Proses dan Teknik Konseling Gestalt

thumbnail
Sofyan H. Wilis (2004) menyatakan bahwa proses konseling dalam terapi gestalt mengikuti lima hal penting, yaitu : (1) pemolaan, dilakukan setelah konselor memperoleh fakta atau penjelasan mengenai sesuatu gejala, dengan segera memberi jawaban, (2) pengawasan, yaitu kemampuan konselor untuk menyakinkan atau memaksa klien mengikuti prosedur konseling, melalui motivasi dan rapport, (3) potensi, yaitu usaha konselor untuk mempercepat terjadinya perubahan perilaku dan sikap serta kepribadian klien, (4) kemanusiaan, meliputi pengenalan secara pribadi dan emosional, mendorong, serta bersikap terbuka, dan (4) kepercayaan, termasuk kepercayaan diri konselor dalam membantu klien.

Sementara itu menurut M. Surya (2003) dan Sofyan H. Wilis (2004), proses konseling hendaknya dilakukan melalui empat tahapan sebagai berikut :

Fase 1, membentuk pola pertemuan terapeutik agar terjadi situasi yang memungkinkan perubahan perilaku pada klien.

Fase 2, usaha meyakinkan klien mengikuti prosedur konseling, melalui pemberian motivasi dan penciptaan hubungan baik.

Fase 3, mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan-perasaaannya saat ini, untuk menemukan aspek-aspek kepribadiannya yang hilang. Bukan pengalaman-pengalaman masa lalu dan harapanharapannya di masa depan.

Fase 4, yaitu fase dimana klien diharapkan sudah memiliki ciri-ciri kepribadian yang integral, unik, dan manusiawi.

Teknik konseling Gestalt
  1. Enhancing awareness, yaitu dengan membantu penyadaran klien terhadap pengalamannya saat ini.
  2. Personality pronouns, yaitu dengan meminta klien untuk mempridadikan pikirannya untuk meningkatan kesadaran pribadinya.
  3. Changing question to statements, yaitu mendorong klien untuk menggunakan peryataan-pernyataan dari pada pertanyaanpertanyaan.
  4. Assuming responsibility, yaitu dengan meminta klien untuk menggunakan kata ”tidak ingin” untuk ”tidak dapat”.
  5. Asking ”how” dan ”what”, yaitu bertanya ”bagaimana” dan ”apa”, untuk membantu agar klien masuk dalam pengalamannya perilakunya sendiri.
  6. Sharing hunches, yaitu mendorong klien untuk mengeksplorasi diri.
  7. Bringing the past into the now, yaitu membantu klien agar mengalami pengalaman-pengalaman masa lalunya ke dalam situasi sekarang.
  8. Exspressing resentment and appreciation, yaitu membantu klien untuk mengidentifikasi diri, menyatakan keadaan diri, dan menghargai dirinya sendiri.
  9. Using body exspression, yaitu dengan mengamati ekspresi badan klien dan memusatkan kepada penyadaran klien. 
Baca : Teori Konseling Gestalt

Sumber: Direktori File UPI

Teori Konseling Gestalt

thumbnail
Terapi gestalt lahir berdasar atas pengembangan dari empat disiplin ilmu yang berbeda, yaitu psikoanalisis, fenomenologis, eksistensialis, dan teori gestalt, dengan tokoh utamanya Frederick S Pearl.

1. Konsep utama

Terapi gestalt berangkat dari pandangan bahwa individu tidak dapat dipahami dengan hanya mempelajari bagian-bagian, melainkan harus dipahami sebagai suatu organisasi, koordinasi, atau integrasi dari keseluruahan bagian-bagian sebagai suatu keseluruhan. Manusia adalah makhluk yang aktif dan senantiasa berupaya untuk mencapai keseimbangan antara ikatan organisme dengan lingkungannya. Kesehatan akan dicapai apabila ia mampu menyeimbangkan keduanya, mampu menggeser kepentingan “saya” dan “engkau” menjadi “kami”.

