Gangguan jiwa kecanduan gadget dan laptop

thumbnail
Gadget dan laptop memang dapat mempermudah urusan kita, baik urusan kantor, sekolah, bisnis, maupun pribadi. Namun, penggunaan keduanya, jika tidak hati-hati dan bijak, dapat membuat seseorang mengalami kecanduan, yang dapat berakibat pada gangguan kejiwaan.

ANTARA News (11/1/2018), memuat berita tentang 2 orang siswa yang mengalami gangguan jiwa akibat kecanduan gadget dan laptop. Kasus ini terjadi di Bondowoso, Jawa Timur.

Menurut laman ANTARA, Poli Jiwa RSUD dr Koesnadi Bondowoso, Jawa Timur, dalam beberapa bulan terakhir merawat dua siswa yang kecanduan pada penggunaan gawai dan laptop hingga menimbulkan guncangan jiwa.

"Kedua pasien itu terdiri atas satu siswa SMP dan satunya siswa SMA," kata dokter spesialis jiwa RSUD Koesnadi dr Dewi Prisca Sembiring, Sp.Kj kepada wartawan.

Ia menjelaskan bahwa tingkat kecanduan kedua anak itu sudah tergolong parah. Bahkan salah satunya membentur-benturkan kepalanya ke tembok ketika sangat ingin menggunakan gawai, namun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Dewi meyakini banyak anak lainnya yang mengalami hal serupa, namun orang tua mereka enggan membawa anaknya ke rumah sakit atau kurang menyadari tentang masalah yang sedang dihadapi si anak.

"Untuk masalah ini kami memang harus terus melakukan sosialisasi agar masyarakat semakin tahu bahwa RSUD Bondowoso kini juga merawat pasien dengan masalah kejiwaan. Masalah kejiwaan ini tidak identik dengan gila, tapi mereka yang mengalami tekanan dan lainnya perlu perawatan dan tidak usah malu, termasuk kami sosialisikan informasi bahwa pasien ini juga bisa di cover dengan BPJS," katanya.

Ia menjelaskan bahwa dari data yang dia kumpulkan, anak-anak yang kecanduan gawai dan permainan (game) itu awalnya tidak disadari oleh orang tuanya. Orang tua baru menyadari setelah si anak jarang masuk ke sekolah dan prestasi akademiknya terus menurun.

"Bahkan si anak sudah pada taraf tidak mau sekolah. Akhirnya dibawa ke poli jiwa. Kami menemukan bahwa awalnya anak menjadi sangat dekat dengan gadget dan laptop karena tugas-tugas sekolah. Waktu itu hampir semua tugas-tugas sekolah menggunakan teknologi ini, sehingga si anak kemana-mana membawa laptop," kata dr Dewi.

Menurut dia, hasil psikotest terhadap salah seorang anak menunjukkan bahwa pasien itu telah mengidentifikasi dirinya sebagai pembunuh. Sementara orang yang paling dibencinya adalah orang tuanya yang dianggap sebagai penghalang dirinya untuk berhubungan dengan laptop dan gawai.

"Syukurlah dari penanganan yang kami lakukan hasilnya sudah mulai membaik. Banyak metode yang kami lakukan untuk menangani pasien ini, termasuk terapi realita. Saya ajak si anak untuk melihat pasien dengan gangguan jiwa akut atau psikotik. Saya bilang pada anak itu, kalau kamu tidak mau melepaskan diri dari game, lama-lama menjadi seperti mereka yang menderita psikotis itu. Dia kemudian terdiam dan saya suruh peluk ibunya. Akhirnya pikiran dia tentang gadget atau laptop berubah," katanya.

Ia menjelaskan kasus dua anak itu hendaknya menjadi peringatan bagi semua orang tua dan semua pemangku kepentingan di sekolah agar anak-anak betul-betul mendapatkan perhatian.

"Isilah keinginan anak-anak itu dengan hati kita bukan dengan gadget. Kita harus isi hati anak-anak itu dengan yang nyata, yaitu kita sebagai orang tua, bukan dengan yang tidak nyata di gadget," katanya.

Menurut dia, secara psikologis, anak-anak itu mencari kesenangan hati di perangkat teknologi informasi karena tidak mendapatkan itu dari lingkungan sekitarnya, khususnya orang tua.

Mengenai perawatan poli jiwa ini, pihaknya terus melakukan sosialisasi ke masyarakat, termasuk melalui dokter-dokter umum dan para medis yang bertugas di seluruh puskesmas di Bondowoso.

Pihaknya juga ada kerja sama dengan instansi lain, seperti Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Pemkab Bondowoso. Pihaknya juga sudah menjalin kerja sama dengan sekolah, meskipun belum semua untuk menangani masalah siswa yang bisa ditangani oleh sekolah.

Pendekatan konseling individual Alfred Adler

thumbnail
Konsep dasar

Psikologi individu sering disebut terapi adlerian karena penggagas awalnya adalah Alfred Adler, salah satu kolega freud yang awalnya termasuk lingkaran gerakan psikoanalisis,namun keluar karena tidak menyetujui beberapa bagian teori tersebut.

