Home » , » Keterampilan mendengarkan aktif dalam konseling

Keterampilan mendengarkan aktif dalam konseling

Dalam sesi konseling yang baik pastilah terjadi dialog yang cair antara konselor dengan konseli, dan ini akan terjadi jika konselor memiliki keterampilan mendengarkan aktif, keterampilan dasar yang harus dikuasi konselor. Mendengarkan aktif (active listening) berbeda dengan mendengar (hearing). Mendengarkan aktif merupakan sebuah proses yang kompleks, melibatkan semua panca indera dan bagian-bagian tubuh lain secara aktif sehingga pesan yang disampaikan menjadi bermakna. Sedangkan mendengar merupakan respon fisiologis saat menerima stimulus yang berupa suara dengan indera pendengar.

Mendengarkan aktif berarti konselor menaruh minat pada persoalan konseli, dan peduli dengan apa yang dipikirkan atau dirasakannya. Konselor menganggap konseli adalah penting dan berharga, tanpa menghakimi atau menilai. Konselor berusaha memahami, memaafkan dan menerima sudut pandang konseli, namun tidak berarti konselor menyetujui pendapat konseli. Mendengarkan aktif akan membantu konselor dan konseli memahami mengenai apa yang terjadi, karena dalam kondisi bermasalah, konseli tidak selalu dapat berfikir jernih.

Mendengarkan aktif dapat meningkatkan hubungan interpersonal antara konselor dengan konseli menjadi lebih rileks, bebas, dan akrab. Mendorong konseli berbicara dengan bebas, meluapkan emosi, menurunkan ketegangan, kemarahan, agresi , frustasi yang dialami tersalurkan. Pada akhirnya akan membuat pikiran konseli menjadi lebih jernih, sehingga dapat memahami dirinya dan persoalan yang dihadapinya dengan lebih baik dan realistik.

Dalam mendengarkan aktif, terjadi tiga proses yang berjalan bersamaan, 1) mengamati, yaitu memperhatikan dengan seksama pesan verbal dan non verbal yang nampak maupun tersembunyi, 2) memahami, yaitu menganalisa dan menerima apa yang dirasakan dan dialami konseli, 3) menanggapi, yaitu memberikan umpan balik secara verbal dan non verbal dengan tepat yang menunjukkan bahwa konselor mendengarkan dengan baik dan memahami “pesan” yang disampaikan konseli. Oleh karena itu, agar konselor dapat mendengarkan aktif maka dibutuhkan keterampilan-keterampilan sebagai berikut :

Mendengar dengan jelas

Jika Anda mendengarkan, sangat penting Anda hanya mendengar. Kesulitan utama konselor adalah ia berfikir ketika mendengarkan, Jika Anda berfikir tentang apa yang Anda katakan, Anda tidak akan tahu dengan tepat apa yang dikatakan orang lain kepada Anda. Sangat penting Anda mendengar tanpa menilai atau menghakimi apa yang dikatakannya dan tanpa berusaha segera mengoreksi apa yang dipikirkannya.

Refleksi

Ketika seseorang berbicara kepada Anda, merefleksi adalah menyimpulkan dan mengulang secara sederhana apa yang dipikirkan dan dirasakan orang itu. Refleksi membantu menjernihkan masalah yang timbul pada kedua belah pihak. Jika Anda salah mengerti terhadap konseli, ia dapat mengoreksi Anda. Jika Anda mengulangi pikiran dan perasaannya, gunakan pernyataan, bukan pertanyaan.

Parafrase

Tanggapan konselor dengan menyatakan kembali isi dari pernyataan konseli yang terakhir. Parafrase memusatkan perhatian pada isi tentang kejadian, orang-orang, esensi kalimat yang digunakan konseli atau kata-kata terakhir konseli. Kadang-kadang cukup mengulang kata-kata konseli, barangkali menekankan pada satu kata tertentu. Seringkali, paraphrase menggunakan kata-kata yang sama yang digunakan konseli, tetapi dengan jumlah perkataan yang lebih sedikit.