Berbeda dengan psikoanalisis dari Freud, Pearl mengajukan adanya konsep “under dog” sebagai lawan super ego, yang dalam istilah Pearl disebut “top dog”. Apabila super ego menguasi individu dengan keharusan atau ketakutan akan ancaman bahaya, maka “under dog” menguasai individu dengan penekanan yang baik dalam rangka mempertahankan diri.

Menurut Pearl, baik “top dog” maupun “under dog” senantiasa bersaing untuk menguasasi dan mengontrol manusia, sehingga pada hakekatnya setiap manusia senantiasa tersiksa oleh kedua kekuatan dalam tersebut.

Disamping itu apabila dalam konsep psikoanalisis, frustrasi dapat dianggap sebagai sesuatu yang negatif atau ancaman, bagi Pearl frustrasi justru dipandang sebagai elemen positif karena dapat mendorong manusia untuk mengembangkan perlindungan, menemukan potensi-potensinya, atau dalam menguasai lingkungannya.

Karena itu, apabila anak tidak cukup mengalami frustrasi, maka akan cenderung menggunakan potensinya untuk mengontrol orang dewasa.

Pearl juga mengajukan konsep penghindaran (avoidance) dan urusan yang tidak terselesaikan (unfinished business). Penghindaran adalah segala cara yang digunakan seseorang untuk melarikan diri dari unfinished business dalam rangka membebaskan diri dari perasaan tertekan akibat adanya kebutuhan-kebutuhan yang mengalami kebuntuan (impase). Konsep penghindaran ini relative sama dengan konsep defence mechanism pada teori psikoanalisis.

Pearl juga menyatakan bahwa banyak manusia yang dihadapkan kepada situasi kritis karena tidak mampu mencapai keseimbangan atau keserasian dalam menyatakan antara apa yang seharusnya dan apa yang sebenarnya (antara gambaran diri dengan aktualisasi diri), serta antara aktualisasi “saat ini” dan “kemudian” (antara aktualisasi sekarang dan gambaran da peranannya di masa depan), atau karena tidak mampu menerima perasaan dan pikiran-pikirannya sendiri.

Kondisi-kondisi inilah yang kemudian dapat menjadikan individu dihantui ketakutan, kecemasan, rasa tidak percaya diri, dan bergantung kepada lingkungan. Tidak mampu menguasai diri dan lingkungan, yang akhirnya menjadikan dirinya lemah, kaku, atau terikat. Tidak memiliki kebebasan dan spontanitas dalam menyatakan diri dalam hubungan dengan lingkungan secara positif.

2. Tujuan konseling Gestalt

Tujuan utama terapi gestalt adalah membuat klien mampu menerima perasaan dan pikiran-pikirannya, meningkatkan kepercayaan diri, tidak takut dalam menghadapi dan berperan di masa depan, tidak bergantung pada orang lain, serta menyadari diri yang sebenarnya, sehingga pada akhirnya klien dapat memiliki spontanitas dan kebebasan dalam menyatakan diri dan mandiri.

Untuk itu penting bagi konselor untuk membantu upaya-upaya agar klien mampu menyadari tentang hambatan-hambatan dalam dirinya serta menghilangkannya.

3. Peran konselor dalam konseing Gestalt

Prinsip penting dalam terapi gestalt adalah di sini dan saat ini (here and now). Konsekuensinya, konselor hendaknya lebih mengutamakan pentingnya penyadaran klien (anak berkebutuhan khusus) terhadap situasi dan kondisi saat ini dan disini, melalui penggunaan prinsip “now”, “what” dan “how”. Bukan melalui prinsip “why”, karena hanya akan mengarahkan kepada masa lalu yang tidak pernah sampai kepada jawaban yang memadai.