Kerja dan riset Adler mempengaruhi banyak psikolog dan terafis besar yang kemudian mengikuti jejaknya seperti Albert Ellis, victor Frankl, Rudolf Dreikurs, Rollo Maydan wiliam Glaser.

Psikologi individu melihat pribadi secara menyeluruh dan berfokus pada keunikannya. Pandangan adler tentang manusia menawarkan sebuah fokus alternatif yang positif dan menyegarkan bagi teori psikoanalisis Freud.

Di inti teorinya terdapat sebuah keyakinan kalau manusia memiliki dorongan bawaan untuk mengatasi kelemahan yang disadarinya, untuk kemudian mengembangkan potensinya sendiri menuju aktualisasi diri. Apalagi jika ditaruh di dalam lingkungan positif, pertumbuhan tersebut pasti akan terjadi.

Kalau begitu, apakah yang menahan seseorang untuk bergerak secara cepat dan mudah menuju realisasi diri?

Menurut Adler, jawabnya ialah perasaan inferior. Seseorang biasanya mengalami perasaan tersebut lewat tiga sumber yaitu: (a) ketergantungan biologis dan ketergantungan umumnya layaknya bayi;(b) gambar diri yang dianggap kecil ketika dibandingkan dengan sesuatu yang agung, mulia atau besar; dan (c) inferioritas organ tubuh ( bahasa awamnya lemah, minder, dan cacat). Namun, dorongan dalam diri sendiri umumnya memampukan subjek, mengkompensasikan perasaan-perasan ini untuk berjuang meraih superioritas dan kesempurnaan.

Teori adlerian kadang disebut perspektif sosioteologis ketika membahas perjuangan konstan individu menjcapai tujuan mereka. Adler juga menekankan pentingnya pengembangan minat sosial klien untuk kemudian mendidik lembali mereka agar mampu hidup di tengah-tengah masyarakat sebagai pribadi yang sanggup memberikan sesuatu bagi masyarakat, jadi bukan Cuma menerima dan menuntut.

Ketika seseorang datang untuk menjalani terapi, diasumsikan ia tengah mengalami ketidakkongruenan dan ketidaknyamanan di dalam : (a) kerja, (b) persahabatan, atau (c) cinta. Proses konseling kemudian dilihat sebagai cara terapis dank lien bekerja sama untuk membantu klien mengembangkan kesadaran, sikap dan perilaku yang lebih sehat sehingga sanggup berfungsi lebih penuh di masyarakat. Pengembangan minat social dianggap variable paling mencolok dari kesehatan mental seseorang.

Proses Konseling

Proses konseling Adlerian melibatkan empat tahap:

Tahap 1: Membangun relasi

Di sesi pertama konselor menetapkan sebuah relasi dengan klien lewat interview subjektif/objektif yang di dalamnya klien dibantu merasa nyaman, diterima, dihargai dan diperhatikan. Melalui komponen objektif interview, klien diharapkan mengerti apa yang dibutuhkan secara spesifik dari proses konseling. Klien di minta mendiskusikan bagaimana hal-hal tertentu berlangsung di setiap wilayah tugas hidupnya.

Tahap 2: Mendiagnostik

Tahap diagnostic meliputi interview gaya hidup, prosedur asesmen formal yang melihat hal-hal seperti konstelasi keluarga, persepsi orang tua, rekoleksi tentang periode awal hidupnya, dan mimpi yang terus berulang.

Tahap 3: Fase interpretasi

Yaitu waktu ketika konselor dank lien mengembangkan pemahaman dari interview gaya hidupnya tentang kekeliruan dasar klien dengan menganalisis dan mendiskusikan keyakinan, tujuan dan gerakan yang dikembangkan klien pada awal kehidupan, dan menjamin pola dan sikap pikiran, emosi dan perilaku.

Tahap 4: Orientsi

Tahap pengorientasikan mungkin yang paling kritis karena ditahap inilah terapis membantu konseli bergerak dari pemahaman intelektual menuju perkembangan actual dan ekspresi sikap dan perilaku yang . lebih sehat. Di titik ini, dukungan konselor, penguatan dan pengarahan di upayakan secara aktif untuk membuat sejumlah perubahan bagi cara-cara yang tidak sehat dalam berfikir, mearasa dan berperilaku menjadi cara-cara yang lebih memuaskan dan sehat bagi dirinya dan masyarakat.

Adler adalah tokoh utama perintis terapi keluarga yang berkontribusi besar di bidang konseling dasar. Dewasa ini, konsep konseling Adlerian digunakan juga untuk kasus-kasus anak yang orang tuanya bercerai dan/ atau menikah kembali.

Sumber : http://menzour.blogspot.co.id

Prinsip dasar Cognitive-Behavior Therapy (CBT)

thumbnail
Walaupun konseling harus disesuaikan dengan karakteristik atau permasalahan konseli, tentunya konselor harus memahami prinsip-prinsip yang mendasari CBT.

Pemahaman terhadap prinsip-prinsip ini diharapkan dapat mempermudah konselor dalam memahami konsep, strategi dalam merencanakan proses konseling dari setiap sesi, serta penerapan teknik-teknik CBT.

Berikut adalah prinsip-prinsip dasar dari CBT :

Prinsip nomor 1: Cognitive-Behavior Therapy didasarkan pada formulasi yang terus berkembang dari permasalahan konseli dan konseptualisasi kognitif konseli.

