Ini 8 Kunci Sukses Menjadi Guru

thumbnail
Mengawali tahun pelajaran 2018/2019, Pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bogor menggelar pelatihan untuk guru.

Acara yang dipusatkan di Aula PGRI Cabang Bogor, Jalan Pangeran Asogiri, Tanah Baru, Bogor, Jawa Barat, ini mengambil tajuk, "Membangun Etos Kerja dan Profesionalisme Berbasis Quantum Learning" dengan menampilkan narasumber tunggal H Asep Mahfudin dari Rumah Karakter Indonesia, Rabu (8/8).

Setelah dibuka secara resmi oleh Ketua PGRI Kabupaten Bogor, Dadang Suntana, panitia mendaulat Asep Mahfudin mengisi materi. Pria kelahiran Cimahi, Bandung, 4 April 1978 ini, langsung melakukan penyegaran dan memecah kebekuan suasana melalui tepuk dan gerak untuk melatih konsentrasi.

Kegiatan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama, membangun etos kerja dan profesionalisme. Sedangkan, sesi kedua etos kerja dalam bingkai quantum learning.

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini mengatakan, guru sebagai ujung tombak pendidikan di Indonesia harus memiliki etos kerja yang tinggi. ‘’Kunci guru excellent atau etos personal dikembangkan di quantum learning. Supaya guru-guru dalam mengajar, berperilaku, dan bersikap harus berpijak pada delapan kunci,’’ katanya menjelaskan dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Rabu (8/8).

Kemudian, pria yang sudah menelurkan enam judul buku ini memberikan delapan kunci bagi guru yang unggul.

Pertama, memiliki integritas. "Jadi, guru yang hebat dan istimewa itu guru yang memiliki integritas. Apa yang dia pikirkan, apa yang dia lakukan, sesuai,’’ terangnya.

Kedua, guru hebat itu selalu memaknai apa yang terjadi dalam hidupnya (failure lead to success--Red). Setiap mengalami kegagalan, selalu bangkit dan bangkit lagi. ‘’Nah, kalau guru punya sikap seperti itu sangat luar biasa.’’

Ketiga, guru hebat bicaranya selalu positif. Muncul dari situ dia selalu bicara memotivasi dan menginsiprasi.

Keempat, this is it. Maksudnya dia punya apa pun kebaikan, pikiran yang baik, sikap yang baik, langsung dia lakukan saat itu.

"Kelima, memiliki komitmen, dia harus berkomitmen dalam segala hal, terutama bagaimana membangun anak-anak yang cerdas," tuturnya.

Keenam, ownership. Guru harus punya tanggung jawab yang tinggi karena dia membawa nama besar guru.

Ketujuh, fleksibel dalam segala hal setiap pembelajaran. ‘’Dia tidak kaku. Dia harus memiliki banyak metodologi pembelajaran sehingga anak-anak senang, anak-anak berproses sesuai zamannya. Maka itu, guru harus banyak belajar tentang teknologi saat ini,’’ pintanya.

Kedelapan, balance. Harus seimbang. ‘’Jadi, sibuk di sekolah juga harus ingat di rumah. Dia sibuk di organisasi, tapi juga harus ada waktu buat keluarga. Seimbang bukan hanya otak kiri, tapi otak kanan juga,’’ paparnya.

Ketua Panitia Barkeh Dimyati mengatakan, kegiatan ini diikuti 190 peserta utusan dari 40 kecamatan se-Kabupaten Bogor. Selain dihadiri Ketua PGRI Cabang Kabupaten Bogor, Dadang Suntana, juga hadir Kepala Sekolah SD, SMP, SMA, IGTK, Himpaudi dan pengawas sekolah.

‘’Alhamdulillah, peserta sangat antusias. Buktinya sampai sore mereka menikmati acara dan tidak tampak lelah. Ini membuktikan mereka sangat antusias dan tertarik dengan materi yang disajikan,’’ ucapnya penuh syukur.

