baik. Jangan sampai hal ini terabaikan karena kesibukan sehari-hari orang tua. Dan, yang terpenting, orang tua jangan beranggapan pendidikan anak sepenuhnya cukup diserahkan kepada lembaga pendidikan, seperti sekolah, madrasah, pesantren, atau perguruan tinggi.

Orang tua adalah pendidik sejati yang utama bagi seorang anak, bahkan sampai anak telah hidup bermasyarakat. Dengan demikian, dengan izin Allah, anak dapat terhindar dan dijauhkan dari perilaku yang menyimpang dari jalan-Nya, seperti kezaliman, manipulasi, korupsi, perzinaan, atau tindakan amoral lain sepanjang hidupnya.

''Tidak ada seorang Muslim pun yang mempunyai dua putri yang kemudian dirawat dan dididiknya dengan baik kecuali orang tersebut akan dimasukkan ke dalam surga.'' (HR Bukhari). Hadits ini menunjukkan betapa tingginya penghargaan atas tanggung jawab merawat dan mendidik anak.

Keikhlasan dalam mendidik anak dengan disertai iringan doa adalah kewajiban utama orang tua kepada anak. Dengan demikian, anak juga akan selalu berbuat baik kepada orang tua serta mendoakannya. Hal itu akan terus dilakukan oleh seorang anak walaupun orang tuanya telah wafat. Wallahu a'lam.

Penulis: Sigit Indrijono -- republika.co.id

Gangguan jiwa kecanduan gadget dan laptop

thumbnail
Gadget dan laptop memang dapat mempermudah urusan kita, baik urusan kantor, sekolah, bisnis, maupun pribadi. Namun, penggunaan keduanya, jika tidak hati-hati dan bijak, dapat membuat seseorang mengalami kecanduan, yang dapat berakibat pada gangguan kejiwaan.

ANTARA News (11/1/2018), memuat berita tentang 2 orang siswa yang mengalami gangguan jiwa akibat kecanduan gadget dan laptop. Kasus ini terjadi di Bondowoso, Jawa Timur.

Menurut laman ANTARA, Poli Jiwa RSUD dr Koesnadi Bondowoso, Jawa Timur, dalam beberapa bulan terakhir merawat dua siswa yang kecanduan pada penggunaan gawai dan laptop hingga menimbulkan guncangan jiwa.

"Kedua pasien itu terdiri atas satu siswa SMP dan satunya siswa SMA," kata dokter spesialis jiwa RSUD Koesnadi dr Dewi Prisca Sembiring, Sp.Kj kepada wartawan.

Ia menjelaskan bahwa tingkat kecanduan kedua anak itu sudah tergolong parah. Bahkan salah satunya membentur-benturkan kepalanya ke tembok ketika sangat ingin menggunakan gawai, namun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Dewi meyakini banyak anak lainnya yang mengalami hal serupa, namun orang tua mereka enggan membawa anaknya ke rumah sakit atau kurang menyadari tentang masalah yang sedang dihadapi si anak.

"Untuk masalah ini kami memang harus terus melakukan sosialisasi agar masyarakat semakin tahu bahwa RSUD Bondowoso kini juga merawat pasien dengan masalah kejiwaan. Masalah kejiwaan ini tidak identik dengan gila, tapi mereka yang mengalami tekanan dan lainnya perlu perawatan dan tidak usah malu, termasuk kami sosialisikan informasi bahwa pasien ini juga bisa di cover dengan BPJS," katanya.

Ia menjelaskan bahwa dari data yang dia kumpulkan, anak-anak yang kecanduan gawai dan permainan (game) itu awalnya tidak disadari oleh orang tuanya. Orang tua baru menyadari setelah si anak jarang masuk ke sekolah dan prestasi akademiknya terus menurun.

"Bahkan si anak sudah pada taraf tidak mau sekolah. Akhirnya dibawa ke poli jiwa. Kami menemukan bahwa awalnya anak menjadi sangat dekat dengan gadget dan laptop karena tugas-tugas sekolah. Waktu itu hampir semua tugas-tugas sekolah menggunakan teknologi ini, sehingga si anak kemana-mana membawa laptop," kata dr Dewi.

Menurut dia, hasil psikotest terhadap salah seorang anak menunjukkan bahwa pasien itu telah mengidentifikasi dirinya sebagai pembunuh. Sementara orang yang paling dibencinya adalah orang tuanya yang dianggap sebagai penghalang dirinya untuk berhubungan dengan laptop dan gawai.