Formulasi konseling terus diperbaiki seiring dengan perkembangan evaluasi dari setiap sesi konseling. Pada momen yang strategis, konselor mengkoordinasikan penemuan-penemuan konseptualisasi kognitif konseli yang menyimpang dan meluruskannya sehingga dapat membantu konseli dalam penyesuaian antara berfikir, merasa dan bertindak.

Prinsip nomor 2: Cognitive-Behavior Therapy didasarkan pada pemahaman yang sama antara konselor dan konseli terhadap permasalahan yang dihadapi konseli.

Melalui situasi konseling yang penuh dengan kehangatan, empati, peduli, dan orisinilitas respon terhadap permasalahan konseli akan membuat pemahaman yang sama terhadap permasalahan yang dihadapi konseli. Kondisi tersebut akan menunjukan sebuah keberhasilan dari konseling.

Prinsip nomor 3: Cognitive-Behavior Therapy memerlukan kolaborasi dan partisipasi aktif.

Menempatkan konseli sebagai tim dalam konseling maka keputusan konseling merupakan keputusan yang disepakati dengan konseli. Konseli akan lebih aktif dalam mengikuti setiap sesi konseling, karena konseli mengetahui apa yang harus dilakukan dari setiap sesi konseling.

Prinsip nomor 4: Cognitive-Behavior Therapy berorientasi pada tujuan dan berfokus pada permasalahan.

Setiap sesi konseling selalu dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan. Melalui evaluasi ini diharapkan adanya respon konseli terhadap pikiran-pikiran yang mengganggu tujuannya, dengan kata lain tetap berfokus pada permasalahan konseli.

Prinsip nomor 5: Cognitive-Behavior Therapy berfokus pada kejadian saat ini.

Konseling dimulai dari menganalisis permasalahan konseli pada saat ini dan di sini (here and now).

Perhatian konseling beralih pada dua keadaan. Pertama, ketika konseli mengungkapkan sumber kekuatan dalam melakukan kesalahannya. Kedua, ketika konseli terjebak pada proses berfikir yang menyimpang dan keyakinan konseli dimasa lalunya yang berpotensi merubah kepercayaan dan tingkahlaku ke arah yang lebih baik.

Prinsip nomor 6: Cognitive-Behavior Therapy merupakan edukasi, bertujuan mengajarkan konseli untuk menjadi terapis bagi dirinya sendiri, dan menekankan pada pencegahan.

Sesi pertama CBT mengarahkan konseli untuk mempelajari sifat dan permasalahan yang dihadapinya termasuk proses konseling cognitive-behavior serta model kognitifnya karena CBT meyakini bahwa pikiran mempengaruhi emosi dan perilaku.

Konselor membantu menetapkan tujuan konseli, mengidentifikasi dan mengevaluasi proses berfikir serta keyakinan konseli. Kemudian merencanakan rancangan pelatihan untuk perubahan tingkah lakunya.

Prinsip nomor 7: Cognitive-Behavior Therapy berlangsung pada waktu yang terbatas.

Pada kasus-kasus tertentu, konseling membutuhkan pertemuan antara 6 sampai 14 sesi. Agar proses konseling tidak membutuhkan waktu yang panjang, diharapkan secara kontinyu konselor dapat membantu dan melatih konseli untuk melakukan self-help.

Prinsip nomor 8: Sesi Cognitive-Behavior Therapy yang terstruktur.

Struktur ini terdiri dari tiga bagian konseling. Bagian awal, menganalisis perasaan dan emosi konseli, menganalisis kejadian yang terjadi dalam satu minggu kebelakang, kemudian menetapkan agenda untuk setiap sesi konseling.

Bagian tengah, meninjau pelaksanaan tugas rumah (homework asigment), membahas permasalahan yang muncul dari setiap sesi yang telah berlangsung, serta merancang pekerjaan rumah baru yang akan dilakukan.

Bagian akhir, melakukan umpan balik terhadap perkembangan dari setiap sesi konseling. Sesi konseling yang terstruktur ini membuat proses konseling lebih dipahami oleh konseli dan meningkatkan kemungkinan mereka mampu melakukan self-help di akhir sesi konseling.

Prinsip nomor 9: Cognitive-Behavior Therapy mengajarkan konseli untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menanggapi pemikiran disfungsional dan keyakinan mereka.

Setiap hari konseli memiliki kesempatan dalam pikiran-pikiran otomatisnya yang akan mempengaruhi suasana hati, emosi dan tingkah laku mereka.

Konselor membantu konseli dalam mengidentifikasi pikirannya serta menyesuaikan dengan kondisi realita serta perspektif adaptif yang mengarahkan konseli untuk merasa lebih baik secara emosional, tingkahlaku dan mengurangi kondisi psikologis negatif.

Konselor juga menciptakan pengalaman baru yang disebut dengan eksperimen perilaku. Konseli dilatih untuk menciptakan pengalaman barunya dengan cara menguji pemikiran mereka (misalnya: jika saya melihat gambar laba-laba, maka akan saya merasa sangat cemas, namun saya pasti bisa menghilangkan perasaan cemas tersebut dan dapat melaluinya dengan baik).