Bagi klien, kondisi saat ini adalah unfinished business. Karena itu, yang penting bagi konselor adalah bagaimana klien dapat menyadari kondisi-kondisinya atau masalah-masalahnya saat ini dan bagaimana harus berbuat untuk mengatasinya. Sedangkan masa depan (the future) adalah sesuatu yang belum muncul, sehinga tidak perlu terlalu dirisaukan.

Pandangan teori gestalt tentang nilai positif dari frustrasi, tampaknya juga harus dimanfaatkan konselor dengan membuat klien menjadi “kecewa”, sehingga klien dipaksa untuk dapat menemukan potensi-potensinya dan cara-cara mengatasi masalahnya, dengan memahami dan menemukan kembali unfinished business-nya. Dalam konteks ini pemberian motivasi kepada klien menjadi penting.

Baca : Proses dan Teknik Konseling Gestalt

Sumber : Direktori File UPI

Murid Bermasalah, Berkah Seorang Guru

thumbnail
Sukses mencetak murid cerdas jadi pandai, bukan hal hebat bagi seorang guru. Guru yang hebat adalah yang mampu mengajar dan mendidik murid yang lemah atau bermasalah menjadi pribadi yang baik, dalam akademik maupun non-akademik.

“Berkah terbesar bagi seorang guru adalah ketika ia mendapatkan murid yang bermasalah dan lemah tak berdaya karena kehadiran murid-murid yang seperti itu akan melebarkan jalan bagi guru untuk mendapatkan pekerjaan yang bernilai ibadah yang nilainya tanpa batas,” kata Direktur Institut Indonesia Bermutu (IIB) Zulfikri Anas dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Sabtu (25/11).

Di mata pakar kurikulum itu, justru seorang guru harus berterima kasih manakala mendapatkan murid yang lemah dan bermasalah. “Berterimakasihlah kepada mereka yang telah memperkuat kesabaran, memperdalam keimanan, mempertinggi ilmu kita sebagai guru,” tuturnya.

Menurut penulis buku Kurikulum Untuk Kehidupan dan Sekolah Untuk Kehidupan itu, keberadaan murid lemah dan bermasalah di sebuah sekolah justru merupakan fasilitas istimewa dari Allah. “Kehadiran mereka merupakan fasilitas istimewa dari Allah untuk mengangkat derajat kita sebagai guru. Satitiak jadikan lawik, sakapa jadikan gunuang (setetes jadikan laut, sekepal jadi gunung). Itulah makna kehadiran mereka. Selamat Hari Guru Nasional, 25 November 2017,” papar Zulfikri Anas.

Sumber : republika.co.id

10 Karakter Guru

thumbnail
Penguatan pendidikan karakter menjadi topik utama dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM). Hanya guru berkarakter yang dapat melahirkan siswa berkarakter. Dan mustahil, guru yang tidak berkarakter dapat melahirkan siswa yang berkarakter.

Ada 10 karakter yang harus ada pada diri guru sebagai bekal menjalankan tugasnya untuk melahirkan siswa berkarakter.

Pertama, salimul aqidah (bersih akidahnya). Guru yang memiliki akidah yang bersih akan mempersembahkan semua yang ada dalam dirinya hanya untuk Allah semata, termasuk dalam hal mendidik siswa. Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS al-An'am [6]: 162).

Kedua, sahihul ibadah (benar ibadahnya). Guru yang benar ibadahnya adalah guru yang dalam menjalankan seluruh aktivitasnya, termasuk dalam mendidik siswa sebagai sarana ibadah kepada-Nya. Dan ibadahnya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Shalatlah kamu seperti yang kamu lihat aku shalat (HR Bukhari).

Ketiga, matinul khuluq (kokoh akhlaknya). Guru yang memiliki akhlak mulia adalah guru yang selalu menjadikan Nabi sebagai teladan dalam hidupannya sehingga guru layak menjadi teladan bagi siswanya. Sebab Nabi SAW adalah manusia yang memiliki akhlak mulia. Dan sesungguhnya kamu wahai Muhammad benar-benar memiliki akhlak yang agung (QS al-Qalam [68]: 68).