"Syukurlah dari penanganan yang kami lakukan hasilnya sudah mulai membaik. Banyak metode yang kami lakukan untuk menangani pasien ini, termasuk terapi realita. Saya ajak si anak untuk melihat pasien dengan gangguan jiwa akut atau psikotik. Saya bilang pada anak itu, kalau kamu tidak mau melepaskan diri dari game, lama-lama menjadi seperti mereka yang menderita psikotis itu. Dia kemudian terdiam dan saya suruh peluk ibunya. Akhirnya pikiran dia tentang gadget atau laptop berubah," katanya.

Ia menjelaskan kasus dua anak itu hendaknya menjadi peringatan bagi semua orang tua dan semua pemangku kepentingan di sekolah agar anak-anak betul-betul mendapatkan perhatian.

"Isilah keinginan anak-anak itu dengan hati kita bukan dengan gadget. Kita harus isi hati anak-anak itu dengan yang nyata, yaitu kita sebagai orang tua, bukan dengan yang tidak nyata di gadget," katanya.

Menurut dia, secara psikologis, anak-anak itu mencari kesenangan hati di perangkat teknologi informasi karena tidak mendapatkan itu dari lingkungan sekitarnya, khususnya orang tua.

Mengenai perawatan poli jiwa ini, pihaknya terus melakukan sosialisasi ke masyarakat, termasuk melalui dokter-dokter umum dan para medis yang bertugas di seluruh puskesmas di Bondowoso.

Pihaknya juga ada kerja sama dengan instansi lain, seperti Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Pemkab Bondowoso. Pihaknya juga sudah menjalin kerja sama dengan sekolah, meskipun belum semua untuk menangani masalah siswa yang bisa ditangani oleh sekolah.

Pendekatan konseling individual Alfred Adler

thumbnail
Konsep dasar

Psikologi individu sering disebut terapi adlerian karena penggagas awalnya adalah Alfred Adler, salah satu kolega freud yang awalnya termasuk lingkaran gerakan psikoanalisis,namun keluar karena tidak menyetujui beberapa bagian teori tersebut.

Kerja dan riset Adler mempengaruhi banyak psikolog dan terafis besar yang kemudian mengikuti jejaknya seperti Albert Ellis, victor Frankl, Rudolf Dreikurs, Rollo Maydan wiliam Glaser.

Psikologi individu melihat pribadi secara menyeluruh dan berfokus pada keunikannya. Pandangan adler tentang manusia menawarkan sebuah fokus alternatif yang positif dan menyegarkan bagi teori psikoanalisis Freud.

Di inti teorinya terdapat sebuah keyakinan kalau manusia memiliki dorongan bawaan untuk mengatasi kelemahan yang disadarinya, untuk kemudian mengembangkan potensinya sendiri menuju aktualisasi diri. Apalagi jika ditaruh di dalam lingkungan positif, pertumbuhan tersebut pasti akan terjadi.

Kalau begitu, apakah yang menahan seseorang untuk bergerak secara cepat dan mudah menuju realisasi diri?

Menurut Adler, jawabnya ialah perasaan inferior. Seseorang biasanya mengalami perasaan tersebut lewat tiga sumber yaitu: (a) ketergantungan biologis dan ketergantungan umumnya layaknya bayi;(b) gambar diri yang dianggap kecil ketika dibandingkan dengan sesuatu yang agung, mulia atau besar; dan (c) inferioritas organ tubuh ( bahasa awamnya lemah, minder, dan cacat). Namun, dorongan dalam diri sendiri umumnya memampukan subjek, mengkompensasikan perasaan-perasan ini untuk berjuang meraih superioritas dan kesempurnaan.

Teori adlerian kadang disebut perspektif sosioteologis ketika membahas perjuangan konstan individu menjcapai tujuan mereka. Adler juga menekankan pentingnya pengembangan minat sosial klien untuk kemudian mendidik lembali mereka agar mampu hidup di tengah-tengah masyarakat sebagai pribadi yang sanggup memberikan sesuatu bagi masyarakat, jadi bukan Cuma menerima dan menuntut.

Ketika seseorang datang untuk menjalani terapi, diasumsikan ia tengah mengalami ketidakkongruenan dan ketidaknyamanan di dalam : (a) kerja, (b) persahabatan, atau (c) cinta. Proses konseling kemudian dilihat sebagai cara terapis dank lien bekerja sama untuk membantu klien mengembangkan kesadaran, sikap dan perilaku yang lebih sehat sehingga sanggup berfungsi lebih penuh di masyarakat. Pengembangan minat social dianggap variable paling mencolok dari kesehatan mental seseorang.