Dengan cara ini, konselor terlibat dalam eksperimen kolaboratif. Konselor dan konseli bersama-sama menguji pemikiran konseli untuk mengembangkan respon yang lebih bermanfaat dan akurat.

Prinsip nomor 10: Cognitive-Behavior Therapy menggunakan berbagai teknik untuk merubah pemikiran, perasaan, dan tingkah laku.

Pertanyaan-pertanyaan yang berbentuk sokratik memudahkan konselor dalam melakukan konseling cognitive-behavior. Pertanyaan dalam bentuk sokratik merupakan inti atau kunci dari proses evaluasi konseling.

Dalam proses konseling, CBT tidak mempermasalahkan konselor menggunakan teknik-teknik dalam konseling lain seperti Gestalt, Psikodinamik, Psikoanalisis, selama teknik tersebut membantu proses konseling yang lebih singkat dan memudahkan konselor dalam membantu konseli.

Jenis teknik yang dipilih akan dipengaruhi oleh konseptualisasi konselor tehadap konseli, masalah yang sedang ditangani, dan tujuan konselor dalam sesi konseling tersebut.

Baca : Pendekatan konseling Cognitive-Behavior Therapy (CBT)

Sumber : Makalah “Cognitive-Behavior Therapy: Solusi Pendekatan Praktek Konseling di Indonesia” oleh Idat Muqodas. -- bkpemula.wordpress.com --

Pendekatan konseling Cognitive-Behavior Therapy (CBT)

thumbnail
Teori Cognitive-Behavior (CBT) pada dasarnya meyakini pola pemikiran manusia terbentuk melalui proses Stimulus-Kognisi-Respon (SKR), yang saling berkaitan dan membentuk semacam jaringan SKR dalam otak manusia, di mana proses kognitif menjadi faktor penentu dalam menjelaskan bagaimana manusia berpikir, merasa dan bertindak.

Sementara dengan adanya keyakinan bahwa manusia memiliki potensi untuk menyerap pemikiran yang rasional dan irasional, di mana pemikiran yang irasional dapat menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku yang menyimpang, maka CBT diarahkan pada modifikasi fungsi berfikir, merasa, dan bertindak dengan menekankan peran otak dalam menganalisa, memutuskan, bertanya, bertindak, dan memutuskan kembali. Dengan mengubah status pikiran dan perasaannya, konseli diharapkan dapat mengubah tingkah lakunya, dari negatif menjadi positif.

CBT adalah pendekatan konseling yang menitikberatkan pada restrukturisasi atau pembenahan kognitif yang menyimpang akibat kejadian yang merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis.

CBT merupakan konseling yang dilakukan untuk meningkatkan dan merawat kesehatan mental. Konseling ini akan diarahkan kepada modifikasi fungsi berpikir, merasa dan bertindak, dengan menekankan otak sebagai penganalisa, pengambil keputusan, bertanya, bertindak, dan memutuskan kembali.

Sedangkan, pendekatan pada aspek behavior diarahkan untuk membangun hubungan yang baik antara situasi permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan.

Tujuan dari CBT yaitu mengajak individu untuk belajar mengubah perilaku, menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, berpikir lebih jelas dan membantu membuat keputusan yang tepat. Hingga pada akhirnya dengan CBT diharapkan dapat membantu konseli dalam menyelaraskan berpikir, merasa dan bertindak.

Tujuan Konseling CBT

Tujuan dari konseling Cognitive-Behavior yaitu mengajak konseli untuk menentang pikiran dan emosi yang salah dengan menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi. Konselor diharapkan mampu menolong konseli untuk mencari keyakinan yang sifatnya dogmatis dalam diri konseli dan secara kuat mencoba menguranginya.

Dalam proses konseling, beberapa ahli CBT berasumsi bahwa masa lalu tidak perlu menjadi fokus penting dalam konseling. Oleh sebab itu CBT dalam pelaksanaan konseling lebih menekankan kepada masa kini dari pada masa lalu, akan tetapi bukan berarti mengabaikan masa lalu.

CBT tetap menghargai masa lalu sebagai bagian dari hidup konseli dan mencoba membuat konseli menerima masa lalunya, untuk tetap melakukan perubahan pada pola pikir masa kini untuk mencapai perubahan di waktu yang akan datang.
Oleh sebab itu, CBT lebih banyak bekerja pada status kognitif saat ini untuk dirubah dari status kognitif negatif menjadi status kognitif positif.

Fokus Konseling

CBT merupakan konseling yang menitik beratkan pada restrukturisasi atau pembenahan kognitif yang menyimpang akibat kejadian yang merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis dan lebih melihat ke masa depan dibanding masa lalu.

Aspek kognitif dalam CBT antara lain mengubah cara berpikir, kepercayaan, sikap, asumsi, imajinasi dan memfasilitasi konseli belajar mengenali dan mengubah kesalahan dalam aspek kognitif.

Sedangkan aspek behavioral dalam CBT yaitu mengubah hubungan yang salah antara situasi permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan, belajar mengubah perilaku, menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, serta berpikir lebih jelas.