Sumber: republika.co.id

Menahan Marah dengan Qana'ah

thumbnail
Cerita ini didapat dari sebuah tulisan yang tersebar viral. Cerita tentang indahnya menerima ketetapan Allah atau qana'ah. Cerita tentang bagaimana menyadarkan orang-orang yang kita cintai atas pemberian Allah SWT.

Alkisah seorang suami pulang ke rumah dengan membawa pesanan mangga yang diminta sang istri. Saat dikupas dan disantap, ternyata buah mangga tersebut super asam. Sejurus kemudian sang istri pun marah-marah.

Si suami menanggapi dengan tenang amarah sang istri. Setelah selesai didengarkan 'bisikan setan' ini, beliau bertanya dengan halus, "Wahai istriku yang salehah, kepada siapakah engkau sebenarnya marah? Kepada pedagang buahnya kah? Ataukah kepada pembelinya yaitu suamimu yang telah berikhtiar dengan cinta membawakan mangga pesananmu? Atau kepada petani yang menanamnya? Ataukah kepada Yang Menciptakan buah mangga itu?"

Sang istri pun terdiam. Sebuah pertanyaan yang tidak disadari langsung mengelus batin kesadarannya.

Sembari tersenyum, si suami melanjutkan nasihat hikmahnya."Seorang pedagang buah yang baik tidak mungkin menjual buah kecuali yang terbaik. Seorang pembeli pun pasti membeli inginnya sesuatu yang terbaik pula! Begitu pula seorang petani, tentu saja ia akan merawat tanamannya agar bisa menghasilkan tanaman yang terbaik! Bukankah begitu, istriku?"

"Maka," lanjut si suami, "sasaran kemarahanmu kini tinggal satu, tidak lain hanya kepada yang Menciptakan mangga itu! Siapa?" Allah Jalla Jalaaluh!!!"

Pertanyaan si suami ini sekaligus mengakhiri drama melankolis sang istri yang kemudian diliputi sesal dan meminta maaf.

Cerita ini mengajarkan satu hal bahwa setiap keluhan yang berujung marah sejatinya sama saja kita tidak ridha atas ketetapan Allah. Bukankah setiap peristiwa sudah menjadi ketetapan-Nya?

Karena itu, mari belajar ridha dan ikhlas dengan semua ketetapan Allah.Sungguh kekayaan sebenarnya dan kepuasan hidup itu ketika kita memiliki sifat ridha dan ikhlas dengan apa pun kejadian dan peristiwa-Nya.

Ibnu Batthol mengingatkan bahwa ada kekayaan yang tersembunyi dan ia adalah intan berlian bagi kehidupan kita, yaitu qana'ah; ridha dengan ketetapan Allah Ta'ala dan berserah diri pada keputusan-Nya. Wallahu A'lam.

Penulis : USTAZ MUHAMMAD ARIFIN ILHAM -- republika.co.id

Tujuh langkah untuk tidak mudah stres maupun bisa segera bangkit dari stres

thumbnail
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita pasti akan menemukan masalah yang disebabkan oleh berbagai faktor. Masalah yang datang terkadang menjadi beban dalam pikiran kita, apalagi jika masalah yang muncul datang bertubi-tubi. Ini akan menjadikan kita stres.

Stres yang berkepanjangan dapat mengakibatkan hal-hal negatif, diantaranya adalah penurunan semangat kerja, mudah terserang penyakit, kebotakan di usia muda, dan bahkan dapat memperburuk hubungan dengan orang yang kita cintai.

Oleh karena itu, dibutuhkan keterampilan untuk menghilangkan stres, atau setidaknya untuk meminimalisir munculnya stres. Pada laman republika.co.id melansir tujuh langkah untuk tidak mudah stres, maupun bisa segera bangkit dari stres.