Proses Konseling

Proses konseling Adlerian melibatkan empat tahap:

Tahap 1: Membangun relasi

Di sesi pertama konselor menetapkan sebuah relasi dengan klien lewat interview subjektif/objektif yang di dalamnya klien dibantu merasa nyaman, diterima, dihargai dan diperhatikan. Melalui komponen objektif interview, klien diharapkan mengerti apa yang dibutuhkan secara spesifik dari proses konseling. Klien di minta mendiskusikan bagaimana hal-hal tertentu berlangsung di setiap wilayah tugas hidupnya.

Tahap 2: Mendiagnostik

Tahap diagnostic meliputi interview gaya hidup, prosedur asesmen formal yang melihat hal-hal seperti konstelasi keluarga, persepsi orang tua, rekoleksi tentang periode awal hidupnya, dan mimpi yang terus berulang.

Tahap 3: Fase interpretasi

Yaitu waktu ketika konselor dank lien mengembangkan pemahaman dari interview gaya hidupnya tentang kekeliruan dasar klien dengan menganalisis dan mendiskusikan keyakinan, tujuan dan gerakan yang dikembangkan klien pada awal kehidupan, dan menjamin pola dan sikap pikiran, emosi dan perilaku.

Tahap 4: Orientsi

Tahap pengorientasikan mungkin yang paling kritis karena ditahap inilah terapis membantu konseli bergerak dari pemahaman intelektual menuju perkembangan actual dan ekspresi sikap dan perilaku yang . lebih sehat. Di titik ini, dukungan konselor, penguatan dan pengarahan di upayakan secara aktif untuk membuat sejumlah perubahan bagi cara-cara yang tidak sehat dalam berfikir, mearasa dan berperilaku menjadi cara-cara yang lebih memuaskan dan sehat bagi dirinya dan masyarakat.

Adler adalah tokoh utama perintis terapi keluarga yang berkontribusi besar di bidang konseling dasar. Dewasa ini, konsep konseling Adlerian digunakan juga untuk kasus-kasus anak yang orang tuanya bercerai dan/ atau menikah kembali.

Sumber : http://menzour.blogspot.co.id

Prinsip dasar Cognitive-Behavior Therapy (CBT)

thumbnail
Walaupun konseling harus disesuaikan dengan karakteristik atau permasalahan konseli, tentunya konselor harus memahami prinsip-prinsip yang mendasari CBT.

Pemahaman terhadap prinsip-prinsip ini diharapkan dapat mempermudah konselor dalam memahami konsep, strategi dalam merencanakan proses konseling dari setiap sesi, serta penerapan teknik-teknik CBT.

Berikut adalah prinsip-prinsip dasar dari CBT :

Prinsip nomor 1: Cognitive-Behavior Therapy didasarkan pada formulasi yang terus berkembang dari permasalahan konseli dan konseptualisasi kognitif konseli.

Formulasi konseling terus diperbaiki seiring dengan perkembangan evaluasi dari setiap sesi konseling. Pada momen yang strategis, konselor mengkoordinasikan penemuan-penemuan konseptualisasi kognitif konseli yang menyimpang dan meluruskannya sehingga dapat membantu konseli dalam penyesuaian antara berfikir, merasa dan bertindak.

Prinsip nomor 2: Cognitive-Behavior Therapy didasarkan pada pemahaman yang sama antara konselor dan konseli terhadap permasalahan yang dihadapi konseli.

Melalui situasi konseling yang penuh dengan kehangatan, empati, peduli, dan orisinilitas respon terhadap permasalahan konseli akan membuat pemahaman yang sama terhadap permasalahan yang dihadapi konseli. Kondisi tersebut akan menunjukan sebuah keberhasilan dari konseling.

Prinsip nomor 3: Cognitive-Behavior Therapy memerlukan kolaborasi dan partisipasi aktif.

Menempatkan konseli sebagai tim dalam konseling maka keputusan konseling merupakan keputusan yang disepakati dengan konseli. Konseli akan lebih aktif dalam mengikuti setiap sesi konseling, karena konseli mengetahui apa yang harus dilakukan dari setiap sesi konseling.

Prinsip nomor 4: Cognitive-Behavior Therapy berorientasi pada tujuan dan berfokus pada permasalahan.

Setiap sesi konseling selalu dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan. Melalui evaluasi ini diharapkan adanya respon konseli terhadap pikiran-pikiran yang mengganggu tujuannya, dengan kata lain tetap berfokus pada permasalahan konseli.