Baca : Prinsip dasar Cognitive-Behavior Therapy (CBT)

Sumber : Makalah “Cognitive-Behavior Therapy: Solusi Pendekatan Praktek Konseling di Indonesia” oleh Idat Muqodas. -- bkpemula.wordpress.com --

Proses Konseling EGO

thumbnail
Model konseling ego lebih menekankan pada fungsi ego, yaitu dengan menonjolkan ego strength (kekuatan ego). Individu yang memiliki ego yang kuat akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan membina hubungan sosial yang harmonis bersama orang lain.

Dalam perkembangan individu, Erikson membaginya menjadi perkembangan yang sukses dan perkembangan yang gagal pada setiap tahap perkembangan.

Tujuan Konseling

Adapun tujuan konseling menurut Erikson adalah memfungsikan ego klien secara penuh. Tujuan lainnya adalah melakukan perubahan-perubahan pada diri klien sehingga terbentuk coping behavior yang dikehendaki dan dapat terbina agar ego klien itu menjadi lebih kuat.

Ego yang baik adalah ego yang kuat, yaitu yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan dimana dia berada.

Proses Konseling

Beberapa aturan dalam konseling ego yaitu:
  • Proses konseling harus bertitik tolak dari proses kesadaran.
  • Proses konseling bertitik tolak dari asas kekinian.
  • Proses konseling lebih ditekankan pada pembahasan secara rasional.
  • Konselor hendaknya menciptakan suasana hangat dan spontan, baik dalam penerimaan klien maupun dalam proses konseling.
  • Konseling harus dilakukan secara profesional.
  • Proses konseling hendaklah tidak berusaha mengorganisir keseluruhan kepribadian individu, melainkan hanya pada pola-pola tingkah laku salah suai saja.
Teknik-Teknik Konseling

Adapun teknik-teknik dalam konseling ego adalah:
  • Pertama-tama konselor perlu membina hubungan yang akrab dengan klien.
  • Usaha yang dilakukan oleh konselor harus dipusatkan pada masalah yang dikeluhkan oleh klien, khususnya pada masalah yang ternyata di dalamnya tampak lemahnya ego.
  • Pembahasan itu dipusatkan pada aspek-aspek kognitif dan aspek lain yang terkait dengannya.
  • Mengembangkan situasi ambiguitas (keadaan bebas dan tak terbatas) yang dapat dibina dengan:
  • Konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memunculkan perasaan yang ada dalam dirinya.
  • Klien diperkenankan mengemukakan kondisi diri yang mungkin berbeda dengan orang lain.
  • Konselor menyediakan fasilitas yang memungkinkan terjadinya transference melalui proyeksi. Pribadi yang transference adalah pribadi yang mengizinkan orang lain melihat pribadinya sedangkan proyeksi adalah mengemukakan sesuatu yang sebetulnya ada pada diri sendiri.
  • Pada saat klien transference, konselor hendaknya melakukan kontra transference.
  • Konselor hendaknya melakukan diagnosis dengan dimensi-dimensinya, yaitu:
  • Perincian dari masalah yang sedang dialami klien saat diselenggarakan konseling itu.
  • Sebab-sebab timbulnya masalah tersebut, bisa juga titik api yang menyebabkan masalah tersebut menyebar.
  • Menentukan letak masalah, apakah pada kebiasaan klien, cara bersikap atau cara merespon lingkungan.
  • Kekuatan dan kelemahan masing-masing orang yang bermasalah.
  • Membangun fungsi ego yang baru dengan cara:
  • Dengan mengemukakan gagasan baru
  • Berdasarkan diagnosis dan gagasan tersebut diberikan upaya pengubahan tingkah laku
  • Pembuatan kontrak untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang telah diputuskan dalam konseling.
Langkah-Langkah Konseling

Adapun langkah-langkah dalan penyelenggaraan konseling ego adalah:
  • Membantu klien mengkaji perasaan-perasaannya berkenaan dengan kehidupan, feeling terhadap peranannya, penampilan dan hal lain yang terkait dengan tugas-tugas kehidupannya.
  • Klien diproyeksikan dirinya terhadap masa depan. Dalam hal ini konselor mendiskusikan tujuan hidup masa depan klien, sekaligus potensi-potensi yang dimilikinya. Konselor membawa klien agar mampu melihat hubunagn yang signifikan antara masa depan dan tujuan hidup klien dengan kondisinya di masa sekarang.
  • Konselor mendiskusikan bersama klien hambatan-hambatan yang ditemuinya untuk mencapai tujuan masa depan.
  • Konselor melalui proses interpretasi dan refleksi, mengajak klien untuk mengkaji lagi diri sendiri dan lingkungannya. Selanjutnya konselor berusaha agar klien melihat hubungan antara perasaan perasaannya tadi dengan tingkah lakunya.
  • Konselor membantu klien menemukan seperangkat hasrat, kemauan dan semangat yang lebih baik dan mantap dalam kaitannya dengan hubungan sosial. Kalau memungkinkan konselor melatihkan tingkah laku yang baru.