1. Mengenali Perasaan

Kenali emosi apa yang sedang Anda rasakan terlebih dahulu, apakah itu merasa senang, sedih, patah hati, marah, tidak percaya diri hingga cemas.

2. Menghela napas

Bernapas dengan pelan dan lembut merupakan cara tercepat dan termudah untuk meredakan respon stres.

3. Tuliskan dan lepaskan

Menulis jurnal dapat membantu Anda meredakan emosi sekaligus mendapatkan pikiran yang lebih jernih.

4. Mengingat hal-hal yang patut disyukuri

Tuliskan beragam hal yang Anda miliki dan Anda patut syukuri saat ini secara rutin.

5. Bermain

Beberapa aktivitas yang bisa Anda lakukan adalah menggambar sesuatu yang berkaitan dengan kenangan menyenangkan, menggambar tempat yang bahagia maupun menggambar sosok orang yang sedang tersenyum.

6. Tantangan kasih sayang

Anda bisa mengubah perspektif negatif Anda dengan tantangan mengenai kasih sayang.

7. Pancaran positif

Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang memikirkan orang lain adalah orang yang paling berbahagia. Karena itu, buatlah orang lain merasa lebih baik dengan mengirimkan pesan ataupun email yang berisikan pesan-pesan positif.

Teman yang Baik Menurut Rasulullah

thumbnail
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup seorang diri. Dengan bersosialisasi, pemikiran seseorang dapat lebih terbuka dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya.

Meskipun manfaat bersosialisasi amat penting, seseorang juga perlu selektif dalam bergaul. Rasulullah SAW selalu berpesan agar dapat memilih pergaulan yang baik dan dapat membawa pada kebaikan.

"Teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi, engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalau pun tidak, engkau tetap dapat mendapatkan bau harum darinya. Adapun pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap." (HR. Bukhari-Muslim).

Dari sabdanya, Rasulullah menyarankan umat Muslim pintar memilih teman, karena mereka dapat memiliki pengaruh besar dalam pembentukan pemikiran dan perasaan kita. Selain itu, Nabi juga berpesan bila seseorang ingin sukses maka bergaullah dengan orang yang berkualitas.

Jika dilihat, kebanyak orang-orang sukses akan lebih dekat atau nyaman bergaul dengan mereka yang memiliki kebiasaan positif dan memprioritaskan diri untuk meraih keberhasilan. Berbeda dengan mereka yang cenderung tidak memiliki semangat saing, akan lebih suka bergabung dengan orang yang belum jelas tujuan hidupnya.

Sumber : republika.co.id

Cara membangun hubungan dengan konseli

thumbnail
Membangun rapport atau hubungan dengan konseli merupakan salah satu keterampilan konseling yang paling penting, yang harus dimiliki konselor. Dalam laman masterincounseling.org, disebutkan bahwa sekitar 40% perubahan pada diri konseli disebabkan oleh kualitas hubungan konseling.

Hubungan intim yang terjadi antara konselor dengan konseli menjadi sangat penting untuk mendapatkan kepercayaan konseli. Jika tidak, konseli enggan berbagi informasi penting dengan konselor, tidak akan mempercayai apa yang disampaikan konselor, dan secara umum, konseli tidak akan berpartisipasi aktif dalam proses konseling, sesuai yang diharapkan dalam sesi konseling yang efektif.

Bagaimana cara membangun hubungan konseling ini ? beberikut beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1. Keterampilan mendengarkan aktif (active listening skills)

Sebelum konselor melakukan upaya intervensi, tunjukkan kepada konseli bahwa konselor memahami konseli, darimana mereka berasal, dan apa kisah yang mereka bawa saat sesi konseling.

Baca: Empat teknik mendengar aktif

2. Latar belakang konseli

Untuk membangun kepercayaan konseli, mungkin dibutuhkan waktu lebih lama, bergantung pada budaya, latar belakang, kepribadian konseli, dan lain-lain. Penting untuk menyadari sinyal-sinyal non-verbal, karena tidak semua konseli akan dengan jelas menyatakan ketidanyamanan mereka.

