Home » , » Keterampilan memberikan dukungan dalam konseling

Keterampilan memberikan dukungan dalam konseling

Secara umum, ketika konseli datang kepada konselor karena adanya suatu masalah, baik dengan pikiran, perasaan, dan perilaku yang terjadi pada dirinya. Konseli datang karena tidak tahu apa yang harus dilakukan atau dikatakan, ketidakmampuan dirinya dalam mengatasi masalah tersebut, dan / atau, konseli merasa tidak yakin akan dapat mengelolanya. Oleh karena itu konseli membutuhkan dukungan untuk membantu mengurangi tekanan dan membangun ketahanan psikologisnya.

Dukungan yang diberikan konselor harus fokus pada kekuatan-kekuatan yang dimiliki konseli, menumbuhkan rasa harga diri dan keyakinan pada dirinya sendiri. Tujuannya, agar konseli lebih kuat dan mandiri dalam menghadapi masalahnya, dan menghindari ketergantungan konseli terhadap konselor. Olehkarenanya, seorang konselor harus memiliki keterampilan memberikan dukungan agar proses konseling berlangsung efektif.

Keterampilan memberikan dukungan adalah kemampuan konselor dalam memberikan penghargaan positif dan penguatan terhadap konseli. Keterampilan yang digunakan untuk mengurangi kecemasan pada orang lain dalam situasi tertentu. Situasi ketika konseli tidak tahu apa yang harus dilakukan dan / atau dikatakan. Konselor memberikan pemahaman, keyakinan, bahwa konseli dapat membuat perubahan, meskipun konselor tidak tahu arah perubahan yang akan terjadi. Fokus dukungan merupakan umpan balik positif pada upaya perbaikan dibandingkan dengan hasil.

Kapan dukungan diberikan pada konseli ? ada tiga situasi yang memungkinkan konselor memberikan dukungan, yaitu; (1) ketika konseli menyatakan bahwa dia akan melakukan suatu rencana tindakan yang positif, (2) konseli berhasil mengatasi masalah, (3) konseli mengalami musibah. Dukungan dapat dilakukan dengan memberikan penguatan, (1) penguatan non-verbal, maupun, (2) penguatan verbal.

Penguatan non-verbal, misalnya; (1) memelihara kontak mata, (2) mengatur posisi badan dengan memberikan perhatian pada konseli, (3) memberikan gerak isyarat yang tepat dan sesuai kondisi konseli, (4) memberikan anggukan kepala atau memberikan senyuman.

Penguatan verbal, menanggapi pembicaraan dengan rangsangan verbal, seperti; (1) pemberian reaksi dengan, “hm…”, “mm…”, “oh.. ya…”, (2) menyatakan kembali isi pembicaraan secara sederhana dengan penggunaan kata yang singkat, (3) mengulangi satu atau dua kata kunci dari konseli.

Dalam proses konseling, respon memberikan dukungan pada konseli dapat mengurangi kecemasan dan mengekspresikan keyakinan. Contoh dialog konseling, “jangan khawatir, orang lain telah berhasil, begitu juga Anda”, “saya rasa Anda dapatmelakukannya”. Keterampilan memberikan dukungan dapat juga diungkapkan melalui pemahaman, klarifikasi atau memberikan informasi , ungkapan simpati. Contoh dialog konseling, konselor bukannya menggunakan ungkapan, “Anda akan mengelola”, tapi dengan ungkapan, “Anda telah menangani situasi ini sebelumnya”. “Saya memiliki keyakinan dalam diri kamu”, “Santai saja dan gunakan penilaian terbaik Anda”, “Lakukan apa yang Anda rasa tepat bagi Anda”.

Referensi
Rosita E. Kusmaryani, Rita Eka Izzati, Agus Triyanto. 2010. Modul Keterampilan Konseling. Yogyakarta. Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Negeri Yogyakarta.
Thanks for reading Keterampilan memberikan dukungan dalam konseling

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Post a Comment