Prinsip nomor 5: Cognitive-Behavior Therapy berfokus pada kejadian saat ini.

Konseling dimulai dari menganalisis permasalahan konseli pada saat ini dan di sini (here and now).

Perhatian konseling beralih pada dua keadaan. Pertama, ketika konseli mengungkapkan sumber kekuatan dalam melakukan kesalahannya. Kedua, ketika konseli terjebak pada proses berfikir yang menyimpang dan keyakinan konseli dimasa lalunya yang berpotensi merubah kepercayaan dan tingkahlaku ke arah yang lebih baik.

Prinsip nomor 6: Cognitive-Behavior Therapy merupakan edukasi, bertujuan mengajarkan konseli untuk menjadi terapis bagi dirinya sendiri, dan menekankan pada pencegahan.

Sesi pertama CBT mengarahkan konseli untuk mempelajari sifat dan permasalahan yang dihadapinya termasuk proses konseling cognitive-behavior serta model kognitifnya karena CBT meyakini bahwa pikiran mempengaruhi emosi dan perilaku.

Konselor membantu menetapkan tujuan konseli, mengidentifikasi dan mengevaluasi proses berfikir serta keyakinan konseli. Kemudian merencanakan rancangan pelatihan untuk perubahan tingkah lakunya.

Prinsip nomor 7: Cognitive-Behavior Therapy berlangsung pada waktu yang terbatas.

Pada kasus-kasus tertentu, konseling membutuhkan pertemuan antara 6 sampai 14 sesi. Agar proses konseling tidak membutuhkan waktu yang panjang, diharapkan secara kontinyu konselor dapat membantu dan melatih konseli untuk melakukan self-help.

Prinsip nomor 8: Sesi Cognitive-Behavior Therapy yang terstruktur.

Struktur ini terdiri dari tiga bagian konseling. Bagian awal, menganalisis perasaan dan emosi konseli, menganalisis kejadian yang terjadi dalam satu minggu kebelakang, kemudian menetapkan agenda untuk setiap sesi konseling.

Bagian tengah, meninjau pelaksanaan tugas rumah (homework asigment), membahas permasalahan yang muncul dari setiap sesi yang telah berlangsung, serta merancang pekerjaan rumah baru yang akan dilakukan.

Bagian akhir, melakukan umpan balik terhadap perkembangan dari setiap sesi konseling. Sesi konseling yang terstruktur ini membuat proses konseling lebih dipahami oleh konseli dan meningkatkan kemungkinan mereka mampu melakukan self-help di akhir sesi konseling.

Prinsip nomor 9: Cognitive-Behavior Therapy mengajarkan konseli untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menanggapi pemikiran disfungsional dan keyakinan mereka.

Setiap hari konseli memiliki kesempatan dalam pikiran-pikiran otomatisnya yang akan mempengaruhi suasana hati, emosi dan tingkah laku mereka.

Konselor membantu konseli dalam mengidentifikasi pikirannya serta menyesuaikan dengan kondisi realita serta perspektif adaptif yang mengarahkan konseli untuk merasa lebih baik secara emosional, tingkahlaku dan mengurangi kondisi psikologis negatif.

Konselor juga menciptakan pengalaman baru yang disebut dengan eksperimen perilaku. Konseli dilatih untuk menciptakan pengalaman barunya dengan cara menguji pemikiran mereka (misalnya: jika saya melihat gambar laba-laba, maka akan saya merasa sangat cemas, namun saya pasti bisa menghilangkan perasaan cemas tersebut dan dapat melaluinya dengan baik).

Dengan cara ini, konselor terlibat dalam eksperimen kolaboratif. Konselor dan konseli bersama-sama menguji pemikiran konseli untuk mengembangkan respon yang lebih bermanfaat dan akurat.

Prinsip nomor 10: Cognitive-Behavior Therapy menggunakan berbagai teknik untuk merubah pemikiran, perasaan, dan tingkah laku.

Pertanyaan-pertanyaan yang berbentuk sokratik memudahkan konselor dalam melakukan konseling cognitive-behavior. Pertanyaan dalam bentuk sokratik merupakan inti atau kunci dari proses evaluasi konseling.

Dalam proses konseling, CBT tidak mempermasalahkan konselor menggunakan teknik-teknik dalam konseling lain seperti Gestalt, Psikodinamik, Psikoanalisis, selama teknik tersebut membantu proses konseling yang lebih singkat dan memudahkan konselor dalam membantu konseli.