Baca: Urgensi konseling multikultural di sekolah

3. Atasi masalah kecil

Sebelum masuk pada masalah yang lebih besar, pribadi, dan sensitif. Ada baiknya mencoba intervensi pada masalah yang lebih kecil terlebih dahulu. Berikan informasi yang bermanfat, umpan balik positif atau dorongan. Kesuksesan konselor dalam intervasi awal ini akan membantu konseli membangun kepercayaan pada konselor.

4. Tunjukkan respect pada konseli

Berikan rasa hormat pada konseli sejak awal konseling, seperti, tepat waktu, berpakaian secara profesional, menyiapkan dokumen-dokumen yang terkait dengan konseli.

5. Gaya komunikasi

Perhatikan konseli, dan sadari gaya komunikasinya. Sesuakan ritme komunikasi dengan konseli, namun konselor harus tetap fokus dan tenang, karena seringkali konseli akan meniru gaya konselor.

6. Kompetensi

Sadari kompetensi yang konselor miliki, jika konselor tidak memiliki kompetensi dalam membantu konseli, sampaikan secara terbuka pada konseli. Biarkan konseli yang memutuskan, apakah konseli menginginkan bantuan konselor atau tidak ?, bukan konselor yang memutuskan.

7. Mengungkapkan informasi diri konselor (Self disclosure)

Mengungkapkan informasi pribadi konselor dapat menjadi pembuka dalam membangun hubungan. Tapi hati-hati, terlalu banyak mengungkap informasi pribadi dan tidak tepat alasan dapat menjadi bumerang bagi konselor. Alih-alih mendapatkan kepercayaan, sebaliknya justru konseli akan menarik diri.

Baca : Keterampilan membuka diri dalam konseling

Ingat ! hubungan konseling benar-benar merupakan faktor paling penting dalam sesi konseling, melebihi teori maupun intervensi yang konselor gunakan.

9 Tips untuk Anak yang Gemar Gunakan Media Sosial

thumbnail
Sama seperti bagaimana Anda aktif di masyarakat online di platform media sosial seperti Snapchat, Instagram dan Facebook, hal itu jugalah yang dilakukan anak-anak Anda !

Meskipun anak Anda tidak berhadapan secara langsung saat bergaul di media sosial, ini tidak berarti mereka harus merasa aman untuk chatting secara terbuka.

Itulah sebabnya kejadian bullying di dunia cyber adalah satu masalah yang benar-benar terjadi. Dewan Literasi Media Singapura (The Media Literacy Council/MLC) menarik perhatian bahwa tiga dari 10 murid dan remaja pernah menjadi korban bullying di media online.

Justeru, mari kita periksa sembilan hal ini untuk bersama anak Anda ketika menggunakan media sosial;

1. Jangan Unggah Informasi Pribadi ke Publik

Informasi seperti lokasi mereka dan informasi pribadi tidak harus ditempatkan di internet kecuali mereka ingin menjadi korban kejahatan. Meskipun sekedar berbagi lokasi sebuah kafe di Instagram, akan lebih baik itu dilakukan setelah mereka meninggalkan kafe itu.

2. Jangan Sebarkan Informasi Palsu (Hoax)

Di bawah UU Telekomunikasi (ITE), Anda bisa didenda hingga pidana penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar karena menyebarkan informasi palsu. Menyebarkan informasi tentang ancaman bom di sekolah misalnya dapat membuat anak Anda dipenjara !

3. Bersikap Sopan Walau Berbeda Pendapat

Jika seorang pengguna lain menggunakan kata-kata vulgar, nasihatkan anak Anda untuk tidak beradu mulut. Mereka bisa saja melarang siapa saja untuk berinteraksi dengan mereka.

4. Jangan Mempermalukan Sahabat Sendiri

Ingatkan anak Anda untuk tidak mempermalukan rekan sendiri.