Keempat, qawiyyul jismi (kuat jasmaninya). Dalam menjalankan tugasnya guru harus didukung dengan badan yang sehat dan kuat sehingga guru mampu tampil dengan energik dalam mendidik siswa. Dalam hal ini, Nabi SAW bersabda, Mukmin yang kuat lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah (HR Muslim).

Kelima, mutsaqqaful fikri (intelek dalam berpikir). Guru yang berkarakter adalah guru mau belajar dan belajar serta meng ajarkannya sehingga ilmunya bermanfaat. Maka, Katakanlah: Apakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?" (QS az-Zumar [39]: 9).

Keenam, mujahidun linafsihi (kuat melawan hawa nafsu). Di antara karakter guru yang berkarakter adalah guru yang dapat mengendalikan hawa nafsu dan emosinya, bukan yang malah memperturuti nafsunya dengan sering marah-marah. Dalam hal ini, Nabi SAW bersabda, Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya tunduk pada ajaran Islam yang aku bawa (HR Hakim).

Ketujuh, harisun ala waqtihi (sungguh-sungguh menjaga waktunya). Kemampuan memanfaatkan waktu adalah tanda sebagai guru yang produktif. Nabi SAW bersabda, Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum miskin, lowongmu sebelum sibuk, dan hidupmu sebelum mati (HR Hakim).

Kedelapan, munadzdzamun fi syu'unihi (teratur dalam semua urusan). Keteraturan dalam segala hal adalah karakter yang harus melekat dalam diri seorang guru yang dibuktikan dengan kerapian administrasi pengajaran. Ali bin Thalib pernah mengingatkan bahwa, Kebatilan yang teratur dapat mengalahkan kebenaran yang tidak teratur.

Kesembilan, qadirun alal kasbi (mampu berusaha sendiri). Guru yang berkarakter adalah guru yang mampu hidup mandiri, bukan menjadi beban orang lain sehingga guru dapat fokus mendidik peserta didik. Dalam hal ini, Nabi SAW bersabda, Tidak ada penghasilan yang lebih baik bagi seorang laki-laki daripada bekerja sendiri dengan kedua tangannya (HR Ibnu Majah).

Kesepuluh, nafiun lighairihi (bermanfaat bagi orang lain). Jelas guru harus selalu dapat memberikan manfaat kepada orang lain, khususnya kepada peserta didik. Nabi SAW bersabda, Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia (HR Ahmad, Thabrani, dan Daruqutni).

Semoga Allah membimbing kita para guru agar menjadi pribadi yang memiliki 10 karakter seperti di atas sehingga dapat melahirkan peserta didik yang berkarakter. Amin.

Penulis : Imam Nur Suharno -- republika.co.id --

5 Hal yang Patut Ditanamkan kepada 'Kids Zaman Now'

thumbnail
Sosiolog sekaligus Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Musni Umar, mengungkapkan lima hal positif yang perlu ditanamkan dalam diri 'kid zaman now'.

Pertama adalah keharusan memiliki empati dan kepedulian terhadap anak dan kaum muda. Sebab mereka adalah harapan.

"Kedua, mesti membangun dialog dengan anak-anak kita sebagai bagian dari generasi muda Indonesia. Selain itu, harus dilakukan pengawasan yang dimulai dari keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat, sehingga keluarga menjadi pilar yang memperkukuh bangsa dan negara kita," kata dia dalam keterangannya, Ahad (26/11).

Ketiga, yaitu memperkuat sumber daya manusia (SDM) generasi muda. Saat ini dalam kehidupan penuh persaingan. Maka mau tidak mau dan suka tidak suka, harus mempersiapkan anak-anak dan generasi muda Indonesia supaya memiliki sumber daya manusia yang kuat imannya, akhlaknya dan juga punya ilmu pengetahuan sehingga mampu bersaing.