******
Bagian 1. Teori Konseling EGO
Bagian 2. Proses Perkembangan Kepribadian menurut Konseling EGO
Bagian 3. Proses Konseling EGO

Sumber: www.konselingindonesia.com

Proses Perkembangan Kepribadian menurut Konseling EGO

thumbnail
Proses Perkembangan Kepribadian

Erikson membagi atas empat tahapan sebagai berikut:
  • Ego berkembang atas kekuatan dirinya sendiri.
  • Pertumbuhan ego yang normal adalah dengan berkembangnya keterampilan anak dalam berkomunikasi. Karena melalui komunikasi individu dapat mengukur dan menilai tingkah lakunya berdasarkan reaksi dari orang lain.
  • Perkembangan bahasa juga menambah keterampilan individu untuk membedakan suatu objek dalam lingkungan dengan bahasa individu mampu berkomunikasi dengan orang lain.
  • Kepribadian individu berkembang terus menerus melalui proses hubungan dirinya dengan dunia luar atau lingkungannya (adanya keterkaitan antara hubungan yang satu dengan yang lain).
Dalam berkomunikasi dengan lingkungannya ada empat aspek yang perlu diperhatikan yaitu:
  • Individu belajar membedakan suatu objek dengan objek yang lainnya.
  • Individu harus bisa melibatkan diri dengan lingkungan yang spesial yang makin lama makin meluas dan makin mendalam.
  • Proses sosialisasi, maksudnya adalah berhubungan dengan orang lain, dengan adanya hubungan dengan orang lain individu dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang diharapkan oleh lingkungan sosialnya.
  • Perkembangan kepribadian yang baik apabila kepribadian itu mengarah kepada pembentukan “coping behavior”. Coping behavior adalah kemampuan atau tingkah laku individu yang dapat menangani suatu masalah secara tepat dan hasilnya baik. Agar coping behavior berdaya guna, harus memiliki dua ciri sebagai berikut:
  • Coping behavior merupakan pola-pola tingkah laku yang tertata dengan baik melalui beberapa tahapan yang benar, terstruktur dan bermakna. Contohnya apabila seorang mahasiswa membutuhkan sebuah buku dan hanya satu di perpustakaan, dia meminjam untuk difoto copy terlebih dahulu atau mencatat hal yang penting dari buku tersebut.
  • Tingkah laku yang mengandung coping behavior dilakukan secara sadar dan impulsif.
Coping behavior merupakan konsep yang pokok dalam konseling ego dan salah satu tujuan dari konseling ego adalah pembentukan coping behavior pada diri klien.

Sedangkan yang menjadi tujuan akhir perkembangan kepribadian adalah terbentuknya coping behavior secara otomatis.

Fungsi Ego

Fungsi ego dalam diri individu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
  • Fungsi dorongan ekonomis; fungsi ego ini menyalurkan dengan cara mewujudkan dalam bentuk tingkah laku secara baik yaitu yang baik dan dapat diterima lingkungan, berguna dan menguntungkan baik bagi diri individu sendiri maupun orang lain di lingkungannya.
  • Fungsi kognitif; berfungsinya ego pada diri individu untuk menerima rangsangan dari luar kemudian menyimpannya dan setelah itu dapat mempergunakannya unuk keperluan coping behavior. Dalam hal ini individu mempergunakan kemampuan kognitifnya dengan disertai oleh pertimbangan-pertimbangan akal dan menalar.
  • Fungsi pengawasan; disebut juga dengan fungsi kontrol, maksudnya tinglah laku yang dimunculkan individu merupakan tingkah laku yang berpola dan sesuai dengan aturan. Secara khusus fungsi ego ini mengontrol perasaan dan emosi terhadap tingkah laku yang dimunculkan.
Perkembangan Tingkah Laku Salah Suai

Munculnya tingkah laku salah suai pada diri seseorang disebabkan oleh tiga faktor, yaitu:
  • Individu di masa lalunya kehilangan kemampuan atau tidak diperkenankan merespon rangsangan dari luar secara tepat sehingga pada saat sekarang menjadi salah suai dalam bertingkah.
  • Apabila pola coping yang sudah terbina pada dirinya sekarang tidak sesuai lagi dengan situasi sekarang.
  • Fungsi ego tidak berjalan dengan baik, saat bertingkah laku salah satu fungsi ego atau ketiga-tiganya tidak berfungsi dengan baik, misalnya individu tersebut tidak mempertimbangkan untung ruginya dalam bertingkah laku, kurang memanfaatkan pikiran atau kurang mengontrol perasaan, sehingga menjadi sorotan dari lingkungan dan tentu saja menimbulkan ketidaknyamanan bagi individu.

******
Bagian 1. Teori Konseling EGO
Bagian 2. Proses Perkembangan Kepribadian menurut Konseling EGO
Bagian 3. Proses Konseling EGO

Sumber: www.konselingindonesia.com

Teori Konseling EGO

thumbnail
Konseling EGO dipopulerkan oleh Erik Erikson, seorang psikolog perkembangan Denmark-Jerman-Amerika dan psikoanalis terkenal karena teorinya tentang pembangunan sosial manusia.

Konseling ego memiliki ciri khas yang lebih menekankan pada fungsi ego. Kegiatan konseling yang dilakukan pada umumnya bertujuan untuk memperkuat ego strength, yang berarti melatih kekuatan ego klien.

Seringkali orang yang bermasalah adalah orang yang memiliki ego yang lemah. Misalnya, orang yang rendah diri, dan tidak bisa mengambil keputusan secara tepat dikarenakan ia tidak mampu memfungsikan egonya secara penuh, baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, meraih keinginannya.