Jenis teknik yang dipilih akan dipengaruhi oleh konseptualisasi konselor tehadap konseli, masalah yang sedang ditangani, dan tujuan konselor dalam sesi konseling tersebut.

Baca : Pendekatan konseling Cognitive-Behavior Therapy (CBT)

Sumber : Makalah “Cognitive-Behavior Therapy: Solusi Pendekatan Praktek Konseling di Indonesia” oleh Idat Muqodas. -- bkpemula.wordpress.com --

Pendekatan konseling Cognitive-Behavior Therapy (CBT)

thumbnail
Teori Cognitive-Behavior (CBT) pada dasarnya meyakini pola pemikiran manusia terbentuk melalui proses Stimulus-Kognisi-Respon (SKR), yang saling berkaitan dan membentuk semacam jaringan SKR dalam otak manusia, di mana proses kognitif menjadi faktor penentu dalam menjelaskan bagaimana manusia berpikir, merasa dan bertindak.

Sementara dengan adanya keyakinan bahwa manusia memiliki potensi untuk menyerap pemikiran yang rasional dan irasional, di mana pemikiran yang irasional dapat menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku yang menyimpang, maka CBT diarahkan pada modifikasi fungsi berfikir, merasa, dan bertindak dengan menekankan peran otak dalam menganalisa, memutuskan, bertanya, bertindak, dan memutuskan kembali. Dengan mengubah status pikiran dan perasaannya, konseli diharapkan dapat mengubah tingkah lakunya, dari negatif menjadi positif.

CBT adalah pendekatan konseling yang menitikberatkan pada restrukturisasi atau pembenahan kognitif yang menyimpang akibat kejadian yang merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis.

CBT merupakan konseling yang dilakukan untuk meningkatkan dan merawat kesehatan mental. Konseling ini akan diarahkan kepada modifikasi fungsi berpikir, merasa dan bertindak, dengan menekankan otak sebagai penganalisa, pengambil keputusan, bertanya, bertindak, dan memutuskan kembali.

Sedangkan, pendekatan pada aspek behavior diarahkan untuk membangun hubungan yang baik antara situasi permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan.

Tujuan dari CBT yaitu mengajak individu untuk belajar mengubah perilaku, menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, berpikir lebih jelas dan membantu membuat keputusan yang tepat. Hingga pada akhirnya dengan CBT diharapkan dapat membantu konseli dalam menyelaraskan berpikir, merasa dan bertindak.

Tujuan Konseling CBT

Tujuan dari konseling Cognitive-Behavior yaitu mengajak konseli untuk menentang pikiran dan emosi yang salah dengan menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi. Konselor diharapkan mampu menolong konseli untuk mencari keyakinan yang sifatnya dogmatis dalam diri konseli dan secara kuat mencoba menguranginya.

Dalam proses konseling, beberapa ahli CBT berasumsi bahwa masa lalu tidak perlu menjadi fokus penting dalam konseling. Oleh sebab itu CBT dalam pelaksanaan konseling lebih menekankan kepada masa kini dari pada masa lalu, akan tetapi bukan berarti mengabaikan masa lalu.

CBT tetap menghargai masa lalu sebagai bagian dari hidup konseli dan mencoba membuat konseli menerima masa lalunya, untuk tetap melakukan perubahan pada pola pikir masa kini untuk mencapai perubahan di waktu yang akan datang.
Oleh sebab itu, CBT lebih banyak bekerja pada status kognitif saat ini untuk dirubah dari status kognitif negatif menjadi status kognitif positif.

Fokus Konseling

CBT merupakan konseling yang menitik beratkan pada restrukturisasi atau pembenahan kognitif yang menyimpang akibat kejadian yang merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis dan lebih melihat ke masa depan dibanding masa lalu.

Aspek kognitif dalam CBT antara lain mengubah cara berpikir, kepercayaan, sikap, asumsi, imajinasi dan memfasilitasi konseli belajar mengenali dan mengubah kesalahan dalam aspek kognitif.

Sedangkan aspek behavioral dalam CBT yaitu mengubah hubungan yang salah antara situasi permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan, belajar mengubah perilaku, menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, serta berpikir lebih jelas.

Baca : Prinsip dasar Cognitive-Behavior Therapy (CBT)

Sumber : Makalah “Cognitive-Behavior Therapy: Solusi Pendekatan Praktek Konseling di Indonesia” oleh Idat Muqodas. -- bkpemula.wordpress.com --