Diagnosis Masalah Model A-B-C dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah

Diagnosis model A-B-C merupakan akronim dari Antecedent (peristiwa yang mendahului), Behavior (Perilaku yang mengikuti), dan Consequence (konsekuensi yang mengikuti).

Model diagnosis ini seringkali dipergunakan dalam pendekatan konseling behaviorisme (pendekatan perilaku), sebab pendekatan ini lebih memfokuskan pada perilaku individu.

Antecedent (A)

Perilaku menyimpang yang dimiliki oleh seseorang seringkali bersifat situasional. Sebagai contoh, seorang anak terbiasa menggosok gigi pada saat saat bangun tidur dan akan tidur. Pada suatu saat, dia diharuskan untuk menggosok gigi pada waktu dan tempat yang berbeda. Kejadian ini secara tidak disadari dapat memunculkan perilaku seperti ingin muntah, kikuk dan lain sebagainya.

Selain itu juga dapat memunculkan reaksi-reaksi fisiologis seperti gemetar, tekanan darah naik, mata merah dan lain sebagainya. Antecedent biasanya menyangkut lebih dari satu sumber atau tipe kejadian.

Sumber antecedent dapat berupa afeksi (perasaan/emosi), somatis (keadaan fisik dan sensasi yang berhubungan dengan tubuh), perilaku (verbal, nonverbal dan respon motorik), kognitif (pemikiran, keyakinan, bayangan, dialog internal), konstektual (waktu, tempat, kejadian tertentu) dan relasional (kehadiran atau ketidakhadiran seseorang).

Tidak semua sumber atau kejadian dapat dikatagorikan sebagai antecedent. Katagori antecedent adalah segala sesuatu yang mempengaruhi perilaku secara langsung. Artinya perilaku yang muncul pada saat ini dilakukan sebagai upaya merespon secara langsung terhadap kejadian atau sumber tertentu. Jika tidak mempengaruhi secara langsung, maka hal ini tidak dapat dikatagorikan sebagai antecedent.

Behavior (B)

Perilaku manusia dibedakan menjadi dua yaitu, perilaku yang tampak (overt), dan perilaku tidak tampak (covert).

Perilaku tampak adalah perilaku yang secara langsung dapat diamati oleh orang-orang di sekeliling kita. Contoh perilaku ini antara lain makan, minum, menari, berteriak, berbicara, memukul meja, memeluk dan lain sebagainya.

Perilaku tidak tampak adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam diri kita (internal) yang sulit diamati dari luar. Contoh perilaku ini antara lain berpikir, merasa sedih, berkeyakinan, berkhayal dan lain sebagainya.

Perilaku individu yang bermasalah tidak bisa dipandang dari satu sisi perilaku saja. Tetapi permasalahan tersebut dapat muncul karena banyak komponen yang terdapat dalam dirinya.

Komponen tersebut antara lain komponen afektif (suasana hati), komponen kognitif (pikiran) dan komponen motorik (perilaku). Bisa jadi, perilaku yang tampak dianggap sebagai sumber masalah, tetapi sebenarnya masalah itu adalah pada perilaku yang tidak tampak.

Usaha membantu memecahkan masalah individu dituntut kejelian didalam memahami permasalahan individu. Kejelian didalam menangkap komponen mana yang mempengaruhi individu akan berpengaruh terhadap strategi pemecahan masalah apa yang akan diberikan.

Consequence (C)

Konsekuensi suatu perilaku adalah kejadian yang mengikuti perilaku atau secara fungsional dihubungkan dengan perilaku. Konsekuensi dapat dikatagorikan sebagai sesuatu yang positif dan negatif.

Konsekuensi positif mengarah pada suatu reward atau reinforcement. Konsekuensi ini dapat menjaga atau malah meningkatkan perilaku yang telah terjadi.

Sebagai contoh, seorang anak dapat menulis huruf A-H dengan baik dan benar. Secara langsung dia mendapatkan reinforcement dari guru dengan ungkapan “baik”. Maka ungkapan “baik” ini merupakan konsekuensi positif bagi anak. Dengan demikian, perilaku anak menulis dengan baik dan benar huruf A-H tersebut dapat dipertahankan atau malah meningkat.

Konsekuensi negatif dapat mengurangi atau menghilangkan perilaku tertentu yang tidak diinginkan. Perilaku yang tidak diinginkan akan menurun jika terus menerus diikuti dengan stimulus atau kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan.

Pemberian konsekuensi negatif ini seringkali diberikan untuk merubah perilaku seseorang secara langsung. Hal ini seringkali dilakukan di sekolah. Wujud nyata dari pemberian konsekuensi negatif ini adalah dengan pemberian hukuman kepada individu.

Hanya saja, Konselor sekolah perlu mempertimbangkan kembali terhadap efek jangka panjang yang akan diterima oleh individu di sekolah. Sebab, pemberian konsekuensi negatif ini tidak jarang pula justru menambah daftar masalah yang dialami oleh individu.

Konsekuensi juga meliputi beberapa sumber atau tipe kejadian. Hal ini sama dengan antecedent yang meliputi afektif, kognitif, konstektual dan relasional.

Pada saat memecahkan masalah, Konselor sekolah perlu mengadakan identifikasi tentang konsekuensi-konsekuensi apa yang dapat mempertahankan, meningkatkan atau bahkan melemahkan perilaku individu. Informasi tentang konsekuensi ini pada akhirnya akan membantu Konselor sekolah untuk memberikan strategi intervensi.

Penulis : Boy Soedarmadji, S.Pd., M.Pd., CH., CHt