Perbedaan ego menurut Freud dengan ego menurut Erikson adalah: menurut Freud ego tumbuh dari id, sedangkan menurut Erikson, ego tumbuh sendiri yang menjadi kepribadian seseorang.

Teori Kepribadian

Menurut teori ini manusia tidaklah didorong oleh energi dari dalam, melainkan untuk merespon rangsangan yang berbeda-beda, misalnya indvidu dalam kehidupannya perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Menurut Erikson egolah yang mengembangkan segala sesuatunya. Misalnya kemampuan individu, keadaan dirinya, hubungan sosialnya dan penyaluran minatnya.

Seorang individu haruslah memiliki ego yang sehat dan kuat guna merespon kondisi lingkungan sebagai salah satu proses beradaptasi.

Tahap Perkembangan Kepribadian

Erikson lebih menekankan pembahasan kepada pembahasan psikososial. Dalam teorinya, Erikson merumuskan ciri-ciri perkembangan kepribadian menjadi delapan tahap, yaitu:

Masa bayi awal (0-1 tahun)

Perkembangan yang sukses ditandai dengan sifat percaya, jika anak memperoleh kasih sayang yang cukup dari orangtuanya dan kebutuhan terpenuhi dengan baik.

Perkembangan yang gagal jika pada masa ini anak sering diterlantarkan dan dikasari oleh orangtua, maka dalam dirinya akan berkembang sikap tidak percaya.

Masa bayi akhir (1-3 tahun)

Perkembangan yang sukses ditandai oleh adanya otonomi, sedangkan perkembangan yang gagal ditandai oleh adanya perasaan ragu-ragu dan malu.

Pada usia ini anak perlu mendapat kesempatan untuk melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahannya itu. Jika orangtua terlalu berbuat banyak untuk kepentingan anak, hal ini dapat menghambat otonomi dan merusak kemampuan mereka untuk menghadapi dunia secara berhasil.

Sikap orangtua yang cenderung melarang, memarahi, dan menyesali perbuatan anaknya akan menumbuhkembangkan perasaan ragu-ragu dan malu baik pada masa sekarang maupun pada tahap perkembangan selanjutnya.

Masa kanak-kanak awal (3-5 tahun)

Perkembangan yang sukses ditandai oleh adanya inisiatif. Sedangkan perkembangan yang gagal ditandai dengan adanya perasaan bersalah.

Tugas individu pada masa ini adalah membentuk rasa memiliki kemampuan dan inisiatif. Sikap yang sebaiknya diambil oleh orangtua dalam mendidik adalah senantiasa memberikan kesempatan kepada anak untuk beraktualisasi diri dengan berbagai percobaan yang ingin mereka lakukan dan jika perlu merangsang mereka untuk melakukan berbagai jenis percobaan walau menunjukkan hasil yang minimal.

Masa kanak-kanak pertengahan (6-11 tahun)

Perkembangan yang sukses ditandai dengan “menghasilkan”, sedangkan perkembangan yang gagal ditandai dengan rasa rendah diri.

Anak yang sukses menjalani perkembangannya sudah mau melakukan sesuatu, contohnya menyapu rumah, mengerjakan PR, dan membersihkan sepatu sendiri. Kewajiban melakukan hal tersebut menjadi ciri sukses yang disebut dengan mampu menghasilkan tanggung jawab.

Sebaliknya anak yang kurang beruntung mengalami rendah diri, misalnya takut ke sekolah, takut bernyanyi, dan kecenderungan merajuk.

Anak-anak pada tahap ini mempunyai tugas untuk membentuk nilai-nilai pribadi, melibatkan diri dalam kegiatan sosial, belajar menerima dan memahami orang lain. Kegagalan pada masa ini akan membentuk rasa ketidakmampuan sebagai seorang dewasa kelak, dan tahap perkembangan selanjutnya akan mengarah negatif.

Masa puber dan remaja (12-20 tahun)

Perkembangan yang sukses ditandai dengan kemampuan mengenal identitas dirinya sendiri. Perkembangan yang gagal ditandai dengan kebingungan baik dalam peran gender, bingung dengan keadaan diri dan cita-cita di masa depan.

Krisis utama yang sering terjadi pada masa ini adalah krisis identitas yang berpengaruh terhadap perkembangan individu di masa dewasa. Remaja yang gagal dalam menentukan dirinya akan cenderung mengalami konflik peran, kehilangan tujuan dan arah hidupnya.

Masa dewasa awal (21-30 tahun)

Perkembangan yang sukses ditandai dengan adanya keintiman, sedangkan perkembangan yang gagal ditandai oleh isolasi.

Intim yang dimaksud adalah memiliki kemampuan yang baik untuk akrab dengan orang lain dan tidak menyukai menyendiri. Perkembangan yang baik pada masa ini ditandai dengan adanya kematangan untuk memasuki lembaga perkawinan.

Sebaliknya orang yang suka menyendiri sebenarnya ia sedang berada dalam kekacauan perkembangan. Ketidakpercayaan terhadap orang lain serta ketidakberanian untuk bekerja sama membuat individu tersebut untuk mengurung diri, mengalami kesukaran dalam membina rumah tangga yang harmonis dan kesulitan bekerja bersama orang lain.