Keempat, memperkukuh budaya daerah dan budaya nasional. Budaya merupakan pilar kedua setelah SDM untuk membuat bangsa Indonesia kuat dan maju di masa depan.

Kelima, menumbuhkan optimisme. Bangsa Indonesia harus selalu menjauhi sikap pesimisme dan terus-menerus menghadirkan optimisme.

"Sebab, sebesar apapun sesulitan yang dihadapi, jika memiliki sikap optimisme dan menjadi pekerja keras yang cerdas, maka segala kesulitan bisa diatasi," jelas Musni.

Musni memaparkan, 'kids zaman now' yang dikemukakan dan menjadi viral di dunia maya merupakan upaya kaum muda untuk mencari perhatian, mencari identitas dan aktualisasi diri. Generasi muda yang sering disebut pemuda, menurut hasil Sensus Nasional tahun 2012 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) berjumlah 62,53 juta (25,51 persen) dari total penduduk Indonesia.

"Jumlah kaum muda Indonesia amat besar dan sejatinya merupakan masa depan kita, karena merekalah yang akan menggantikan generasi sekarang. Kalau mereka baik, maka baiklah bangsa ini di masa depan. Sebaliknya jika mereka rusak, maka rusaklah masa depan Indonesia," katanya.

'Kids zaman now' telah melahirkan berbagai perubahan. Perubahan yang hadir ditengah-tengah kita merupakan dampak dari kemajuan teknologi, di mana setiap orang bebas menggunakan internet melalui facebook, twitter, instagram, Youtube dan sebagainya dengan inang media sosial (medsos).

Perubahan yang tengah terjadi di masyarakat kita terutama dikalangan kaum muda Indonesia, ada yang negatif seperti narkoba yang banyak dikonsumsi kaum muda, seks bebas, berpakaian setengah telanjang, berpacaran, hidup bermewah-mewah (hedonisme) dan sebagainya.

Sumber : republika.co.id

Optimisme dalam kesulitan

thumbnail
Walau sulit, tetap optimistis. Inilah salah satu teladan yang melekat pada diri Rasulullah. Nilai ini pula yang beliau tanamkan kepada para sahabat dan umatnya.

Sikap optimistis memang sangat dibutuhkan. Sebab, hidup di dunia hanya mengenal dua keadaan, yaitu susah dan senang. Keduanya silih berganti mengisi hari-hari kita dalam hidup ini. Dua keadaan ini akan menjadi batu ujian bagi setiap manusia. Lulus atau tidak, bergantung pada bagaimana menyikapinya.

Dalam kondisi senang, optimistis bukanlah sesuatu yang berat. Namun, dalam situasi sulit, terkadang tidak mudah menghadirkannya. Sebab, yang selalu terbayang adalah hal-hal yang buruk. Padahal, untuk bisa lulus dan bangkit dari keterpurukan, modalnya adalah optimistis.

Itulah sebabnya Rasulullah begitu gigih dalam menanamkan nilai yang satu ini. Dalam salah satu hadis, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, "Tidak ada perasaan buruk dan kesialan, dan yang lebih baik dari itu adalah rasa optimistis." Maka ditanyakanlah kepada beliau, "Apa yang dimaksud dengan rasa optimistis?" Beliau bersabda, "Yaitu kalimat baik yang sering didengar oleh salah seorang dari kalian." (HR Ahmad).

Beberapa peristiwa dalam sejarah menunjukkan sikap optimistis Rasulullah SAW yang tidak pernah redup. Kala berdakwah di Makkah, penolakan dan ancaman adalah menu yang selalu beliau cicipi setiap hari. Namun, beliau tetap melangkah. Hingga akhirnya beliau memilih untuk pergi ke Thaif dan menyebarkan dakwah Islam di sana.

Namun, apa yang terjadi? Penolakan penduduk Kota Thaif tak jauh berbeda dengan warga Makkah. Di situlah tampak jelas betapa tinggi optimisme beliau. Saat dua malaikat menawarkan menimpakan dua gunung besar kepada penduduk Thaif, kalimat indah meluncur dari lisan beliau, "Jangan, semoga lahir dari keturunan mereka yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya." (HR Bukhari).