Mereka tidak memiliki kontrol penuh untuk memadamkan informasi pribadi di Internet. Meskipun mereka sudah menutup gambar atau video. Ingat ! Orang lain mungkin sudah menyimpan salinan gambar itu.

5. Bertanggungjawab

Apa yang dianggap satu hal yang lucu mungkin membawa efek mendalam pada masa depan. Lebih baik untuk anak Anda tidak menyuarakan pendapat mereka sendiri jika hal itu menjadi kondisi yang tidak dapat dikontrol.

6. Hormati Perbedaan Pendapat

Jangan menggunakan kata-kata kasar, meledek, menghina ras atau suku. Setiap kata-kata seperti itu lebih banyak memicu kekerasan atau kegelisahan, dan dapat mengantar penulisnya ke meja hukum.

7. Tunjukkan Rasa Ihsan

Ajar anak Anda kita tentang sifat belas kasih (ihsan) dan berbuat baik. Ini karena apa yang dikatakan mereka mungkin membawa maksud yang berbeda kepada orang lain dan dapat menggores hubungan mereka.

8. Tidak Perlu Bersalah ‘Memblock’ Akun Orang Lain

Tidak salah untuk mereka melarang atau ‘mem-block’ akun/pengguna lain meski membuat mereka merasa tidak senang. Ketika teman-teman mereka mengganggu mereka atau orang tidak dikenal menggunakan kalimat-kalimat berunsur seksual, kekerasan, ejekkan, tidak perlu bersalah, bahkan jika perlu di’block’ saja mereka.

9. Sebarkan Hal Positif

Kata-kata ajak kebaikan, kata-kata positif, akan jauh lebih berarti daripada mengeluh tentang pekerjaan sekolah, perasaan galau, atau mengeluh segala urusan pribadi kita melalui medsos. Semakin banyak galau dan mengeluh, justru akan mengundang ‘penjahat cyber’ mendatangi anak kita!

Sumber: hidayatullah.com

Saling Menasihatilah

thumbnail
Manusia tempatnya salah, mudah lupa. Sifat iman naik-turun. Manusia tidak luput dari masalah, baik itu sebagai musibah ataupun ujian, dan lain-lainnya. Karenanya, kita membutuhkan nasihat-nasihat yang terus-menerus, baik kita sebagai manusia muda atau pun manusia dewasa. Hal itu sangat penting agar kita tidak merugi.

Sebagainana firman Allah SWT dalam Surat Al-‘Ashr: 2-3: “Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran, dan saling menasehati untuk kesabaran.

Sering sekali manusia melakukan kesalahan, baik karena tidak tahu ilmunya atau tahu ilmunya tapi terbujuk rayuan setan untuk berbuat salah. Dua kondisi tersebut membutuhkan nasehat. Jika kondisi tidak tahu ilmunya diberi tahu ilmunya sambil dinasehati. Jika tahu ilmunya diingatkan sambil dinasehati. Untuk tahu ilmunya, butuh tips dan trik tentunya. Yakinlah, jika berniat supaya manusia berbuat kebenaran, pasti ada jalannya.

Penasihat sendiri pun butuh nasihat. Sebab, walaupun tahu ilmunya, bisa juga melakukan kesalahan akibat terbujuk godaan setan. Untuk kondisi ini, berarti penasihat butuh juga penasihat. Mencari penasihat adalah suatu solusi untuk kondisi ini. Penasihat dari penasihat pun membutuhkan nasehat, dan seterusnya mengingat sifat setan yang bersumpah sampai hari kiamat akan menggoda manusia untuk berbuat salah atau berbuat tidak berbuat benar. Tidak ada yang manusia yang tidak butuh nasehat.