Masa dewasa pertengahan (30-55 tahun)

Perkembangan yang sukses ditandai dengan adanya keaktifan dalam berbagai bidang secara umum. Secara umum individu yang berada pada masa ini mampu melibatkan diri secara luas yang diwujudkan dalam bentuk kemampuan untuk mengasihi secara baik, bekerja baik, dan bersahabat.

Inilah yang disebut dengan kedewasaan dan kematangan secara penuh. Individu yang sukses akan mampu berprestasi dengan baik pada bidang yang ditekuninya. Pada tahap ini sudah mencapai kematangan yang sempurna baik secara sosial, ekonomi, emosi dan intelektual.

Masa dewasa akhir (55 tahun ke atas)

Perkembangan yang sukses ditandai dengan keterpaduan, dan perkembangan yang gagal ditandai dengan keputusasaan.

Sukses yang terpadu maksudnya apa yang dilakukannya sudah dapat dimaknainya dengan baik, misalnya jika sudah memiliki cucu, dia akan sayang pada cucu dan menantunya. Sebaliknya perkembangan yang gagal cenderung membenci menantu dan cucu serta banyak penyesalan.

******
Bagian 1. Teori Konseling EGO
Bagian 2. Proses Perkembangan Kepribadian menurut Konseling EGO
Bagian 3. Proses Konseling EGO

Sumber: www.konselingindonesia.com

Pendekatan Spritual Paling Ampuh Atasi Depresi

thumbnail
Depresi merupakan akar dari motif sebagian orang melakukan aksi bunuh diri. Ada empat pendekatan yang bisa menyembuhkan seseorang yang sedang depresi akut, namun salah satunya yang paling ampuh adalah dengan pendekatan spiritual.

Praktisi Psikologi Islam, M Soleh, empat pendekatan itu adalah pendekatan psikologi, pendekatan kimiawi, pendekatan sosial, dan pendekatan spiritual. "Pendekatan spiritual ini paling powerfull banget dalam mengatasi depresi seseorang," kata dia saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (26/7) sore.

Soleh memaparkan empat pendekatan itu secara lebih spesifik. Pendekatan psikologi lebih kepada perbaikan jiwa tanpa ada pemberian obat. Sementara, pendekatan kimiawi merupakan pendekatan yang harus menggunakan obat, akibat ada gangguan otak, serta hanya psikiater yang boleh memberikan resepnya.

Selain itu, ada juga pendekatan sosial. Pendekatan ini dapat dilakukan oleh lingkungan keluarga, teman, sekolah, pokoknya yang berhubungan dengan perubahan sosial. Biasanya, pendekatan ini dilakukan bagi orang depresi akibat melihat lingkungan sekitar yang buruk.

Dan pendekatan spiritual ini, Soleh memberikan contoh dua nilai dalam Islam yang dapat diterapkan pada semua orang. "Pertama, dalam Islam itu ada nilai yang mengatakan cinta tertinggi adalah cinta kepada Allah SWT. Kedua, juga ada nilai yang mengatakan semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah SWT," tutur dia.

Depresi muncul ketika seseorang kehilangan makna hidupnya. Soleh memberikan pandangannya terkait matinya vokalis Linkin Park akibat bunuh diri. Menurut dia, Chester Bennington mengalami disorientasi bisa dikarenakan sudah berada di puncak, namun bingung ingin berbuat apa lagi.

"Misalnya, jika hanya kejar materi yakni hedonis, jadi tidak puas satu naik ke dua lalu terus naik, hingga puncak yang diinginkan. Dan akhirnya, jika sudah mentok di puncak, justru malah tidak mendapat makna hidup apapun. Jika saja nilai Islam digunakan, ia pasti memahami makna tertinggi itu adalah Allah," papar Soleh.

Nilai tersebut dimaknai dia, artinya jika di dunia tidak dapat yang diinginkan, akan dapat di kehidupan selanjutnya (surga). Begitupun dengan kasus yang dilatarbelakangi rasa cinta. Ia merasa sudah tidak punya cinta lagi akibat putus, ini artinya makna cinta dia itu pendek.

Soleh menceritakan pengalamannya, ketika ia menjadi Konsultan PBB, dan ia sempat mengobrol dengan MSF Holland. MSF Holland ini merupakan asosiasi yang pernah membantu Aceh dan Padang pada saat bencana melanda dua wilayah itu.

MSF Holland mengecek dari praktisi, bahwa orang yang mampu bangkit dari depresi adalah mereka yang punya pemecahan masalah coping yang bagus. Dan pemecahan masalah coping yang bagus itu dikarenakan berpijak pada nilai Islam.

"Namun, pengaruh sugesti dari diri sendiri juga diperlukan. Itu sebabnya mengapa ada yang disebut psikologi Islam. Itu merupakan kombinasi antara pendekatan psikologi dengan nilai-nilai Islam. Mereka yang bunuh diri ini karena mereka tidak punya nilai Ilahi-nya. Intinya, kalau ada masalah ya diselesaikan," papar Pengurus Pusat Asosiasi Psikologi Islam itu.

Sumber : republika.co.id