Sikap optimistis adalah warisan berharga para nabi. Hampir setiap nabi pernah berhadapan dengan situasi yang sangat sulit. Namun, tak seorang pun di antara mereka yang menunjukkan sikap pesimistis, apalagi sampai meninggalkan tugas yang mereka emban. Mereka tetap melangkah dengan penuh keyakinan Allah akan membantu.

Kisah Nabi Musa salah satu contohnya. Saat berada dalam kejaran Firaun, setelah berlari cukup jauh, ia dan umatnya harus berhadapan dengan lautan yang luas. Rasa cemas menggelayuti umatnya. Bahkan, ada yang mengatakan, "Sungguh Firaun pasti akan mendapati kita." (QS as-Syu'ara: 61). Namun, dengan penuh optimisme, "Musa mengatakan, sekali-kali tidak, sesungguhnya Tuhanku bersamaku yang akan memberikan petunjuk kepadaku." (QS as-Syu'ara: 62).

Optimistis adalah ajaran ilahi. Sumber dan asal usulnya adalah berbaik sangka kepada Allah, kepada takdir dan ketentuan-Nya. Ibnu Hajar al-Asqolani berkata, "Sesungguhnya Rasulullah menyukai optimisme karena pesimisme adalah buruk sangka kepada Allah dan optimisme adalah berbaik sangka kepada-Nya." (Fathul Bari).

Tumbuhnya sikap optimistis berkaitan erat dengan keimanan, terutama iman kepada takdir, yaitu mengimani bahwa setiap ketetapan Allah selalu mengandung hikmah dan kebaikan.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita sikap optimistis. Amin.

Penulis : Ahmad Rifai - republika.co.id

7 Indikator Kebahagiaan Dunia

thumbnail
Siapa yang tidak ingin hidup bahagia? Bukan hanya sekadar bahagia di dunia, tapi yang lebih penting lagi adalah bahagia di akhirat. Itulah doa seorang Muslim, setiap selesai shalat, “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebahagiaan hidup di dunia, dan kebahagiaan hidup di akhirat, dan lindungilah kami dari azab api neraka.”

Terkait dengan hidup bahagia itu, Ibnu Abbas ra menjelaskan, ada tujuh indikator kebahagiaan di dunia.

Pertama, qolbun syakirun, hati yang selalu bersyukur. Artinya selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress. Inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur.

Kedua, al azwaju sholiha, pasangan hidup yang saleh/salehah. Pasangan hidup yang saleh/salehah akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sakinah, mawaddah warohmah (tenang, penuh cinta dan kasih sayang).

Ketiga, al aulaadul abror, anak yang saleh/salehah, Doa anak yang saleh/salehah untuk orang tuanya akan dikabulkan Allah SWT. Berbahagialah orang tua yang memiliki anak saleh/salehah.

Keempat, al biatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita. Rasulullah SAW menganjurkan untuk bergaul dengan orang-orang saleh/salehah yang selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan bila kita salah.

Kelima, al maalul halal, harta yang halal. Bukan banyaknya harta tapi halalnya harta yang dimiliki. Harta yang halal akan menjauhkan setan dari hati. Hati menjadi bersih, suci dan kokoh sehingga memberi ketenangan dalam hidup. Berbahagialah orang yang selalu menjaga kehalalan hartanya dengan teliti.

Keenam, tafaqquh fid dien, semangat untuk memahami agama. Dengan belajar ilmu agama, akan semakin cinta kepada agama dan semakin tinggi cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.

Ketujuh, umur yang berkah. Yakni, umur yang semakin tua semakin saleh. Setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Semakin tua semakin rindu untuk bertemu dengan Allah SWT Sang Maha Pencipta. Inilah semangat hidup orang-orang yang berkah umurnya. Berbahagialah orang-orang yang umurnya berkah.

