Home » , » Karakteristik dan bentuk-bentuk bullying di sekolah

Karakteristik dan bentuk-bentuk bullying di sekolah

Bullying di sekolah memang sulit untuk dideteksi, karena sembunyi-sembunyi dan dilakukan di tempat yang jauh dari pengawasan guru. Oleh karena itu, sekolah perlu memetakan lokasi-lokasi yang rawan terjadinya bullying. Umumnya lokasi yang sering terjadi kekerasan di sekolah adalah tempat yang menjadi favorit anak-anak berkumpul saat istirahat. Misalnya, kantin, lapangan olahraga, tempat parkir, di bagian belakang ruang kelas atau gedung sekolah, dan lain-lain.

School bullying memiliki beragam bentuk dan variasi. Anak perempuan biasanya berbeda dari anak laki-laki dalam jenis perilaku bullying yang mereka tunjukkan. Anak perempuan cenderung menghargai hubungan intim dengan perempuan, sehingga mereka paling sering terlibat dalam agresi terselubung atau relasional, kekerasan yang dilakukan biasanya dengan menahan persahabatan mereka atau dengan menyabotase hubungan orang lain. Apalagi dengan kemajuan teknologi, bullying dapat dilakukan secara tidak langsung dengan memanfaatkan social network (facebook, twitter, dll), atau dengan sms, biasanya berupa fitnah, menyebarkan gosip, atau menjelek-jelekan orang yang tidak disukainya.

Sedangkan anak laki-laki biasanya membentuk ikatan sosial melalui kegiatan kelompok, sehingga kekerasan yang dilakukan sering melibatkan kelompok, dimana mereka memiliki peran masing-masing saat melakukan tindakan bullying, satu orang sebagai pemimpin kelompok, yang lain (anggota kelompok atau siswa lain) sebagai penonton.
  • Pemimpin, siswa yang berinisiatif dan aktif terlibat dalam bullying. Biasanya siswa yang memiliki fisik lebih besar, usia lebih tua, kakak kelas/senior, memiliki kekuatan (beladiri atau kelompok di luar sekolah).
  • Anggota kelompok, terdiri dari seseorang/kelompok siswa yang terlibat aktif dalam bullying, namun ia cenderung bergantung atau mengikuti perintah pemimpin kelompok. Juga mereka yang ada saat kejadian bullying, ikut menonton, menertawakan atau mengejek korban, memprovokasi, dan mengajak siswa lain untuk menonton.
  • Penonton, terdiri dari seorang/beberapa orang siswa yang berusaha membela dan membantu korban, namun sering kali akhirnya mereka menjadi korban juga. Atau mereka yang tahu, namun tidak melakukan apapun, seolah-olah tidak peduli, atau takut untuk melaporkan kejadian tersebut kepada guru atau orang tua.
Menurut Ubaydillah, AN dalam e-psikologi.com, siswa yang mempunyai kecenderungan sebagai pelaku bullying umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  • Suka mendominasi anak lain. 
  • Suka memanfaatkan anak lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
  • Sulit melihat situasi dari titik pandang anak lain. 
  • Hanya peduli pada keinginan dan kesenangannya sendiri, dan tak mau peduli dengan perasaan anak lain.
  • Cenderung melukai anak lain ketika orangtua atau orang dewasa lainnya tidak ada di sekitar mereka.
  • Memandang saudara-saudara atau rekan-rekan yang lebih lemah sebagai sasaran. 
  • Tidak mau bertanggung jawab atas tindakannya.
  • Tidak memiliki pandangan terhadap masa depan atau masa bodoh terhadap akibat dari perbuatannya. 
  • Haus perhatian
Sedangkan siswa yang akan dijadikan atau menjadi korban bullying biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  • Anak baru di lingkungan itu. 
  • Anak termuda atau paling kecil di sekolah. 
  • Anak yang pernah mengalami trauma sehingga sering menghindar karena rasa takut 
  • Anak penurut karena cemas, kurang percaya diri, atau anak yang melakukan sesuatu karena takut dibenci atau ingin menyenangkan 
  • Anak yang perilakunya dianggap mengganggu orang lain. 
  • Anak yang tidak mau berkelahi atau suka mengalah 
  • Anak yang pemalu, menyembunyikan perasaannya, pendiam atau tidak mau menarik perhatian orang lain
  • Anak yang paling miskin atau paling kaya. 
  • Anak yang ras atau etnisnya dipandang rendah 
  • Anak yang orientasi gender atau seksualnya dipandang rendah 
  • Anak yang agamanya dipandang rendah 
  • Anak yang cerdas, berbakat, memiliki kelebihan atau beda dari yang lain 
  • Anak yang merdeka atau liberal, tidak memedulikan status sosial, dan tidak berkompromi dengan norma-norma. 
  • Anak yang siap mendemontrasikan emosinya setiap waktu. 
  • Anak yang gemuk atau kurus, pendek atau jangkung. 
  • Anak yang memakai kawat gigi atau kacamata. 
  • Anak yang berjerawat atau memiliki masalah kondisi kulit lainnya. 
  • nak yang memiliki kecacatan fisik atau keterbelakangan mental 
  • Anak yang berada di tempat yang keliru pada saat yang salah (bernasib buruk)
Lebih lanjut disampaikan bahwa, perilaku school bullying memiliki beragam bentuk dan variasi, yang dapat dikelompokkan menjadi tiga aspek; emosional, verbal, dan fisik. Ragam bentuk itu antara lain:
  • Penyerangan fisik: memukul, menendang, mendorong, dan seterusnya.
  • Penyerangan verbal: mengejek, menyebarkan isu buruk, atau menjuluki sebutan yang jelek, dll.
  • Penyerangan emosi: menyembunyikan peralatan sekolah, memberikan ancaman, menghina, dll.
  • Penyerangan rasial: mengucilkan anak karena ras, agama, kelompok, dll. Penyerangan seksual: meraba, mencium, dan seterusnya.
Thanks for reading Karakteristik dan bentuk-bentuk bullying di sekolah

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Post a Comment