Memberi pertanyaan terbuka

Jangan memberi pertanyaan tertutup, yang dapat dijawab dengan “ya” atau “tidak”. Gunakan pertanyaan yang membuat konseli menggali alasan-alasannya berfikir, berperasaan, atau bertindak. Jangan bertanya mengapa? Konseli tidak akan mengerti mengapa, karena jika ia tahu alasannya, tentu ia tidak akan melakukan hal itu. Dengan bertanya mengapa, konseli akan membela diri dan membuat alasan untuk membenarkan tindakannya. Akan tetapi, jika bertanya “apa”, Anda berusaha membuat konseli memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang dilakukannya.

Menggunakan bahasa tubuh

Bagaimana posisi tubuh Anda? Jika Anda sedang melayani konseli, sebaiknya Anda duduk dengan kaki dan lengan tidak menyilang, agak bersandar ke depan, dan mengadakan kontak mata. Hal ini menunjukkan Anda menaruh minat kepada apa yang dikatakan orang lain dan Anda menaruh perhatian kepadanya. Buat posisi Anda rileks dan nyaman, posisi tubuh Anda akan memberikan sugesti pada konseli. Jika Anda kaku maka konseli pun kaku. Jika Anda rileks dan nyaman maka konseli pun akan merasakan rileks dan nyaman.

Kontak mata

Kontak mata yang efektif menunjukkan minat dan keinginan untuk mendengarkan. Hal ini memungkinkan konseli menghargai penerimaan konselor terhadap dirinya dan pesan-pesannya. Hal ini juga menunjukkan bahwa konseli merasa aman bersama Anda. Kontak mata adalah melihat dengan tatapan mata lembut kepada konseli, kadang-kadang berpindah dari wajah ke bagian tubuh lain konseli, tangan, misalnya, kembali ke wajah dan kemudian kontak mata. Kontak mata yang buruk terjadi ketika Anda berulang-ulang membuang muka, melihat dengan melotot, atau membuang muka ketika konseli menatap Anda.

Memperhatikan tanda-tanda non verbal

Perhatikan baik-baik apakah konseli tegang, mengetuk-etuk kakinya, menengok ke sekeliling, membuang muka, dan sebagainya. Kadang bahasa non verbal berbicara lebih lugas dibanding pernyataan yang disampaikan konseli. Buatlah agar konseli menyadari hal itu dan biarkan ia mengetahui apa maknanya bagi perasaannya.

Dalam berbagai kasus, keterampilan konselor dalam mendengar aktif tidak keluar karena berbagai hambatan, diantaranya :
  1. Tidak sabar dan kekurangan waktu, menunjukkan bahwa Anda terburu-buru dan Anda tidak mempunyai waktu baginya.
  2. Secara dini memberi pendapat tentang pribadi konseli dan bagaimana masalah itu dapat diatasi.
  3. Membuat komentar / penilaian, mengkritik, kurang pemahaman / insight, dan menyimpulkan bahwa konseli bersalah.
  4. Tidak sependapat, berdebat, dan memotong pembicaraan.
  5. Memberi nasehat yang menunjukkan bahwa Anda mengetahui jawaban dari masalah konseli.
  6. Memberikan kesan bahwa Anda tidak menanggapi masalahnya secara sungguh-sungguh dengan membuat pernyataan sarkastis / sinis.
  7. Ingin berbicara tentang pengalamannya sendiri daripada mendengarkan.
  8. Bersikap pasif, menunjukkan kesan “saya bosan” atau “saya tidak tertarik”
  9. Ketidakmampuan berkonsentrasi pada permasalahan konseli karena sibuk dengan persoalan sendiri atau memalingkan perhatiannya dari konseli.
  10. Disela / terganggu oleh kehadiran orang lain, kondisi / situasi lingkungan, atau telepon.

Referensi :
Dr. Lydia Harlina Martono, S.K.M. dan dr. Satya Joewana, Sp.K.J. 2006. Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba Berbasis Sekolah Buku Panduan untuk Guru, Konselor, dan Administrator. Jakarta. Balai Pustaka.
Thanks for reading Keterampilan mendengarkan aktif dalam konseling

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Post a Comment