Home » , » Teori Behavioral dalam Bimbingan dan Konseling

Teori Behavioral dalam Bimbingan dan Konseling

Terapi Behavioral dikembangkan oleh Wolpe (1958) untuk treatment neurosis. Neurosis dapat dijelaskan dengan mempelajari perilaku yang tidak adaptif melalui proses belajar. Perilaku yang menyimpang bersumber dari hasil belajar di lingkungan. Teori ini bersandar pada konsep Skinnerian (B.F. Skinner) dan Pavlovian (Ivan Pavlov).

Teori Skinner disebut teori operant conditioning yaitu suatu pendekatan dalam psikologi yang menggunakan unit stimulus respons untuk mempelajari perilaku yang teramati dalam situasi yang terkendali. Perilaku terbentuk dalam wujud ikatan stimulus respons dan sama sekali tidak menghiraukan konstruk internal yang dapat menjelaskan mekanisme yang terjadi dalam diri manusia. Pembentukan perilaku merupakan proses pengkondisian yang dilakukan dalam cara-cara penguatan (reinforcement) hubungan stimulus respons yang dilakukan dalam rentang waktu dan tingkat frekuensi tertentu yang dikonseptualisasikan sebagai jadwal penguatan (schedule of reinforcement).

Teori Pavlov menekankan bahwa reaksi-reaksi emosional menyertai respons individu atas stimulus yang diberikan lingkungan. Model ini digambarkan dalam eksperimen Pavlov tentang hubungan antara makanan yang disajikan, bunyi bel yang dimunculkan bersamaan dengan penyajian makanan, dan keluarnya air liur anjing yang menjadi subjek eksperimen.

Dari kedua teori di atas, perilaku dipandang sebagai respon terhadap stimulus atau rangsangan eksternal dan internal, karena itu tujuan terapi adalah untuk memodifikasi konseksi-koneksi dan metode-metode Stimulus – Respon ( S – R ). Kontribusi terbesar dari konseling behavioral adalah diperkenalkannya metode ilmiah di bidang psikoterapi, yaitu bagaimana memodifikasi perilaku melalui rekayasa lingkungan sehingga terjadi proses belajar untuk perubahan perilaku.

Tujuan konseling behavioral adalah untuk membantu konseli membuang respon-respon lama yang merusak diri, dan mempelajari respon-respon baru yang lebih sehat, sehingga konseli memperoleh perilaku baru, mengeliminasi perilaku yang maladaptif, dan memperkuat serta mempertahanakan perilaku yang diinginkan.

Dalam kegiatan konseling konselor memegang peranan aktif dan langsung bertujuan agar konselor dapat menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menemukan masalah-masalah konseli sehingga diharapkan ada perubahan perilaku yang baru. Konseli harus mampu berpartisipasi, memiliki motivasi untuk berubah, dan mau bekerjasama dalam aktivitas konseling, baik dalam maupun di luar sesi konseling.

Teknik konseling pun disesuaikan dengan kebutuhan individual konseli. Tidak ada satu teknik yang harus selalu digunakan, yang ada adalah mempertimbangkan teknik-teknik lain secara alternatif, mengeliminasi teknik yang kurang baik dan diganti dengan teknik yang baru, guna tercapainya tujuan konseling, yaitu perubahan perilaku konseli.

Berikut beberapa teknik konseling behavioral, (1) Systematic desensitization, (2) Assertive training, (3) Aversion therapy, dan (4) Home-work.

Baca:  Aversion therapy....
Thanks for reading Teori Behavioral dalam Bimbingan dan Konseling

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Post a Comment