Semoga Allah karuniakan kepada kita tujuh indikator kebahagiaan hidup di dunia, sehingga hidup kita bahagia, tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Aamiin.

Penulis : Ustaz Saefullah MA (republika.id)

Jiwa guru yang utuh sebagai pengajar

thumbnail
Setiap guru adalah manusia, tetapi tidak semua manusia memilih peran menjadi guru. Manusia memiliki fitrah dan kecenderungan untuk menjadi orang baik atau orang jahat. Baik atau jahatnya perilaku seorang guru sangat ditentukan oleh jiwa dan hatinya. Jiwa (an-nafs) adalah wujud atau dirinya, sedangkan hati (qalb) adalah sifat dari jiwa.

Ilmu menjadi guru bisa diwariskan dari para pengajar. Ilmu menjadi guru yang terampil mengajar bisa didapatkan di ruang-ruang perkuliahan, acara seminar, dan pelatihan guru. Namun, hanya ada satu cara agar guru memiliki jiwa yang utuh sebagai pengajar dan pendidik: bersihkan jiwanya dari sifat-sifat buruk.

Abu Sangkan dalam bukunya yang berjudul Berguru Kepada Allah (2008) menjelaskan makna an-nafs. An-nafs artinya 'diri'. Nafs ammarah bissu' (diri yang buruk), nafs lawwamah (diri yang menyesal), dan an-nafs muthmainnah (diri yang tenang). Semua sifat itu terdapat pada diri (an-nafs).

Diri yang labil dengan kecenderungan terhadap sifat-sifat itulah yang dinamakan qalb (diri) yang terombang-ambing, sedangkan Allah memanggil kepada diri yang tenang dan jernih (muthmainnah) dalam firman-Nya, "Wahai diri (jiwa/nafs) yang tenang, datanglah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai oleh-Nya." (QS al-Fajr: 27-28).

Tak ada seorang guru pun yang mampu membersihkan hatinya dari perbuatan dosa. Karena setan memiliki segala tipu muslihat untuk menjerumuskan guru agar berbuat keji dan mungkar. Firman Allah SWT, "Dia berkata (setan) karena Engkau telah menghukumku tersesat, sungguh akan kutahan untuk mereka (manusia) itu dari jalan-Mu yang lurus, kemudian akan kuserang mereka dari muka, belakang, kanan, dan kiri mereka ...." (QS al-A'raf: 16-17).

Meski demikian, setiap guru mesti menyadari bahwa dalam jiwa manusia terdapat fitrah dari Allah SWT untuk mengetahui hal baik dan buruk serta mampu membedakan benar dan salah. Ibnu Taimiyah menyebutnya sebagai fitrah yang diturunkan. Fitrah ini tak dapat muncul begitu saja. Setiap guru harus berjuang mengembangkan potensi fitrah itu dengan jalan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Jiwa adalah hal esensial bagi guru. Tanpa jiwa yang tulus dan suci, mustahil melahirkan visi hidup yang jelas tentang pilihan hidup menjadi guru. Tanpa jiwa yang menyesali perbuatan dosa, sulit bagi guru mengendalikan hawa nafsu. Tanpa jiwa yang tenang, susahnya menjadi guru yang konsisten melakukan perbuatan baik dan bermanfaat bagi orang lain.

Menjadi sosok guru dengan jiwa yang baik adalah bicara soal kemauan, bukan kemampuan. Siapa yang mau dan sungguh-sungguh untuk berpasrah diri dan menghambakan dirinya kepada Allah SWT, jadilah dia sosok guru yang berlimpah keteladanan. Bukan semata karena dirinya yang hebat, tetapi karena Allah ridha dan melindungi dirinya dari segala keburukan niat, kata, dan perbuatan diri (QS Shad: 82-83). Wallahu a'lam bishawab.

Penulis : Asep Sapaat - republika.co.id