Sifat lupa adalah manusiawi atau kodrati. Kondisi ini pun membutuhkan nasihat. Begitu pula halnya dengan iman, yang sifatnya naik-turun, manusia membutuhkan nasehat atau untuk mengingatkan.Tidak kalah pentingnya, jika terkena masalah, baik itu sebagai musibah ataupun ujian, seseorang sangat membutuhkan nasihat.

Berjamaah adalah salah satu dari solusinya. Dalam berjamaah atau majelis ilmu biasanya disebar nasihat-nasihat. Dari kondisi ini tentunya banyak nasihat yang dapat dimanfaatkan dan disesuaikan dengan nasihat yang dibutuhkan. Saat ini, berjamaah dapat dilakukan dengan cara offline dan online.

Untuk lebih utama-nya berjamaah dilakukan secara offline, supaya juga ada unsur ukhuwah-nya atau sosialnya tumbuh. Jika tidak memungkinkan untuk berjamaah offline, karena alasan sibuk, paling tidak mengikuti berjamaah online. Sebab, yang menjadi penting di sini adalah berjamaahnya, agar kita mendapatkan nasihat yang kita perlukan.

Dinasehati bukan berarti manusia itu bodoh, melainkan karena sifat-sifat manusia tersebut sehingga manusia membutuhkan nasihat. Mari kita mencari komunitas jamaah dalam kebaikan. Mendekatlah dengan keluarga, carilah sahabat dan guru yang mengingatkan atau menasihati kebaikan, dan lain-lainnya sebagai sumber nasihat.

Oleh : Rini Nuraini -- republika.co.id --

Anak-Anak Harus Dibuat Kasmaran Belajar di Sekolah

thumbnail
Dalam menghadapi tantangan ke depan sekolah dinilai harus segera melakukan perubahan dalam sistem pembelajarannya. Salah satunya adalah bagaimana membuat anak senang belajar di sekolah.

"Anak-anak harus dibuat kasmaran terhadap belajar. Sekolah harus membuat suasana seperti anak berada di rumah," ujar Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, saat berkunjung ke tiga sekolah model GSM di Tangerang Selatan, Rabu (2/5).

Salah satu ciri budaya belajar yang baik, kata Rizal, adalah ruang tata kelasnya tidak boleh konvensional atau kaku. Anak harus bisa belajar seperti saat di rumah dimana terkadang mereka bisa belajar sambil menonton televisi, sambil duduk di teras, sambil tidur-tiduran, dan sebagainya.

Rizal juga menekankan jangan ada lagi ada sekolah yang hanya menekankan pada pembelajaran kognitif hafalan semata. Hal itu menurutnya adalah sistem pembelajaran yang telah usang.

"Sistem pembelajaran yang harus diterapkan adalah bagaimana memanfaatkan informasi yang ada di internet. Jadi yang diajarkan adalah keterampilan berpikir, baik berpikir kreatif dan berpikir kritis," kata dosen Teknik Elektro UGM itu.

Apalagi talenta yang dimiliki anak-anak itu banyak dan berbeda-beda seperti melukis, olahraga, matematika, menari, bermain musik, dan lain sebagainya. Harapannya, dengan sistem pembelajaran demikian kemampuan kompetensi anak-anak akan semakin bertambah. "Kalau bisa sistem belajarnya harus membangun semua talenta tersebut," ujarnya.

Rizal memaparkan kompetisi yang harus diharapkan dimiliki anak di masa depan ada tiga, yakni yang pertama kemampuan literasi. "Literasi tidak hanya membaca buku 10-15 menit, namun mampu membaca bacaan panjang. Kemudian mampu merefleksikan isi bacaan tersebut serta menggunakan informasi yang diperoleh untuk menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat," kata Rizal.

Kedua adalah memiliki kemampuan daya kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif, dan daya saing. Ketiga adalah menciptakan gairah hidup (passion). "Sehingga fungsi guru bukan lagi sebagai sumber belajar, namun sebagai motivator dan fasilitator," ujar alumnus Monash University Australia itu.

Sumber : republika.co.id